Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 119 - Kota Servo


__ADS_3

"Aku akan langsung mengatakannya padamu, tentang apa yang tidak aku suka," ucap Liam, Setelah dia menarik sang istri untuk meninggalkan kekacauan di ruang tengah tersebut.


Mereka berdua masuk ke dalam lift siap menuju lantai 3 di mana kamar utama mansion ini berada.


Rilly cukup terkejut, dia hanya mampu melirik Liam dengan kedua matanya yang nampak bingung.


"Aku tidak mau kamu terlibat kontak fisik dengan pria manapun, termasuk seluruh anggota Black Venom," ucap Liam. Pintu lift telah tertutup dan dia langsung menatap sang istri dengan tatapan lekat.


"Jangan menatap pria lain lebih dari 2 detik, paham?" tanya Liam.


Rilly sungguh terkejut, tak menyangka Liam akan seposesif ini. Tidak seperti dulu, saat pria ini melemparkannya ke dalam pelukan Zeon dengan begitu santai.


"Paham tidak?" tanya Liam sekali lagi, karena Rilly hanya diam. Sementara dia sudah bicara dengan sangat serius.


"Baik lah, tapi itu juga berlaku untuk mu. Jangan ada kontak fisik dengan wanita manapun dan jangan menatap wanita lain lebih dari 1 detik," balas Rilly lebih parah.


Liam sampai terkekeh, dia memberi syarat 2 detik dan kini Rilly justru hanya memberinya 1 detik.


"Baiklah, sepakat," balas Liam, dia langsung menarik pinggang sang istri dengan kasar dan didekapnya erat. Lalu, mencium dengan begitu dalam memulai malam mereka yang panas.

__ADS_1


Liam selalu memainkan lidahnya tanpa ampun, sampai Rilly selalu merasa kehabisan udara.


Tapi anehnya dia tidak sesak, justru candu.


2 minggu kemudian.


Liam dan Rilly akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota Servo, kakek Agung dan oma Putri pun akan ikut.


Mereka tidak ingin menunda terlalu lama untuk mengunjungi makam seluruh keluarga Liam. Jika sudah berkunjung nanti, barulah rasanya lega.


Seolah lengkap sudah kebahagiaan atas pernikahan kedua orang itu.


"Oma, pakai jaket mu dengan benar," ucap Rilly, saat ini di kota Servo tengah musim salju, hawa di sana begitu dingin.


"Iya sayang," balas oma Putri pula.


Mereka lantas segera keluar dari Bandara, menggunakan mobil yang telah di sewa oleh Liam mereka semua segera menuju hotel tempat tujuan. Rencananya mereka hanya akan berada di kota ini selama 3-4 hari sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.


Di Hotel itu, Liam, Rilly, oma Putri dan kakek Agung berada di satu kamar VIP, sementara Frans dan Dansel tidak menginap di hotel. Mereka akan pergi ke rumah Zena, esok hari saat Liam dan yang lain mendatangi tempat pemakaman, mereka akan pergi ke rumah sakit untuk melihat Zeon.

__ADS_1


Memastikan bagaimana keadaan pria itu saat ini, entah sampai kapan Zeon akan menghabiskan uang mereka untuk biaya pengobatan.


Oma Putri tersenyum saat melihat Liam sedang sibuk mengatur suhu hangat di kamarnya dan kakek Agung.


"Oke cukup, sekarang waktunya kira semua istirahat," ucap Liam setelah tugasnya mengatur suhu selesai, bicara penuh semangat dan senyum yang terukir lebar.


Membuat oma Putri jadi merasa semakin sayang.


"Ya sudah, kalian juga tidur sana," balas oma Putri.


Rilly dan Liam mengangguk bersamaan, lalu setelahnya keluar dari kamar oma Putri itu dan menuju kamar mereka sendiri.


Di saat oma Putri dan kakek Agung langsung tidur, Liam dan Rilly justru bergulat syahdu.


Berbagi dessah diantara salju yang turun perlahan di luar sana, menyelimuti kota Servo yang memiliki banyak kenangan.


"Masih terasa dingin?" tanya Liam.


"No Honeyh, inih panash," jawab Rilly penuh dessah.

__ADS_1


__ADS_2