
Serge tiba di mansion sekitar jak setengah 10 malam, badannya sudah basah kuyup dan makin dingin saat dia harus menggunakan AC di dalam mobil.
Dengan tubuhnya yang mengigil itu, Serge segera masuk ke dalam mansion.
Di sambut oleh beberapa anggota Black Venom yang masih berjaga.
Selama seminggu ini mereka memang berjaga secara bergilir selam 24 jam, mereka harus siaga menjaga baby Jason dan baby Ava.
"Astaga Serge, kenapa tubuh mu basah kuyup?" kata Jimmy, dia ada juga di sana. Lantas menatap aneh pada Serge yang pulang dengan tubuh basah semua seperti itu.
Meski di luar sana hujan harusnya Serge tidak mungkin kebasahan, karena pria itu pergi menggunakan mobil.
Apa iy malam-malam begini, Serge hujan-hujanan?
Jimmy sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ceritanya panjang, ini susunya, cepat berikan pada oma Putri," balas Serge pula, dia menyerahkan kantung berisi beberapa botol Asi milik Rilly, Jimmy menerima itu lalu pergi dari sana.
"Ini ada obat penambah stamina, berikan pada semua anggota. Sisanya letakkan saja di meja dapur, aku ke kamar dulu," kata Serge lagi pada anggota yang lain.
Seseorang yang dia ajak bicara menganggukkan kepala patuh.
Dan dengan segera Serge pun menuju kamarnya.
__ADS_1
Untung lah malam ini bukan jatahnya jaga, jadi dia bisa tidur dengan pulas setelah meminum obat penambah stamina.
Pagi hari.
Mansion ini ramai sekali, seperti satu kampung tinggal dalam 1 rumah. Semua anggota Black Venom dan seluruh keluarga besar Aditama.
Dan makin berisik saat baby Jason, baby Ava dan baby Gerald menangis bersamaan.
"Ya Allah," gumam oma Putri seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.
Kadang masih tidak menyangka anak perempuannya dikelilingi oleh para pria berbadan kekar ini. Jika dilihat secara kasat mata mereka semua memang sangat mengerikan, tapi sebenarnya semua anggota Black Venom memiliki hati yang tulus.
Tapi bagi oma Putri dia tetap saja stres melihat banyaknya pria tersebut, seolah anaknya jadi ada puluhan.
Sementara Mas Ryan dan mas Reza sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, justru ingin segera membawa istri-istri mereka keluar dari mansion ini.
Terlalu banyak pria berotot yang membuat mereka tak suka, pasalnya istri-istri mereka kadang saling berbisik membicarakan apa entah, seolah kagum dengan semua karyawan restoran tersebut.
"Oma, baby Jason dan baby Ava sudah banyak yang menjaga di sini, aku dan Ajeng pulang dulu ya, baby Gerald juga nangis terus," pamit mas Reza.
Oma Putri mengangguk setuju, lagi pula sebentar lagi Rilly dan Liam pulang dari rumah sakit.
Semuanya akan aman terkendali.
__ADS_1
"Ryan dan Alika juga pulang saja, oma dan kakek mungkin besok pagi," jawab oma Putri kemudian.
Semua mengangguk setuju.
Selesai sarapan dan bayi-bayi tidur, oma Putri berkeliling mansion ini. Layaknya seorang mertua yang mengamati rumah menantunya.
Tiap sudut ternyata sangat bersih, isi lemari pendingin juga rapi dan penuh dengan banyak makanan.
Semua laki-laki di sini juga bisa masak dan saling memperhatikan satu sama lain.
Citra Mafia yang selama ini melekat di benak oma Putri mulai berangsur hilang, kini benar-benar menganggap mereka adalah sebuah keluarga yang solid.
"Riko, kakek Agung dimana?" tanya oma Putri.
Puas berkeliling baru sadar jika suaminya itu tidak ada.
"Kakek Agung di ruang menembak oma, dari tadi tidak keluar-keluar," jelas Riko apa adanya.
Sampai membuat oma Putri beristighfar, Astaghfirullahaladzim.
Anak-anak ini sudah berubah jadi lebih baik, malah sekarang kakek Agung yang mendalami jadi mafia. Pakai belajar menembak segala.
"Ya ampun!" kesal oma Putri.
__ADS_1