
Liam masih saja merasa pahit di dalam mulutnya meski dia sudah meminum penawar. Kata Oma Putri setelah Dia meminum penawar manis itu maka pahitnya tidak akan terasa lagi, tapi ternyata itu hanya bohong semata.
Hingga dia kembali ke dalam kamarnya rasa pahit itu masih jelas tertinggal di mulut.
Sampai Liam terlihat seperti seorang wanita yang tengah hamil muda, karena berulang kali berlagak seperti mau muntah.
Huwek!
"Jika seperti ini rasanya aku ingin cepat-cepat kembali Mansion," gerutu pria berbadan kekar tersebut.
"Letakkan makanan itu di meja, setelah itu keluarlah," titah Liam kepada seorang pelayan yang membawakan makanan untuk dia dan Rilly.
Dan setelah mengatakan perintah itu Liam pun segera menuju kamar mandi ingin melihat Apa yang sedang dilakukan oleh sang istri saat ini. Yang jelas pikir Liam Rilly pasti belum selesai, karena nampaknya Rilly butuh waktu lebih banyak untuk berendam di dalam air hangat itu guna mengembalikan kesegaran tubuhnya.
Dan benar saja, ketika Liam sudah masuk ke dalam sana dilihat olehnya Rilly yang sedang menggosok tubuh, sekarang sudah banyak busa di dalam bathtub tersebut.
"Butuh bantuan?" tanya Liam, dia sungguh-sungguh.
"Tidak, aku bisa sendiri. Kenapa lama sekali?" tanya Rilly pula, karena sebenarnya Ia pun menunggu kembalinya sang suami.
"Huwek!" Liam malah berlagak muntah, hingga membuat Rilly sampai sampai berkerut dahinya.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Rilly, dia mulai cemas.
"Oma memintaku untuk minum racun, rasanya pahit sekali." Adu Liam dengan lidah yang menjulur merasa pahit.
__ADS_1
"Racun?"
"Jamu," tegas Liam.
"Astaga, ku kira apa!" Rilly yang kesal reflek memercikkan air ke arah Liam.
"Hya! kamu memancing ku?!" tanya Liam dengan suaranya yang berat.
"Tidak!" balas Rilly pula, membentak.
Tiap pembicaraan yang tercipta di antara mereka berdua tak pernah terdengar lembut. Seperti sepasang suami istri yang selalu marah-marah, padahal seperti itu.
tapi mereka yang apa adanya.
Liam tidak peduli dengan jawaban tidak sang istri. Pria itu tiba-tiba melepaskan bajunya yang basah dan membuangnya ke sembarang arah bahkan sampai jatuh ke lantai.
"Mas," balas Liam dengan bibir tersenyum miring.
"Terserah lah, sana keluar."
"Sstt, diam, biar ku gosok punggung mu," balas Liam, dia pun duduk di belakang punggung sang istri dan mulai menggosok punggung itu menggunakan spon.
Gosokan Liam terasa seperti pijatan baginya, hingga membuat Rilly merasa begitu nyaman sampai-sampai wanita itu ingin memejamkan matanya dan kembali tidur.
"Ini terlalu nyaman," kata Rilly.
__ADS_1
"Ayo pijat aku di ranjang," tambah wanita itu.
Liam terkekeh, "Kemarin saat di tempat spa tidak ingin aku pijat, kanapa sekarang malah minta," ledek Liam.
Rilly tidak bisa menjawab, dia hanya mendengus kesal.
"Honey," panggil Liam tiba-tiba.
"Kenapa memanggil ku seperti itu? hah?" tanya Rilly ketus, bahkan menatap tajam saat dia menoleh ke belakang.
"Jamu oma Putri mulai bereaksi, bagaimana ini?" tanya Liam pula, kedua tangan yang sejak tadi fokus menggosok punggung Rilly kini telah berpindah kedua tempat, satu di dua dadda sintal itu dan satunya lagi di lembah bawah sana.
Rilly sontak mengigit bibir bawahnya kuat.
"Tapi aku tidak punya tenaga, tubuhku lemas, perutku lapar," balas Rilly, fakta.
Liam langsung memeluk erat tubuh istrinya itu seraya merengek.
"Ahkk, kalau begitu cepat mandinya. Minum jamu oma mu itu," balas Liam.
Rilly terkekeh, "Dia Oma mu juga." balas Rilly.
"Aku tidak mau, dia hanya oma mu."
"Oma mu," jawab Rilly.
__ADS_1
"Oma mu!" balas Liam.
Terus seperti itu, tak ada yang mau mengakui oma Putri gara-gara Jamu.