
Tak sampai 20 menit Sarah sudah kembali dengan sebuah tray sebagai alas mangkuk berisikan sup sayur dengan garam yang ia masukkan hanya secuil saja, Sarah pernah merasakan hal itu saat ia mengandung Laura dan Sarah cukup yakin jika Arabella tengah hamil melihat hanya cairan yang dikeluarkan Arabella.
"Maaf merepotkan mu Sarah." Suara Arabella memecahkan pikiran Sarah, ia tersenyum kearah Arabella dan menaruh mangkuk tersebut di samping gelas.
"Ini memang sudah tugas ku Nona," jawab Sarah begitu ramah.
Arabella memejamkan matanya kuat saat ia berusaha untuk bangkit dari tepi ranjang, tubuhnya terlalu lemas saat memuntahkan cairan tadi, ia memaksakan diri untuk berdiri dan menangkap bayangan Sarah yang mendekatinya. "Nona, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sarah. Suara Sarah bagaikan segelintir angin yang melewatinya, tidak terlalu jelas dan hanya seperti bisikan halus, saat ia merasakan Sarah memegang bahunya, kegelapan seakan menyelimuti pandangannya.
\~
__ADS_1
Arabella mengerjapkan matanya beberapa kali, kini tubuhnya terbaring dengan dua orang yang mengelilinginya. Matanya masih terasa cukup berat dan terasa lebih silau dalam cahaya yang ada dikamar ini.
"Nona, kau sudah siuman? Dokter Melly sudah memeriksa mu tadi, apa kau ingin minum?" Tanya Sarah yang tampak begitu panik, Arabella memijat pelan kepalanya yang masih terasa pening.
Sang Dokter wanita bernama Melly itu dengan sigap membantu Arabella ketika hendak bangun dari tidurnya, membantu Arabella untuk bersandar pada kepala ranjang. Ia kembali memeriksa keadaan Arabella dan mengajukan beberapa pertanyaan yang dijawab cepat oleh Arabella. “Mendengar keluhan mu aku rasa itu bukan sekedar sakit biasa, tapi mari kita coba memeriksanya terlebih dahulu dengan alat ini.” Melly mengeluarkan sebuah benda kecil yang masih terbungkus rapi dalam sebuah box berukuran kecil.
“Hanya memastikan Nona, kau baik-baik saja, hanya kekurangan vitamin dan rasa mual yang kau rasakan memang sering terjadi pada wanita hamil,” ucap Melly dengan lembut, membuat Arabella tak bisa lagi untuk menolak, pada akhirnya ia berjalan kearah kamar mandi dengan sebuah gelas plastik kecil ditangannya.
Arabella menarik nafasnya dalam ketika sudah menutup pintu kamar mandi, menatap sekali lagi benda tipis yang ada ditangannya. Jantungnya berdebat tak menentu, bukankah selama ini Axton dan dirinya menggunakan pengaman ketika berhubungan? Lalu bagaimana reaksi Axton jika ia benar-benar hamil? Apakah Axton akan menerimanya?
__ADS_1
Arabella menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mungkin hamil bukan? ini hanya efek lelah yang timbul karena rasa jenuh yang terkadang Arabella rasakan. Dengan perlahan ia pun mengikuti arahan yang sempat Melly katakan, tangannya cukup bergetar ketika memasukkan benda tersebut kedalam gelas plastik bening.
Dengan cepat Arabella keluar dari dalam kamar mandi, ia menaruh gelas pastik tersebut diatas meja dan Melly tampak mulai memperhatikan perubahan warna yang samar itu berjalar naik. “Bagaimana?” Tanya Arabella gugup, ia menggigit keras bibir bagian bawahnya, ia tak mengerti dengan alat test kehamilan, ini pertama kalinya ia menggunakan alat tersebut.
Tak lama, Melly tersenyum dan menoleh kearah Arabella. “Dua garis, 99% kau memang hamil,” ucap Sarah kemudian, membuat Arabella terdiam dengan tatapan tak menyangka. Arabella merasakan dirinya tak karuan dan semua ini seperti sebuah mimpi.
\~
Like dong…
__ADS_1