Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 126 - Cara Yang Terakhir


__ADS_3

Di Servo.


Siang itu Rilly dan Liam masih bersikap seperti biasa, seolah tak ada masalah besar yang akan mereka hadapi. Masih makan siang bersama dengan oma Putri dan kakek Agung, juga mendatangi pusat perbelanjaan dan membeli beberapa oleh-oleh untuk Sean dan yang lainnya.


Menjelang sore semuanya kembali ke Hotel.


"Oma, malam ini aku dan Liam ingin menghabiskan waktu berdua, boleh ya? kami akan keluar," ucap Rilly, pamit sejak sore karena sebenarnya banyak hal yang harus mereka persiapkan.


Mendengar izin sang anak oma Putri terkekeh, lantas mengangguk setuju.


"Baiklah, kalian habiskan waktu sebanyak mungkin, setelah puas baru kita pulang. Cuaca di sini begitu dingin, oma dan kakek akan tetap berada di hotel," jawab oma Putri, dia bahkan memeluk tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan.


Umur yang semakin tua membuatnya tak betah berlama-lama dengan cuaca dingin tersebut.


Rilly dan Liam lantas saling pandang, sama-sama lega saat mendengarnya.


Setelah memastikan oma Putri dan kakek Agung beristirahat, akhirnya sepasang suami istri itu pun pergi.

__ADS_1


Mereka mendatangi markas Black Venom yang telah lama tak di huni, debu tebal menghiasi tiap sudut ruangan.


Dan dari sebanyak ruangan itu mereka hanya membersihkan ruangan Liam.


Di sana Liam pun membuka ruangan rahasia yang dia punya, sebuah ruangan yang tersembunyi di bawah meja kerja. Ruang bawah tanah berupa lab tersembunyi tempat dia menciptakan alat dan parfum untuk misi.


Rilly bahkan tercengang, karena selama ini pun dia tidak pernah mengetahuinya.


Rilly duduk si salah satu kursi dan melihat Liam mulai beraksi, membuat topeng magic yang akan dia gunakan nanti. Bukan wajah Airish, bukan pula wajah milik siapapun, semuanya hanya berasal dari pikiran Liam.


Dan saat melihat Liam seperti itu, Rilly seperti melihat Liam yang dulu. Liam yang pertama kali dia temui.


Sementara itu di tempat lain.


Dengan dadda terbuka Zeon diikat disebuah kursi dan duduk di luar ruangan. Menikmati tersiksanya cuaca dingin ini. Bahkan diatas kepalanya telah penuh dengan salju.


Dragon menghampiri dengan tatapan bengisnya. Pria berbadan kekar itu berdiri tepat di hadapan tubuh Zeon yang sudah lemas.

__ADS_1


Sudah lebih dari 10 jam setelah dia menculik pria badjingan ini, tapi Zeon tetap bungkam tentang rahasia harta karun Darkness dan dan password sistem mereka.


Padahal tubuh pria itu sudah penuh dengan luka hasil siksaanya.


Bugh! tampa belas kasih, Dragon kembali memukul wajah Zaon. Sampai salju di atas kepala Zeon jatuh berserak.


Para anak buah Dragon yang melihat adegan itu pun tertawa, hanya tinggal menunggu waktu kekuatan mereka akan bertambah semakin besar.


Cuh! Zeon meludahkan darrah yang terkumpul di dalam mulutnya.


"Katakan, dimana semua harta itu kau simpan?" tanya Dragon.


Zeon tak punya cukup kekuatan meski hanya untuk menjawab, dia hanya bisa menunjukkan senyum miring.


Namun senyum itu sudah mengartikan semuanya, bahwa sampai kapan pun Dragon tak akan bisa mendapatkan apa yang dia mau.


"Baik lah, sepertinya aku harus menggunakan cara yang terakhir. Ku lihat adik mu itu sangat cantik, akan sangat menyenangkan ketika menggunakan dia di cuaca seperti ini," ucap Dragon, lalu tertawa kuat.

__ADS_1


Sementara senyum miring Zeon, seketika lenyap.


__ADS_2