Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 157 - Jalan Terbuka


__ADS_3

"Aku akan melakukannya secara perlahan," ucap Liam.


Kini sepasang suami istri itu telah sama-sama berada di atas ranjang, Rilly sudah tertidur dengan posisi miring ke kanan, Sementara Liam bertengger di belakang sana.


Belum apa-apa Rilly sudah menggigit bibir bawahnya, merasakan sesuatu yang hendak memasukinya secara sempurna.


Akh! pekik Rilly saat benda itu akhirnya tenggelam dengan sempurna.


Sementara Liam justru tersenyum, Rilly nampak begitu seksi. Ukuran daddanya pun lebih besar dari pada beberapa bulan lalu.


Dengan gerakan perlahan akhirnya Liam mulai bergerak, membuat jalan yang telah dianjurkan oleh dokter mereka.


"Apa sakit?" tanya Liam.


Rilly menggeleng pelan.


"Enak," ucapnya malu-malu. Meski kadang tak percaya diri dengan tubuhnya, namun Rilly sangat menyukai sentuhan seperti ini. Dia selalu suka tiap Liam menguasainya.


Di awal-awal Rilly menahan semua suara, namun saat gelombang itu nyaris tiba dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Sampai dessah itu keluar tanpa jeda, ah ah ah, terus seperti itu dan berakhir dengan dessah yang panjang.


Liam seperti di tarik dan diremmat dengan begitu nikmat, sampai denyut di inti sang istri bisa dia rasakan juga.


Liam lantas menunduk dan mencium bibir sang istri, lehernya, daddanya dan seluruh tubuhnya. Sentuhan intim yang membuat Rilly makin bahagia.


Sekitar 1 jam mereka memadu kasih, sampai Liam menumpahkan semua hasratnya di dalam sana barulah permainan itu berakhir.

__ADS_1


"Kata Oma, setelah kamu melahirkan aku tidak boleh menyentuh mu selama 40 hari, apa benar seperti itu?" tanya Liam. Dia pikir Oma Putri hanya menakut-nakutinya saja.


"Iya benar Mas," jawab Rilly dengan bibir mengulum senyum.


"Astaga, itu lama sekali." protes Liam.


Rilly terkekeh.


"Tidak boleh berhubungan badan, bukan tidak boleh menyentuh," jelas Rilly, tangan nakalnya kembali membelai milik sang suami. Hingga Liam memejamkan mata dan menikmati intinya yang kembali tegang.


Banyak cara mereka saling memuaskan tanpa penyatuan.


"Kamu menggoda ku Ril," ucap Liam, seringai licik mulai muncul di wajahnya.


Rilly terkekeh dan menyilangkan kedua tangan di depan dadda, seolah tak ingin diterkam.


Ough! lenguh Rilly, makin menggelinjang tubuhnya saat Liam bermain kasar.


Tapi kemudian Rilly justru merasakan perutnya yang nyeri.


"Awh! Mas!" pekik Rilly.


Liam buru-buru keluar dan melihat istrinya yang kesakitan.


"Ril, ada yang sakit?" tanya Liam cemas.


"Tadi iya, tapi sekarang tidak lagi." jawab Rilly jujur.

__ADS_1


"Jangan bohong."


"Iya, tadi sakit sedikit, sekarang tidak lagi."


"Kita sudahi saja ini, aku akan memakaikan mu baju."


"Aaa, tapi aku masih mau." Malah Rilly pula yang merengek.


"Benar tidak apa-apa?"


"Iya!" balas Rilly yakin.


Dengan hati-hati Liam pun kembali hendak menenggelamkan senjatanya di bawah sana, namun saat masih saling berhadapan tiba-tiba Rilly mengeluh sakit lagi.


"Aduh!" ucapnya tanpa sadar.


"Ini namanya kontraksi Ril, kamu mau melahirkan. kita akan kembali ke rumah sakit sekarang juga," putus Liam. Dia baru saja membuka jalan, dan kini ternyata jalan itu langsung berhasil.


Rilly tak bisa membantah lagi, dia akhirnya menurut saat Liam kembali memasangkannya baju. Rasa sakit itu terus datang tiap 10 menit sekali.


"Frans!" pekik Liam.


Frans yang dipanggil langsung berlari menuju kamar sang tuan.


"Rilly akan segera melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang. Perintahkan Riko untuk memberi kabar pada semua orang."


"Baik Tuan!" jawab Frans patuh.

__ADS_1


__ADS_2