Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Menuruti semua keinginan istri


__ADS_3

Axton menatap tak percaya kearah Arabella, matanya membulat sempurna dan dengan cepat Axton menggelengkan kepalanya, ia memasukkan kembali apron itu ke dalam kotak semula dan memberikannya pada Arabella. "Mungkin akan lebih cantik jika kau yang mengenakannya sayang," ujar Axton sambil mencoba tersenyum, Arabella mungkin hanya sedang mengerjainya, mengingat sang istri yang selalu bertingkah aneh beberapa bulan ini.


Arabella menggelengkan kepalanya, ia menatap Axton penuh memohon. "Ayolah, aku sudah membuatkan ini untuk mu, bahkan aku sendiri yang menjahit tulisan yang ada apron," jelas Arabella.


Namun Axton tetap pada pendiriannya, ia tidak bisa menghancurkan image nya sebagai seorang mafia dengan menggunakan sebuah apron berwarna pink, apa lagi sampai memasak. "Tapi aku tetap tak bisa memasak sayang, apron ini tetap tidak berguna jika aku yang mengenakannya," ujar Axton, tetapi kata-katanya membuat Arabella sedih dan hal itu membuat Axton menjadi tak tega. Ia pun menggenggam tangan Arabella dengan lembut. “Baiklah, mari kita masak bersama, tapi aku akan membeli sendiri apron warna hitam dan apron pink ini untuk mu, bagaimana?”


“Kau benar-benar tak ingin menggunakan apron yang aku buat khusus untuk mu?” Lirih Arabella.


Axton menghembuskan napasnya lelah, “Baiklah, aku akan mengenakkan apron itu sore ini,” jawab Axton tak bersemangat, Arabella yang mendengar itu dengan cepat menoleh kearah Axton dan memeluk suaminya dengan begitu erat.


“Terima kasih sayang, biar aku yang menyiapkan bahan-bahan untuk kita memasak sore nanti,” ucap Arabella senang.

__ADS_1


Axton hanya tersenyum masam dan tak menjawab apapun, “Sebelum sore tiba bagaimana jika aku melihat mu melukis?” Usul Axton yang langsung di angguki dengan cepat oleh Arabella.


Arabella pun berjalan terlebih dahulu menuju lantai atas, ruangan dimana ia biasa melukis, sedangkan Axton mulai bangun dari duduknya dan mencari keberadaan Sarah.


“Sarah, aku ingin sore nanti semua pelayan tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah utama ini sampai waktu yang aku tentukan nanti,” ucap Axton saat berhasil menghentikan Sarah.


Terlihat jelas wajah Sarah yang kebingungan, “Apa ada sesuatu Tuan? Apa ada salah satu dari kami yang melakukan kesalahan?” Tanya Sarah sedikit panik, ini adalah hal yang tidak biasa, Axton tiba-tiba saja melarang para pelayan untuk masuk ke dalam rumah utama, sungguh mendebarkan.


Sarah yang menangkap kelain arah hanya menganggukkan kepalanya. “Baik Tuan, kalau begitu aku akan menyampainya pada semua pelayan,” ucap Sarah sopan.


Setelah merasa semuanya selesai dan akan aman, Axton pun berjalan menaiki setiap anak tangga, menghampiri Arabella yang tengah menyiapkan peralatan melukisnya.

__ADS_1


“Kau dari mana sayang?” Tanya Arabella ketika melihat Axton baru saja masuk ke dalam ruangan.


Axton menggelengkan kepalanya, ia membuka jas dan menaruhnya di sebuah sofa yang ada diruangan tersebut. “Aku baru saja memerintahkan Sarah untuk menyiapkan bahan-bahan memasak sore ini.”


“Itu tidak perlu sayang, biar aku saja yang menyiapkan,” protes Aurora.


“Baiklah aku akan menghubungi Sarah nanti,” ujar Axton seraya mengeluarkan ponselnya, berpura-pura seakan memberikan perintah untuk Sarah.


Setelah selesai mereka mulai asik dengan kegiatan melukis, membuat Axton yang sudah lama tak menggunakan cat warna-warni itu kini ikut duduk dan mengambil kanvas baru, mencoba mengikuti garis yang ada di kanvas Arabella.


Waktu yang semakin bergulir cepat pun tak terasa, kini hari sudah menjelang sore, Arabella yang begitu semangat menarik tangan Axton untuk cepat menuju dapur yang tak pernah Axton kunjungi. “Biar aku yang pakaikan sayang,” ucap Arabella.

__ADS_1


Raut wajah yang tampak puas terlihat jelas di wajah Arabella, suaminya yang tampan kini terlihat begitu menggemaskan dengan lengan kemeja yang di gulung hingga sikut dan apron buatan tangannya sendiri. “Kau akan menjadi seorang gadis yang pintar masak anakku,” ucap Axton sambil mengusap pelan perut Arabella yang tak lama setelah itu bergetar oleh tawa Arabella yang cukup kencang.


__ADS_2