Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 147 - Nikmati Saja


__ADS_3

"Tidak kok, aku baik-baik saja," jawab Dansel, dia bahkan memeriksa suhu tubuhnya sendiri dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi.


Dan benar saja, suhunya normal.


"Aneh," balas Rilly jujur, bahkan dengan raut wajahnya yang dibuat meledek.


Frans dengan wajahnya yang dingin menghampiri.


"Kamu mau makan apa? sop iga? tumis sayur? apa? biar aku yang masak?" kata pria itu pula, dan makin membuat Rilly menatap aneh pada semua orang.


"Ril, Aku sudah mengiris buah untukmu aku letakkan di atas meja ya," kata Riko, bahkan tanpa perlu persetujuan Rilly dia langsung meletakkan irisan buah itu di atas meja, lalu pergi begitu saja entah ke mana. Seolah pria itu memang mengiris buah hanya untuk Rilly, bukan untuk dia sendiri.


"Apasih!" ketus Rilly, selama ini dia dididik untuk mandiri ketika berada di Black Venom, jadi rasanya begitu aneh ketika semua orang melayaninya seperti ini.


Rilly bahkan sampai melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa ini adalah mansion sang suami, bukan rumah utama keluarga Aditama.


Dan memang benar, ini adalah mansion.


"1 bulan lagi aku akan menikah dengan Zena, setelahnya aku hanya akan melayani istriku. Jadi sebelum pernikahan itu terjadi aku akan melayani mu dengan baik," kata Frans lagi, mencari alasan yang tepat kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini.

__ADS_1


Padahal alasan sebenarnya bukanlah itu, bukan pula karena permintaan sang Tuan semalam.


Alasan yang sebenarnya adalah dia bersedih karena Rilly keguguran dan ingin memperlakukan Rilly dengan baik agar wanita itu bisa segera hamil lagi. Termasuk memasakkan makanan yang sehat dan bergizi. Melindungi dari segala marabahaya.


Rilly sudah seperti adik kecil di keluarga Black Venom, meskipun adik yang galak.


"Tapi aku bukan wanita mu bodoh! aku tidak butuh perlakuan baik mu!" ketus Rilly.


Lihatlah, wanita itu galak sekali.


Dan jawaban Rilly itu membuat Dansel dan semua orang yang mendengar jadi tergelak.


Sedangkan Frans seketika terdiam seribu bahasa, tiba-tiba tidak kasihan lagi pada Rilly dan ingin membuang wanita ini.


Rilly benar-benar menatap aneh pada semua orang, pada akhirnya dia menuruti keinginan pria-pria aneh itu untuk duduk.


Seperti Ratu yang sedang dilayani oleh para pelayannya.


Rilly memakan buah irisan Riko dan tiap butuh apa-apa dia tinggal perintah.

__ADS_1


Tak ingin dipermainkan, jadi Rilly makin semena-mena. Makin meminta yang tidak-tidak.


Pada akhirnya Rilly tersenyum lebar, senang juga jadi Boss seperti ini.


"Aku akan panggil Liam untuk sarapan, kalian pergi jauh-jauh, jangan menganggu waktu ku bersama suamiku," perintah Rilly.


"Hem," Dansel yang menjawab.


Rilly akhirnya kembali ke kamar, dan tiba di sana ternyata Liam sudah bangun. Dia mendengar jelas suara gemericik air di dalam kamar mandi, karena Liam tidak menutup pintunya dengan rapat.


Rilly jadi ingin mengintip, tapi saat dia mengintip tiba-tiba tangannya ditarik untuk masuk.


"Liam!!" kesal Rilly, dia jadi seperti di jebak.


Pada akhirnya Rilly harus rela jadi pemuas nafshu mafia pensiun itu.


"Honeyh, Frans, Dansel dan yang lainnya tadi aneh sekali. Mereka seperti ingin mengerjai aku dengan pura-pura baik. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka, iya kan?" tanya Rilly, bicara bercampur dessah.


"Berhenti berpikir buruk, mungkin mereka sedang berusaha bersikap baik padamu, nikmati saja." balas Liam.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat menikmatinya, ugh!" jawab Rilly ambigu, entah nikmat apa yang dia maksud.


Liam yang gemas menyentaknya lebih kuat, sampai Rilly menjerit kecil.


__ADS_2