
Arabella semakin terisak, ia tak sedih karena Axton mengucapkan hal yang seakan tak mempercayainya, padahal Arabella sudah melepaskan pria sebaik Daniel untuk tetap bersama Axton, keputusannya benar-benar tidak dihargai. “Aku tidak menyesal sama sekali dengan keputusan ku! Tidak bisakah kau mengerti posisi ku saat ini? Aku sudah memilih mu, aku meninggalkan pria sebaik Daniel karena aku lebih mencintai mu! Kau pun pernah memiliki kekasih bukan? Kau seharusnya mengerti rasa bersalah ku ini, aku sudah mengkhianatinya,” pekik Arabella tak bisa menahan emosinya sendiri, ia terduduk pada kursi yang ada dibelakangnya dan kembali terisak.
Ia sudah terlalu jahat dan benar-benar jahat pada Daniel, ia tak memiliki hati dan balas budi pada seseorang yang sudah menemaninya selama dua tahun ini. “Sudah, jangan menangis di hadapan ku,” ucap Axton yang kini sudah berjalan kearahnya, ia memberikan sapu tangan kepada Arabella dan duduk di samping wanita itu, ia sadar ia sudah terlalu jahat berkata demikian, namun hanya itulah yang bisa Axton luapkan dari rasa cemburunya. Bagaimana bisa ia diam dan menikmati tangisan Arabella untuk pria lain.
“Lagi pula aku sangat yakin jika pria itu tak sebaik yang kau lihat,” lanjut Axton yang semakin membuat Arabella menangis, tidak cukupkan Axton membuatnya berpaling dari Daniel? Mengapa harus mengatakan hal semacam itu untuk membuat Arabella membenci Daniel.
__ADS_1
Dengan kasar Arabella mengambil sapu tangan yang Axton berikan, ia menghapus air matanya dan menatap Axton tak suka. “Kau tak tahu apa-apa tentangnya,” jawab Arabella pelan sambil terisak kembali. Mood nya memang sedang kacau dua hari ini.
“Aku kan mengetahui semua hal tentang dirinya dalam waktu yang cepat dan aku akan menunjukkan pada mu sesuatu yang kurang baik darinya,” ucap Axton santai, ia duduk di kursi yang menghadap Arabella, mengamati tangisan menyebalkan itu. “Karena aku bisa melihat seseorang yang tulus dan tidak tulus,” lanjut Axton sambil menarik nafasnya dalam lalu beranjak dari kursi dan hendak berjalan kearah meja kerjanya.
Namun, Arabella mencegah kepergiannya, ia melayangkan sebuah pertanyaan yang cukup menarik pada Axton. “Mengapa kau bisa melihat ketulusan seseorang hanya dari satu kali bertemu? Apa kah itu tidak sedikit berleihan? Kau perlu dekat dengannya terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sikap seseorang,” ucapan Arabella cukup nyaring, nada bicara itu seakan dilingkupi oleh rasa kesal.
__ADS_1
“Tapi Daniel tidak—“
“Tidak bisakah kita membahas masalah lain, Bella? Haruskan aku ikut membahas tentang mantan kekasih mu itu? Astaga, kau cukup menyebalkan pagi ini,” gerutu Axton. Wajahnya benar-benar berubah dingin, Axton seperti tak ingin diganggu dan memutuskan pembicaraan mereka.
Arabella pun terdiam, ia menghentikan tangisnya dan mengusap pelan bawah matanya dengan sapu tangan milik Axton, ia memang tak seharusnya berbicara mengenai Daniel di depan Axton, ia sudah menyakiti Daniel dan tidak mungkin pula ia harus menyakiti Axton juga dengan sikapnya yang seakan-akan tengah patah hati.
__ADS_1
Dan Arabella tak bisa berbohong jika dirinya benar-benar sedih sudah berkata sekasar itu pada Daniel, tidak bisakah ia menyampaikannya dengan cara yang halus untuk mengakhiri hubungan ini?