Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Memulai Pembalasan


__ADS_3

Arabella menatap Axton yang baru saja kembali masuk ke dalam kamar, wajah pria itu tampak marah dan kesal. Raut wajah penuh godaan tadi sudah lenyap begitu saja, semua ini membuat Arabella sedikit bertanya dalam hati. Apa yang baru saja terjadi? Namun tak mungkin Arabella berani bertanya seperti itu, karena ia yakin yang akan Axton jawab adalah kata-kata pedas ‘Haruskah aku memberitahu tawanan seperti mu?’ Jawaban seperti saat makan malam beberapa hari yang lalu.


Axton berjalan mengambil sebuah tab dan duduk di sofa depan Arabella, ia tampak sibuk dengan tab di pangkuannya dan tak menghiraukan Arabella yang mulai bosan duduk menemani kesibukan Axton.


Setelah rasa kantuk mulai melanda, Arabella menegakkan tubuhnya saat mendengar suara Axton yang langsung berdiri sambil mengambil jas yang tadi sempat ia lepas. “Kita akan makan siang dan berangkat ke suatu tempat.”


Arabella membuka matanya lebar untuk mengembalikan kesadarannya penuh, ia pun berdiri dan tanpa banyak tertanya lagi mengikuti langkah Axton. “Tunggu sebentar,” ucap Arabella, ia tampak tak nyaman dengan sepatu yang kini ia kenakan. Arabella tak terbiasa dengan sepatu wanita yang tinggi dan super ramping ini. Ia lebih nyaman mengenakan sepatu sport atau sepatu wanita yang datar.

__ADS_1


“Jangan katakan kau tidak bisa menggunakan—“


“Ya, aku memang tak bisa menggunakan sepatu yang tinggi seperti ini,” gerutu Arabella tanpa sadar, ia memaksakan jalannya untuk tetap selamat sampai tujuannya, dan Arabella berharap tak ada tangga yang akan menghambat jalannya. Jika hanya 3 - 5 cm mungkin Arabella tak masalah, namun sepatu ini memiliki tinggi 10cm!


“Aku tahu kau bisa Arabella, cepatlah, jangan menghambat waktu,” ujar Axton, yang ia pikirkan jika Arabella hanyalah kembali mengulur waktu seperti yang sering ia lakukan di rumah. Namun saat ia berjalan kearah Arabella dan menarik lembut tangan itu tubuh Arabella benar-benar akan terhuyung, kaki ramping Arabella hampir saja terkilir dan Axton berhasil menahan tubuh itu untuk tidak terjatuh.


Axton menatap kedua bola mata indah Arabella, alis itu tebal dan rapi, bulu mata lentik dan— Axton terbatuk kecil, ia dengan cepat mengembalikan tubuh Arabella untuk berdiri, ia tak memiliki waktu yang cukup untuk mengamati Arabella lebih jauh, dan Axton pun tidak ingin membangkitkan dirinya yang tengah tenang. “Jika kau sampai mempermalukan ku terjatuh didepan banyak orang, aku akan meninggalkan mu di kota ini sendirian,” ucap Axton. “Cepatlah Bella,” lanjutnya kembali berjalan terlebih dahulu kearah pintu namun kali ini tidak tergesa seperti tadi.

__ADS_1


Didalam lift keduanya terdiam, tak ada yang membuka suara. Lampu pada tombol lift seakan lebih menarik dari pada manusia disamping mereka.


Sesampainya di lantai dasar, Axton dan Arabella berjalan kearah sebuah meja yang kosong, siang ini hanya ada beberapa orang makan siang, mata Axton terlebih dahulu melihat Aurora yang tampak mengaduk minuman dinginnya, bahkan es di dalam minuman itu tampak sudah mencair, bahkan sepotong kue di piring kecil tampak hanya terpotong kecil. Aurora tampak sedang menunggu seseorang dan Axton tahu siapa yang sedang wanita itu tunggu. Axton menghentikan langkahnya pelan sampai Arabella berjalan disampingnya, dengan cepat Axton memeluk pinggang Arabella dengan sebelah tangan hingga membuat Arabella sedikit terkejut. “Ada apa?” Tanya Arabella bingung, disaat Axton berjalan didepannya mengapa tiba-tiba saja Axton memperlakukannya seperti ini.


Axton mendekatkan wajahnya disamping telinga Arabella. “Aku merasa ada wanita yang akan memperhatikan ku, dan aku cukup risih dengan hal itu,” bisik Axton bertepatan dengan Aurora yang melihat kearah mereka, Aurora memang sengaja menanti Axton untuk melihat kesungguhan pria itu dengan ucapannya semalam, dan siang ini Aurora cukup merasa kesal dengan hal yang ia temukan, dimana Axton tengah berjalan memeluk pinggang wanita disampingnya sambil berbicara dengan mesra.


Sedangkan Arabella memutarkan bola matanya pelan, ia tak mengerti mengapa bisa Axton sepercaya diri itu, ia memang tampan namun ia terlalu berlebihan dalam menyampaikan kebanggaan dirinya pada wajahnya sendiri. “Kita duduk disana,” ucap Axton sambil menunjuk sebuah meja disamping wanita yang tengah duduk menatap mereka dengan begitu lekat.

__ADS_1


Arabella mulai mengerti kerisihan Axton, bahkan Arabella sendiri merasa risih dengan tatapan wanita itu yang seakan menilainya dari bawah hingga atas. Dengan tatapan tajam yang Arabella miliki, Arabella membalas tatapan wanita itu, lalu mendelik tajam untuk memberitahukan ketidak sukaannya.


__ADS_2