
Axton yang baru keluar dari dalam rumah menghampiri Laura yang tengah asik bermain di sebuah taman bersama kelinci kesayangannya yang pernah Axton berikan. "Laura, ini sudah sore, mengapa masih diluar?" Tanya Axton.
Mendengar namanya dipanggil, Laura langsung berdiri dan menundukkan kepalanya didepan Axton. "Sebentar lagi aku akan masuk ke dalam rumah Tuan," ucap Laura begitu lembut khas anak kecil.
Axton tersenyum kecil, ia mengusap kepala Laura dengan pelan. "Baiklah, jangan terlalu lama diluar," ucap Axton. "Aku pergi dulu," lanjut Axton yang langsung merapikan ujung jas dan berjalan kearah mobil, sedangkan Laura mulai mengangkat wajahnya saat Axton pergi, ia kembali berjongkong dan mengambil kelinci putihnya yang cepat membesar itu.
Axton duduk di kursi penumpang, ia menatap Jack sekilas dari kaca mobil. "Antar aku ke gudang, aku ingin mengunjungi James sebentar," ucap Axton kemudian. Jack hanya menmgangguk dan mulai menyalakan mesin mobil, tak lama mobil itu pun melaju dan pintu pagar dibuka kan dengan sigapnya oleh para penjaga.
Axton memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada belakang kursi, ia menarik nafasnya dalam saat kembali mengingat Arabella. Menawan seorang wanita rupanya tidak semudah yang ia bayangkan, saat James membawakan uang yang cukup banyak ia malah menolaknya dan menempatkan James menjadi pegawainya. Entah mengapa bagi Axton Arabella tidak cukup ditukar dengan uang, ia cukup menarik dan Axton seakan sudah terbiasa dengan kehadiran Arabella didalam rumahnya. Axton menggelengkan kepalanya pelan, matanya masih terpejam, mungkin saja Axton terlalu lama menyendiri didalam rumahnya, kehadiran Arabella adalah satu-satunya perempuan yang ada dirumah dan itu alasan paling logis mengapa Axton menganggap Arabella penghibur dirumahnya yang sunyi.
“Apa kau sakit Tuan? Aku akan menghubungi Dr. Lo—“
__ADS_1
“Tidak, lanjutkan saja perjalanan,” potong Axton dengan cepat, Jack yang mendengar itu langsung terdiam, ia kembali fokus menyetir dan sesekali melirik kaca mobil yang memperlihatkan Axton di kursi belakang tengah memejamkan matanya.
Jack cukup khawatir dengan kondisi tubuh Axton yng terlalu sibuk bekerja, bahkan jika diingat-ingat lagi sudah lama Axton tak pernah mengecek kesehatannya sendiri.
Sesampainya di gudang, tampak semua pekerja sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing, langit sudah menggelap dan lampu lampu sebagai pengganti sumber cahaya menerangi bangunan ini.
Axton masuk ke dalam sebuah ruangan kaca dan duduk dikursi santainya, dua orang pria sudah berdiri dihadapan Axton. “Panggil James untuk kemari, ada sesuatu yang ingin aku bahas bersamanya,” ucap Axton.
Salah satu dari pria itu mengangguk dengan cepat dan keluar dari ruangan untuk membawa James.
“Ini jobdask yang aku berikan untuk James, dan sangat sesuai dengan apa yang kau sarankan Tuan. Sehari kemarin James cukup memperhatikan semua tugas yang ada disini, dan hari ini dia sudah mulai bekerja,” jelas pria itu.
__ADS_1
Axton membuat map tersebut dan membacanya denga pelan, ia memberikan pekerjaan yang bisa dibilang cukup ringan, hanya memindahkan beberapa barang dari satu tempat ke tempat yang lain, tidak ada pekerjaan yang cukup beresiko yang Axton berikan.
Tak berapa lama, pintu ruangan kembali terbuka, James datang dengan penampilan seperti biasa, tak ada kata rapi untuk pria itu. “Tinggalkan aku dan James sebentar,” ucap Axton. Kedua pria itu pun langsung mengikuti ucapan Axton, meninggalkan James yang masih berdiri di dekat pintu.
Axton bisa melihat ada rasa takut pada diri James. “Kemari lah,” ucap Axton.
Dengan langkah yang ragu James mendekat, ia duduk dengan gugup dan tak berani menatap wajah Axton. “Bagaimana pekerjaan yang aku berikan?” Tanya Axton.
James mengangkat wajahnya pelan. “Aku sangat berterima kasih untuk pekerjaan ini Tuan, aku akan bekerja keras untuk membebaskan Bella,” ucap James.
Axton tersenyum miring, ia menutup map dan menaruhnya di samping meja. “Sebelum membahas yang lainnya, aku ingin bertanya satu hal pada mu,” ucap Axton yang terdengar begitu mengintimidasi.
__ADS_1
James menelan salivanya keras, jantungnya berdebar dengan kencang. “A—Apa itu Tuan?”
“Aku ingin mendengar alasan kau ingin kembali berjudi dengan hasil uang yang kau pinjam bersama Daniel itu,” ucap Axton.