
Menu sederhana sama seperti di panti, tapi bagi Namira ini sudah menu istimewa.
Dalam beberapa menit makanan langsung ludes berpindah ke perutnya.
ah.. ini sungguh nikmat yang luar biasa.
"Berapa mereka menawari mu? tanya Roy.
Namira langsung tersedak minuman hingga terbatuk-batuk.
uhuuk... uhuuk... uhuuk.
Lo mereka tau juga, ....
" 200 juta Tuan". kata Namira.
"kenapa gak mau?"
Sukses membuat Namira melotot tak percaya. Seketika dia mengawasi sekitar ruangan apa ada CCTV.
"Kamu gak perlu bingung mikir dari mana kami tahu semua itu, otakmu gak mampu"kata Damian sambil tergelak.
" ehm.. Tuan, bisakah aku pulang? Aku sudah menjawab pertanyaan Tuan".
"Siapa bilang pertanyaannya sudah selesai, istirahat lah besok dilanjut lagi. bisa-bisa Mari berdiri kamu",seraya tergelak.
__ADS_1
Roy pun menatap sang tuannya, ada sedikit rasa heran gak biasanya Damian bisa membuat candaan seperti itu, apa lagi dengan orang yang baru dikenal.
Akhirnya interogasi pun berakhir dan Namira dibawa kembali ke kamar semula.
Damian pun segera menuju kamar nya untuk ber istirahat. Sebelum menutup pintu Damian berbalik
" Roy tetap awasi Alex dan Sheila sebenarnya apa rencana mereka berdua?
"Siap Tuan, silahkan istirahat".
" hhmmm".
Damian membersihkan diri, sambil dudur di sofa diputarnya lagi rekaman tentang Namira di laptop nya.
Ah, ada apa dengan ku ini, aku begitu penasaran dengan gadis itu...
ah.. mending aku istirahat dulu.
Dipejamkannya kelopak matanya, kedua tangan nya dilipat dibawah kepala. Terlintas wajah Namira. Lesung pipitnya, wajah nya yang polos penuh ketakutan membuat Damian tersenyum. Seketika Damian beranjak dari ranjang nya di nyalakan laptop nya kembali kemudian terlihat dia tersenyum. Ditaruhnya laptop nya di ranjangnya, sambil memandang laptop Damian tersenyum dalam tidurnya.
Rupanya Damian melihat Cctv di kamar Namira.
Sedangkan Namira sejak dibawa keruangannya tampak mulutnya komat-kamit .
"Atas dasar apa coba aku ditawan disini. kenal juga nggak. Huh... coba dia perempuan benar-benar sudah ku hajar dia". seraya mengepalkan tangan nya ke arah pintu. Sambil tak henti-hentinya menghentakkan kakinya dengan kesal.
__ADS_1
......------------------......
Sementara itu di rumah Alex, tampak kedua suami istri itu saling berpelukan dengan selimut yang cukup tebal.
Rupanya mereka habis melakukan pergulatan panjang berdua. Sheila pun bertanya pada sang suami.
" Bagaimana sayang, apa belum ada khabar dari anak buahmu?Aku kepikiran sama Namira sayang".
"hemm...belum. Tapi Damian selalu mengawasi ku. Seperti nya Namira dibawah ke markas mereka".
Sheila menghela napas, kemudian dia berkata
"Aku takut Namira disakiti, semoga apa yang kita rencana kan berhasil.
Di peluknya suami nya erat, mencium bau keringat habis pertempuran mereka.
"Sifat Damian dari dulu tak pernah berubah, keras kepala tak mau mendengar saran dari siapapun". Alex menyahut sambil tangan nya mengelus punggung polos istrinya.
Sheila hanya mengangguk kan kepala nya. Sebenarnya dia merasa bersalah karena sudah membawa Namira ke Sisi Damian.
Alex yang paham pikiran istrinya,
" Sudah tak perlu di pikir kan, semua pasti berjalan sesuai rencana. Yang penting sekarang layani aku lagi". seraya memberikan kecupan-kecupan di area kesukaannya.
Tangan nya sudah menyusup ke area yang sensitiv sehingga menimbulkan ******* sang pemiliknya.
__ADS_1
aaah....
Hentakan demi hentakan yang di iringi ******* berbaur menjadi satu. Entah sudah berapa kali Sheila mengalami *******, sehingga melupakan tentang Namira.