
Arabella menatap kolam dihadapanya dengan tatapan kosong, Axton benar-benar serius dengan ucapannya. Dari siang sampai selarut malam ini Axton belum juga kembali, Sarah mengatakan Axton pergi tanpa berbicara sedikit pun pada Sarah kemana ia akan pergi, bahkan menanyakan kabar Arabella pun tidak.
Air matanya kembali menates, membasahi pipi juga tangan yang sedang memeluk lututnya. “Astaga,” desis Arabella pelan, ia kembali mengambil satu helai tissue dan mengusapkannya dengan kasar pada pipi dan kelopak matanya. Ini benar-benar sebuah karma atas ketidak setiaannya pada Daniel, ia kini merasakan bagaimana sakitnya dikecewakan oleh orang yang dicintai dengan seluruh hati.
Bayangan kebahagiaan bersama Axton harus pupus begitu saja, ia yakin Axton sudah tidak menginginkannya, pria seperti Axton memang tidak menyukai anak kecil sepertinya, ia hanya menginginkan para wanita yang menghangatkan dirinya diatas ranjang.
Tanpa sadar Arabella melepaskan kaitan jemari dan menatap perutnya yang masih rata, tangannya terulur mengelus dengan lemput perut ramping itu. “Tenang saja, aku akan menjaga mu,” bisik Arabella pelan, seolah menguatkan janin yang masih berukuran kecil itu.
__ADS_1
Dengan perlahan Arabella mulai bangkit dari duduknya, ia sudah terlalu lama diluar sini, cuaca yang sangat dingin tidak akan baik untuk dirinya. Arabella menaiki setiap anak tangga dengan tubuh lemasnya, sekecewa apapun Arabella pada Axton, namun tetap saja ia tak bisa membenci pria itu, Arabella membenci dirinya yang lemah!
Sesampainya dikamar, Arabella merebahkan dirinya, memejamkan mata yang cukup berat akibat menangis seharian. Selang beberapa menit, bahkan kurang dari sepuluh menit, Arabella yang baru saja tertidur mendengar pintu kamarnya terbuka, Arabella sangat yakin jika itu Axton, dengan menguatkan diri Arabella tetap memejamkan matanya, menanti apa yang akan Axton lakukan di kamar Arabella. Dalam lubuk hatinya, Arabella berharap Axton akan meminta maaf dan menerima kehamilan Arabella.
Arabella mulai merasakan punggungnya yang berada ditepi ranjang bersentuhan dengan tubuh Axton. Arabella juga merasakan Axton mengusap kepalanya lembut, cukup lama dan setelah itu mengecup kepala Arabella dengan lembut.
Suara langkah kaki membuat Arabella kembali mengubah posisinya kembali tertidur seperti semula, Axton tampaknya masih berada diluar dan hanya berjalan-jalaln kecil dilantai ini. “Jack, aku ingin kau menemui ku di Casino Besok. Namun, bawa James terlebih dahulu ke rumah ku untuk bertemu Arabella, suruh seseorang untuk mengantarkan mereka kerumah yang sudah aku siapkan di Real de Catorce. Pastikan juga kau memberikan uang yang cukup untuk kehidupan mereka selama disana.”
__ADS_1
“Tidak, tidak mungkin,” lirih Arabella, ia takut dengan apa yang baru saja ia dengar, Arabella berharap ini sebuah mimpi, semua ini tidak nyata! Ia benar-benar tidak siap jika Axton melepaskannya, namun ia lebih tak siap menggugurkan kandungannya.
Kedua tangan Arabella mengepal kuat menekan selimut tebal itu, berusaha sekuat mungkin menahan isak tangisnya yang akan keluar. Ini semua sungguh menyakitkan, ia sudah dibuang oleh pria yang ia cintai dengan tulus, tak pernah Arabella mencintai pria sebesar ini, Axton mampu membuatnya memberikan semua yang Arabella miliki.
\~
Yok siapin amarah kalian yok
__ADS_1