
Hampir 3 jam Arabella terjebak dalam lingkungan yang cukup mendebarkan baginya, ia terlalu banyak mendengar hal tentang bisnis, kekuasaan, kekacauan yang terjadi, dan Arabella baru mengetahui jika ini adalah acara yang selalu diadakan setiap tahunnya, bahkan Axton yang menjabat sebagai Ketua dalam bisnis keluarga yang tak Arabella ketahui kini baru saja menyelesaikan sebuah pidato didepan sana.
Orang*orang yang hadir tak sebanyak yang Arabella bayangkan, tak lebih dari 20 orang, namun penjagaannya begitu ketat dan para pengawal yang mereka bawa melebihin jumlah tamu inti yang kini sedang duduk disebuah meja panjang yang berada ditengah ruangan.
Setelah acara membosankan itu hampir selesai, kini Arabella dan Axton berjalan kearah taman yang ada di belakang gedung tersebut. “Aku rasa wanita yang bernama Ambara sedikit cemburu karena kau membawa ku,” ucap Arabella memulai ucapan ditengah keheningan mereka berdua yang tampak asik menatap kolam ikan yang terlihat tenang.
Axton menoleh pelan, ia tersenyum kecil sebelum meminum cairan berwarna gelap itu berlahan. “Kau salah, dia memang membenci ku,” ucap Axton kemudian. “Bisa dibilang aku adalah orang asing yang cukup beruntung dalam keluarga Matthew,” lanjut Axton yang semakin membuat Arabella bingung.
__ADS_1
“Apa kalian pernah berdebat?” tanya Arabella hati*hati.
Axton menganggukkan kepalanya, kepalanya menoleh pelan pada arah para wanita yang tengah duduk didekat pintu masuk, tampak saling menunjukkan apa yang sudah mereka miliki. “Tentu saja, Ambara adalah anak kandung dari Mark Matthew, namun sayangnya Ambara bukan dilahirkan dari rahim seorang wanita yang Mark cintai, ibu Ambara menjebak Mark saat dulu, dan aku datang 10 tahun lalu, hanya 3 tahun aku bekerja dengan Mark, namun pria itu memilih ku sebagai penerusnya diakhir hidupnya. Banyak perdebatan yang terjadi dan percayalah, semua orang menentang itu, namun mereka semua tak bisa melawan keputusan yang sudah dituliskan oleh orang kepercayaan Mark,” jelas Axton.
Arabella terdiam, lalu tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan. Kini dia sudah mulai mengerti dengan posisi Axton, masa lalu Axton tampaknya tak setenang yang Arabella alami, walaupun ia terlahir dalam keadaan kurang perekonomian, namun ia tak pernah merasakan hidup hanya sebatang kara seperti yang Axton rasakan. “Aku pikir dia menyukai mu,” kekeh Arabella pelan, mencoba mencairkan suasana dan membuat Axton sedikit teralihkan dari masalalunya kembali.
“Jangan cemburu seperti itu Bella, dulu Ambara memang selalu menggoda ku, tapi aku tahu akal liciknya, dia hanya ingin mengambil apa yang seharusnya ia miliki dan merebutnya kembali dari ku,” ucap Axton.
__ADS_1
“Tapi kau bertingkah sebaliknya,” kekeh Axton. Ia tampak gemas melihat tingkah Arabella yang begitu manis, Axton mendekatkan dirinya pada Arabella yang tampak begitu cantik, ia belum memuji wanita itu secara langsung. “Kau cantik, Bella,” bisik Axton pelan.
Arabella mengerutkan keningnya dalam, bau wine yang tercium dari ucapan Axton cukup membuatnya mual, rasanya bau itu terlalu menyengat dan mengaduk isi perutnya. “Emm,” gumam Arabella sambil mendorong pelan bahu Axton yang berada didekatnya, membuat wajah Axton yang begitu dekat kembali menjauh dan menatap Arabella bingung.
“Jangan malu Bella, mereka sudah mengerti dengan apa yang dilakukan para pasangan,” kekeh Axton pelan, saat ia kembali hendak mencicipi bibir indah Arabella, ia kembali mendorong pelan Axton.
“Bukan itu, sepertinya aku sedikit mual,” ujar Arabella, bahkan kini raut wajahnya menunjukkan rasa tengah menahan sesuatu yang seakan mendesak keluar.
__ADS_1
-
Nungguin kan?