Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 146 - Sakit?


__ADS_3

Reza dan Ryan akhirnya bisa bernafas lega saat melihat seluruh keluarganya kembali berkumpul.


Kabar tentang Rilly yang keguguran sudah mereka dengar dari sang Oma melalui sambungan waktu itu, jadi kini dua kakak itu memeluk adiknya erat. Mengatakan dengan suara lirih bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Begitulah jalan hidup yang harus dilalui oleh Rilly.


Malam itu juga setelah mengantarkan Oma Putri dan kakek Agung ke rumah utama, Liam dan Rilly beserta semua anggota Black Venom langsung pamit pulang.


Di mansion kini giliran Riko yang haru karena akhirnya saudara-saudaranya telah kembali, kecuali Dicky dan calon keponakannya.


"Tidak perlu menangis Rik, kamu sudah menjalankan tugasmu dengan sangat baik," ucap Liam, dia bahkan menepuk pundak Riko. Karena Riko tinggal di sini restoran mereka tetap terkendali.


Riko tak menjawab apa-apa, dia hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.


Jam 12 malam, Liam mengumpulkan seluruh anak buahnya di ruang tengah setelah sang istri tertidur lelap.


Ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan malam ini.


Tentang restoran, tentang pernikahan Frans dan Zena, dan juga tentang Rilly-istrinya.


"1 bulan lagi Frans akan menikah, dia akan memiliki keluarga dan tanggung jawab baru, itu artinya mulai sekarang Frans harus memegang restoran sendiri. Tak lagi bergabung dengan keuangan Black Venom," ucap Liam.

__ADS_1


Frans seketika menunduk, entahlah, dia adalah pria yang paling kuat di antara semua teman-temannya, tapi tiap kali mendengar sang Tuan bicara seperti itu dia jadi ingin menangis.


Semua orang mengangguk setuju, memang seperti itulah kesepakatan mereka semua.


"Julius, Bruno dan Vin bantu semua persiapan pernikahan Frans."


"Baik Bos!" jawab 3 orang tersebut. Meski semuanya juga akan membantu Frans, tapi tetap saja harus ada yang bertanggung jawab.


"Kita usahakan untuk bisa membangun restoran Black Venom lebih banyak lagi, jadi kalian akan memiliki pegangan hidup sendiri-sendiri."


"Siap Boss!" jawab mereka semua kompak, penuh dengan semangat, apalagi memiliki tujuan yang ingin dicapai.


"Dan yang terakhir, aku dan Rilly akan kembali melakukan program hamil. Ku harap kalian semua memperlakukan Rilly dengan baik, sangat baik. Jangan sekalipun menolak perintahnya."


Pembicaraan itu masih berlangsung cukup lama, hingga saat waktu menunjukkan jam 02.00 dini hari barulah Liam kembali memasuki kamarnya.


Melihat sang istri yang tertidur begitu pulas di atas ranjang mereka.


Saat duduk di tepi ranjang di dekat sang istri, Liam bahkan mampu mendengar deru nafas halus Rilly.


Dia belai lembut wajah istrinya tersebut.

__ADS_1


Bersumpah di dalam hati bahwa dia akan selalu membahagiakan Rilly.


Pagi datang.


Rilly bangun lebih dulu, dengan mulut menguap dia turun dari atas ranjang.


"Honey," panggil Rilly, tapi Liam tak bergerak.


"Dia pasti lelah, tidak usah dibangunkan ah. Lebih baik aku siapkan sarapan untuknya," gumam wanita itu penuh semangat.


Jam setengah 6 pagi setelah dia rapi, Rilly keluar dari dalam kamar dan menuju dapur.


Lalu terkejut saat melihat sudah banyak anggota Black Venom di sana. Biasanya orang-orang itu akan keluar dari dalam kamar mereka masing-masing saat sudah jam 6.


"Pagi Ril, kamu terlihat cantik hari ini," ucap Serge.


Rilly langsung mengerutkan dahi, ingin muntah mendengar ucapan pria aneh itu.


Rilly tak peduli, dia langsung ingin menuju lemari pendingin.


"Kamu mau apa? duduk lah, biar aku yang siapkan semuanya," ucap Dansel pula.

__ADS_1


"Kalian kenapa? sakit?" tanya Rilly, sejak kapan orang-orang menyebalkan ini bersikap manis seperti itu.


__ADS_2