Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 112 - Siap Menerima


__ADS_3

Liam hanya mampu tersenyum dan tetap berdiri di posisinya saat ini, melihat sang istri yang langsung berlari menuju kamar mandi dengan tubuhnya yang sudah setengah telanjjang.


"Astaga, dia benar-benar memancing kesabaran ku," gumam Liam, dia pijat tengkuknya yang berdenyut nyeri, menahan hasrat yang sudah di ujung ubun-ubun.


Liam lantas melepaskan bajunya dan melempar ke sembarang arah. Dengan bertelanjjang dadda seperti itu dia duduk di atas ranjang, terus menatap ke arah pintu kamar mandi.


Di dalam hatinya dia mulai berhitung perlahan, menunggu sang istri segera keluar dari sana.


Hingga di hitungan yang ke 70 barulah Liam lihat dengan jelas ganggang pintu itu berputar, Rilly keluar.


Deg! jantung Liam seperti berhenti berdetak saat itu juga, kedua matanya langsung mengunci sang istri yang kini tak memakai apapun.


Brra dan kain segitiga itu tak lagi menutupi dua asetnya yang paling berharga.


Entah iblis apa yang sedang merasuki istrinya itu, namun Rilly begitu berani dengan berpenampilan seperti itu.


Sebuah keberanian yang membuat Liam tersenyum lebar. Dia diam saja, melihat sang istri yang mulai berjalan mendekat.

__ADS_1


Dan bukan hanya Liam yang saat ini jantungnya tak karuan, tapi Rilly lebih parah.


Di dalam kamar mandi tadi ada banyak pilihan baju yang bisa dia gunakan, mulai dari baju tidur yang telah disediakan oleh pelayan, handuk kimono bahkan lingerie.


Namun Rilly begitu bingung untuk memilih pakaian yang mana, dia merasa tak ada satupun yang cocok untuk dia gunakan malam ini.


Sampai akhirnya dia putuskan untuk tidak memakai apapun ketika keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


Tiba di tepi ranjang itu, Rilly langsung naik dan bahkan duduk di atas pangkuan Liam. Kedua kakinya terbuka dan mengunci tubuh sang suami.


Deg deg! deg deg! debar jantung itu sudah menggambarkan semuanya bagaimana Malam ini terasa begitu bergellora bagi mereka.


Di hadapan Liam dan dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Rilly perlahan mengangkat kedua tangan dan mengikat rambut panjangnya, hingga lekuk tubuh Rilly yang menggoda makin tergambar jelas di hadapan Liam.


Ini adalah pemandangan yang paling indah yang pernah pria itu lihat.


Liam sudah tak bisa menahan diri lagi, akhirnya dia mulai menggerakkan kedua tangannya untuk menyentuh pinggang sang istri. Tangan yang kemudian meraba naik hingga menyentuh dua dadda sintal tersebut.

__ADS_1


Dan dari sanalah semuanya bermulai, hingga tanpa kata Liam mencium bibir istrinya mesra.


Emhh ahhkk, lenguh Rilly. Dia tak sungkan untuk mengeluarkan suara tersebut, bahkan menggeliat dengan cukup liar saat Liam menguasai tubuhnya.


Tak hanya sebentar, mereka cukup lama dalam memulai permainan tersebut. Dari atas hingga ke ujung jari kaki Rilly Liam kecup tak ada yang tertinggal. Bahkan di beberapa tempat Liam tinggalkan jejak merah.


Rilly nampak begitu malu saat akhirnya Liam membuka kedua kakinya lebar, sementara pria itu justru bersemayam di bawah sana dan memainkan lidahnya.


Rilly tak sanggup lagi, dia meremat kain sprei mencari pelamppiasan dan Liam justru bermain semakin kasar, sampai rasanya di bawah sana begitu basah.


"Honey," panggil Liam dengan suara terengah.


Rilly membuka kedua matanya yang terpejam dan menatap ke arah sang suami.


"Aku akan melakukannya sekarang," ucap Liam dan Rilly mengangguk seraya mengigit bibir bawahnya dengan kuat.


Siap menerima sesuatu yang akan masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2