
Semalaman ini Liam terus terjaga, dia benar-benar tak bisa memejamkan mata untuk terlelap.
Pikirannya benar-benar berkecamuk, karena musuh yang dia hadapi sekarang bukan lah orang lain, melainkan keluarganya sendiri.
Besok jelas dia harus menjelaskan semuanya pada oma Putri dan kakek Agung, lantas bagaimana caranya dia memulai ini semua?
Kebohongan tak akan lagi bisa dia ucapkan, karena dalam cerita itu ada anaknya yang harus jadi korban.
Sungguh, Liam tak ingin anaknya melihat sisinya yang pengecut, pembohong dan terus berlari dari kenyataan.
Bahwa dia tidak sesucci itu, di tangannya telah banyak menghilangkan nyawa, apapun pembenarannya tetap tak bisa mengubah fakta itu.
Apalagi Dicki pun menjadi korban pula untuk pertempurran kali ini, jelas hal itu akan jadi tanya untuk seluruh keluarga Aditama. Dicki dan semua anggota Black Venom telah mengenal baik keluarga Rilly.
Saat pagi datang, Zena di bawa ke rumah sakit karena di mansion tak ada yang menjaga wanita itu. Semua anggota Black Venom akan ikut memakamkan Dicki.
Kecuali semua orang dengan luka parah dan harus tetap berada di rumah sakit.
Meski mereka bersikukuh ingin ikut, tapi Liam telah mengeluarkan titahnya.
__ADS_1
Mereka yang tak bisa datang hari ini masih bisa mendatangi makam Dicki besok atau lusa ataupun nanti. Tak akan ada yang melarang.
Rencananya jam 6 pagi mereka akan pergi ke tempat pemakaman umum di kota Servo, saat ini masih jam 5 pagi dan Rilly akhirnya sadar.
Saat pertama kali dia membuka matanya, Rilly langsung menyentuh perut. Ada rasa tak nyaman di sana yang membuatnya langsung menyentuh perut itu.
Hingga sepersekian detik kemudian dia teringat dengan kandungannya.
Anakku? apa terjadi sesuatu? batin Rilly, kedua matanya seketika terbuka lebar saat menyadari itu, terlebih dia ingat jelas jika semalam dia jatuh pingsan, juga perut yang terasa melilit tak tertahankan.
"Sayang," panggil Liam.
Melihat itu Liam menyadari satu hal, bahwa sepertinya Rilly telah mengetahui tentang anak mereka. Namun Rilly belum menceritakan hal itu padanya.
Liam mendekat dan duduk di tepi ranjang, hingga makin jelas melihat wajah cemas sang istri.
"Mas, apa aku baik-baik saja?" tanya Rilly ambigu.
Liam menggeleng kecil, "Anak kita sudah tidak ada," balas Liam kemudian, hingga membuat kedua mata Rilly mendelik lalu berkaca-kaca.
__ADS_1
Kabar bahagia yang dia simpan untuk sang suami kini justru jadi kabar duka untuk mereka berdua.
"Maafkah aku," lirih Rilly di antara air mata yang mulai mengalir jatuh.
Liam tak langsung menjawab, dia langsung memeluk istrinya erat, lalu mengucapkan maaf itu tepat di telinga sang istri.
"Tidak honey, kamu tidak salah, aku yang salah, maafkan aku," balas Liam tak kalah lirih, memeluk dengan semakin erat.
Sementara Rilly makin terisak dengan kesedihan yang terasa jelas. Dia terlalu percaya diri bahwa tidak akan terluka, tapi nyatanya justru sang anak yang jadi korban.
Rilly tak bisa lagi menyebut dia seperti apa, ibu yang tak memperdulikan anaknya.
Rilly menangis, terus menangis.
Dan Liam terus meneluknya erat.
Sampai tak mendengar suara ponsel yang bergetar di atas sofa.
Ponsel Liam dan panggilan masuk dari oma Putri.
__ADS_1