
Frans langsung bergegas menghubungi Riko dan menyampaikan apa yang terjadi saat ini, tentang Rilly yang akan melahirkan.
Saat itu semua anggota Black Venom langsung kocar kacir, untunglah sekarang mereka mulai mempekerjakan orang lain di luar Blcak Venom. Jadi disaat mereka semua diharuskan meninggalkan restoran, di sana akan tetap ada yang menjaga. Hingga jam operasionalnya tak akan terganggu.
Di restoran pusat, Serge, Jimmy dan yang lainnya langsung berlari menuju mobil mereka. Melaju dengan kecepatan tinggi menuju mansion.
Sementara Riko dan beberapa orang mulai menuju rumah sakit lebih dulu.
Kedatangan Serge dan Jimmy bersamaan pula dengan Dansel dan Ella. Mereka semua bertemu dengan Liam dan Rilly di ruang tengah.
"Ella," panggil Rilly lirih.
"Ya Allah Bu, ayo hati-hati," jawab Ella pula, dia pun ikut memapah Rilly.
Serge, Dansel dan Jimmy sigap membawa semua barang-barang yang mereka butuhkan.
Astaga ya Tuhan, aku sampai merasa istri ku yang mau melahirkan. Batin Serge, saking gugup dan takutnya dia sampai membatin seperti itu.
Sementara Frans hanya terus menatap Rilly dengan khawatir, memikirkan bagaimana jika nanti Zena seperti itu.
Rilly si wanita singa saja merasa ketakutan, lalu bagaimana Zena yang seperti peri kecil baginya.
"Aduh!" rintih Rilly saat rasa sakit itu kembali datang, jika tadi jaraknya 10 menit sekali, kini rasanya tiap 5 menit sekali sakit itu menyerang.
Jadi semakin intens.
__ADS_1
"Sabar Honey," bisik Liam, dia berulang kali menciumi puncak kepala sang istri.
Sudah tiba di mobil, Frans pun segera mengemudikan mobil itu dengan cepat, cepat dan harus hati-hati.
Sekitar 10 mobil mengantarkan Rilly ke rumah sakit saat itu.
Kedatangan mereka semua sontak jadi tontonan untuk semua orang, 1 wanita yang hendak melahirkan namun di dampingi oleh banyak pria.
Untunglah Liam telah mereservasi pelayan bersalin kelas VVIP. Jadi berapapun anggota keluarga yang mengantarkan tak akan masalah. Liam seperti menyewa 1 lantai penuh tempat untuk sang istri melahirkan.
Oma Putri dan semua keluarga inti belum tiba, tapi Rilly sudah saatnya masuk ke ruang bersalin. Jadi yang menemaninya adalah Liam dan Ella.
Perjuangan Rilly tidak main-main, bukan hanya ada 1 bayi yang harus dia lahirkan, tapi dua.
Tangan kanannya sudah terpasang infus.
"Ayo Ril, sedikit lagi," ucap dokter Bella memberi instruksi.
Liam sudah merasakan tenggorokannya yang tercekat, beberapa waktu lalu dia selalu mengatakan kepada sang istri untuk memiliki banyak anak. tapi ketika sudah mengetahui perjuangannya seperti ini Liam jadi ingin menurunkan niatnya tersebut.
Cukuplah ini jadi yang pertama dan terakhir.
Tangis bayi pertama telah terdengar, seorang bayi laki-laki.
Dan Rilly masih harus berjuang untuk melahirkan anak keduanya.
__ADS_1
"Ril, jangan memejamkan mata mu, lakukan sekali lagi, kamu pasti bisa," ucap Dokter Bella.
Nafas Rilly sudah terengah.
Ella diam-diam sudah menangis.
Dan Liam mencium kening sang istri.
"Ayo sayang, maafkan aku," ucap Liam.
Dan saat itu juga Rilly mengeluarkan semua tenaganya sampai akhirnya tangis bayi kedua terdengar.
Tangis seorang bayi perempuan.
Tenaga Rilly sudah habis, dia sudah tak merasakan kesakitan apapun lagi. Kini tubuhnya terasa begitu ringan, seolah dia sedang tidur di atas awan.
"Sayang, honey, kamu mendengar ku kan?" tanya Liam, dia belum melihat kedua anaknya, masih begitu cemas melihat keadaan sang istri.
Rilly menolak melahirkan secara operasi, dia yang kukuh ingin melahirkan secara normal.
"Ril!" panggil Liam.
Namun panggilan itu lama-lama terdengar samar di telinga Rilly.
Sampai akhirnya benar-benar hilang dan dia memejamkan mata.
__ADS_1