Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Extra Part


__ADS_3

10 Tahun Kemudian.


Quinza tersenyum pada James yang selalu menggenggam erat sebelah tangannya pada sebuah pesta yang ada di kediaman Walton. Gaun indahnya membuat Quinza merasa seperti princess yang ada pada film kartun yang selalu ia tonton.


“Kakek, gaun yang aku kenakan sekarang paling bagus bukan? Aku tidak melihat ada yang menyaingi ku,” ucap Quinza dengan kepala yang mengadah tampak angkuh.


Mendengar itu James hanya tertawa pelan, Quinza memang perpaduan antara Arabella dan Axton, ia tidak ingin tersaingi juga memiliki mulut yang tajam jika sedang marah. “Tak hanya baju mu sayang, kau bahkan yang paling cantik di sini,” jawab James.


Senyum Quinza mengembang seketika, matanya mulai mencari beberapa anak yang seumur dengannya, namun yang sangat ia nantikan adalah Arthur, anak laki-laki paling menawan di sekolahnya. “Kakek aku ingin kesana,” ucap Quinza sambil menunjuk kedua orangtuanya yang tengah berbincang dengan Mr. Walton, ia melihat Arthur tengah bermain sesuatu dengan adiknya, Ernest.


“Kau yakin? Bukankah kau tidak menyukai perbincangan para orangtua yang membosankan?” Tanya James sambil terkekeh pelan, cucunya baru sama 20 menit yang lalu mengatakan demikian dan sekarang ingin kembali pada Arabella dan Axton.


Quinza menggulum senyumnya pelan, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak kakek, aku ingin mengobrol dengan teman sekolah ku,” ujar Quinza,


James seketika menoleh dan melihat ada beberapa anak seumuran Quinza disana, lalu dengan semangatnya James menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu ayo kita kesana,” ucap James.


Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, seseorang menghentikan langkah James, membuat Quinza menoleh kearah seorang pria seumuran Daddy-nya tengah tersenyum pada James. “Anda James? Perkenalkan aku John,” ucapnya ramah.


James terdiam sebentar lalu senyumnya mengembang. “Oh ya, aku mendengar tentang mu dari menantu ku, senang bertemu dengan mu,” ucap James. Quinza yang mencium berbincangan membosankan hanya bisa menghembuskan napasnya malas, ia membenci percakapan orang dewasa yang tidak ia mengerti.


“Sayang, jika kau ingin menemui teman-teman mu kesana lah, aku akan mengawasi mu dari sini, lagi pula Mom dan Dad ada disana,” ucap James.


Ini yang Quinza suka dari sang kakek, selalu mengerti apa yang ia inginkan, tidak seperti Mom-nya yang selalu mengomel jika Quinza melakukan kesalahan juga tidak seperti Daddy-nya yang terlalu membela Ernest jika dirinya tertangkap sedang bertengkar dengan sang Adik. “Terima kasih kakek, kalau begitu aku akan pergi menemui teman-teman ku dulu,” jawab Quinza bersemangat.


Quinza berjalan dengan tenang, ia tak pernah terburu-buru dalam melakukan sesuatu, suatu poin lebih pula untuk bisa menjadi teman dekat Arthur. “Waw, kau sangat cantik Quin, hanya saja baju mu terlalu berlebihan menurut ku,” ucap seseorang yang berhasil membuat rasa senang Quinza memudar.

__ADS_1


“Ini tidak berlebihan Zack, kau saja yang terlalu santai pada acara seperti ini,” jawab Quinza tanpa memandang King Zack Walton, ia tidak ingin menganggil nama depan anak laki-laki itu, terlalu serasi dengan namanya dan Quinza tak menyukai itu!


“Aku memang menginginkan tema santai untuk acara ulang tahun ku,” jawab King sambil berjalan mengikuti Quinza.


Langkah Quinza terhenti dan membuat King ikut menghentikan langkahnya. “Mana bisa seorang anak kecil menentukan tema ulang tahunnya sendiri!” Protes Quinza, disetiap acara ulang tahun Quinza ia selalu menyukai tema yang dipilihkan Arabella, baginya hari ulang tahun memanglah hal yang special, segala sesuatunya haruslah dipikirkan dengan baik dan harus indah.


“Tentu saja bisa, ini ulang tahun ku sendiri. Lagi pula aku sudah 12 tahun, 5 tahun lagi aku sudah bisa bebas menentukan hidup ku.”


Quinza berdecak pelan, ia sudah menghabiskan waktu terlalu lama untuk berbincang dengan anak laki-laki pembuat onar di sekolahnya. “Terserah kau saja Zack, dasar anak susah diatur,” ucap Quinza sambil melanjutkan perjalanannya. Tujuannya adalah Arthur, pria berpakaian rapi yang sama seperti dirinya.


King yang belum puas membuat Quinza kesal pada akhirnya mengikuti langkah anak perempuan itu menuju kumpulan para orang tua yang sedang asik berkumpul. Namun, langkah Quinza tidak berhenti pada kedua orang tuanya melainkan dua anak laki-laki lain yang sedang asik berbincang. “Hai, apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Quinza.


King yang ikut bergabung menaikan sebelah alisnya, tutur kata dan raut wajah perempuan itu seketika tampak begitu ramah. “Hanya sedang membicarakan tentang mu. Ernest, mengatakan kau sangat galak di rumah, seperti seorang macan betina,” kekeh Arthur yang langsung membuat kedua mata Quinza membulat dan menatap tajam sang adik.


“Memang begitu kenyataannya, apa aku salah berkata jujur?” Tanya Ernest yang tampak begitu menyebalkan bagi Quinza.


Quinza menginjak kencang kaki King dan berhasil membuatnya meringis kesakitan. “Quin!” Teriakan di belakang membuat Quinza memejamkan matanya pelan, ia pasti akan mendapakan omelan dari mommy-nya. “Apa yang kau lakukan? Sudah Mom katakan jangan pernah kasar pada teman mu,” omel Arabella mulai keluar, Quinza hanya bisa menghela napasnya, bagaimana pun ia sudah puas memberikan pelajaran pada King yang menyebalkan.


Arabella membalikkan tubuh Quinza pelan, entah apa yang harus ia katakan pada anak perempuannya, bertengkar dengan pemilik acara ulang tahun benar-benar memalukan, belum lagi saat Arabella mendapatkan kabar jika Quinza menjambak seorang teman perempuannya di sekolah hanya karena temannya itu berani menyenggolnya dan membuat burger yang di bawanya jatuh. “Jika kau kasar seperti ini terus kau tidak akan punya teman sayang,” ucap Arabella mencoba mengingatkan Quinza pelan.


“Tapi dia mengatakan aku macan betina Mom,” adu Quinza.


“Sudah Bella, tidak perlu memarahi Quin, ini pasti kesalahan anak ku yang sudah menjahilinya. Quin cantik, maaf kan King ya,” ucap Kimberly lembut.


“Mom, dia sudah menginjak ku dengan keras,” adu King pada Kimberly.

__ADS_1


Kimberly menatap tajam dengan senyuman yang dipaksakan pada anak laki-lakinya. “Sttt. Sudahlah King, jangan mengganggu Quin lagi, kau ini,” desis Kimberly. “Lebih baik kita mulai saja pestanya,” ucap Kimberly bersemangat pada orang tua yang ada di sekeliling mereka.


Quinza sedikit cemberut saat tangannya di tuntun paksa oleh Arabella, matanya mencari James, ia lebih baik bersama sang kakek yang selalu membelanya dan mendukungnya. “Diamlah di sini, ikut bernyanyi dan berikan kado ini nantinya pada King, kau harus berminta maaf pada King sayang, bagaimana pun tindakan mu barusan tidaklah baik,” ucap Arabella.


“Ya Mom,” lirih Quinza dengan malas, ia menoleh kearah samping saat mendengar suara panggilan kecil.


“Kau memang selalu mengagumkan Quin,” ucap Arthur tiba-tiba membuat senyum Quinza yang pudar kembali muncul dan bersemangat. Semenjak saat itu, Quinza meyakinkan dirinya jika Arthur adalah cinta pertamanya dan King akan selalu menjadi musuhnya.


\~



Haiii Semuanya!


Untuk menemani puasa kalian, aku bikin cerita tentang pernikahan ya, kali ini latarnya di Indonesia, gak akan terlalu panjang dan emang buat sampai lebaran aja.



Setiap perempuan pasti memiliki pernikahan impiannya sendiri, mengandung dan menjadi seorang ibu.


Rahma mengira pernikahannya akan berjalan indah dan bahagia, dia diperkenalkan dengan seorang Dokter muda bernama Iqbal, sosok laki-laki yang juga dibanggakan kedua orangtuanya.


Awalnya, memang tidak ada yang salah dengan pernikahannya, hingga Rahma menemukan Iqbal masih sering bertemu dengan mantan kekasihnya, Indira, seorang model cantik yang cukup terkenal di sosial media.


Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa tap love.

__ADS_1



Udah aku up 1 bab dulu ya, perkiraan upload jam 9 di profil NovelToon aku. Jangan lupa mampir dan masukin ke beranda kalian.


__ADS_2