
Malam ini Arabella tertidur dengan cepat, Axton membuka pelan pintu balkon dan duduk ditemani dinginnya malam yang terasa menusuk kulit.
Axton mengeluarkan ponselnya dan membuka kembali pesan masuk dengan sebuah lampiran foto yang diambil secara diam-diam bahkan dari jarak jauh melewati jendela rumah terbuka. Dalam foto tersebut terlihat jelas sepasang kekasih tengah bercum-bu dengan tenang. "Benar-benar pemain yang handal," gumam Axton. Belum dua hari genap Arabella memutuskan Daniel, dan kini pria itu sudah berhasil membujuk sahabat Arabella dalam ucapan manisnya, namun entah, mungkin saja mereka memang sudah mengkhianati Arabella jauh sebelum Arabella menjadi tawanannya.
Sangat disayangkan, wanita secantik Arabella bisa menaruh hati pada pria seperti ini, dan Axton cukup beruntung mendapatkan Arabella yang mampu menjaga dirinya. Axton mematikan ponselnya, setidaknya ia sudah memiliki sebuah foto yang akan ia tunjukkan jika suatu saat nanti Daniel kembali mengusik Arabella, foto ini sudah sangat jelas menunjukkan betapa kurang ajarnya pria itu, dan Arabella tak berhak sama sekali menangisi pria seperti Daniel.
Namun, melihat reaksi Arabella yang sudah tak memikirkan Daniel cukup membuat Axton tenang, nampaknya Arabella sungguh-sungguh dengan ucapannya dalam melupakan David.
__
__ADS_1
Keesokan paginya, Arabella terbangun tanpa Axton disampingnya, cuaca sudah cukup cerah pagi ini dan Arabella yakin Axton sudah pergi menuju Casino.
'Tok Tok Tok'
Ketukan pintu itu terdengar cukup pelan, tak lama pintu kamar terbuka dan Sarah masuk membawakan sarapan untuknya diatas nampan. "Selamat pagi Nona, bagaimana keadaan mu sekarang? Aku menyiapkan sup ikan tuna yang lezat untuk mu,” ucap Sarah dengan ceria.
Arabella tersenyum lembut, ia pun duduk dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang. Sarah menyusun sarapan Arabella diatas meja dekat jendela, dan kali ini lengkap dengan sebuah vitamin. “Terima kasih Sarah, aku selalu menyukai masakan mu,” ujar Arabella. Perlahan ia mulai beranjak dari atas ranjang dan duduk disofa, namun baru saja Arabella duduk, sebuah aroma yang cukup menyengat dari sup tersebut membuat rasa mual itu kembali terasa.
“Apa aku harus memanggilkan dokter Nona?” Tanya Sarah yang terlihat khawatir dengan keadaan Arablla, Sarah mengusap pelan punggung Arabella, merapikan helaian rambut Arabella yang tampak menjuntai kebagian kiri bahunya.
__ADS_1
Arabella menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia menatap dirinya dipantulan cermin dan menoleh kearah Sarah melalui cermin yang sama. “Baunya sangat menyengat Sarah, tidak seperti biasanya,” ucap Arabella.
Sarah tampak kebingungan dan mengerutkan keningnya pelan. “Tapi itu sup yang biasanya aku buat Nona, bahkan aku sudah mengurangi sedikit bumbu Nona,” jawab Sarah.
“Tidak Sarah, kali ini sangat menyengat dan aku tidak bisa memakannya.”
“Apa anda ingin mengganti menu serapan? Aku akan menyiapkannya dengan cepat,” tawar Sarah pada akhirnya, ia ingin mengatakan sesuatu yang ada dipikirannya namun sangat tak sopan jika ia mengatakan isi pikirannya pada Arabella.
“Sup sayur seperti kemarin saja Sarah, aku tidak bisa memakan daging ataupun makanan berbau menyengat untuk saat ini,” ucap Arabella. Dengan perlahan Sarah membantu Arabella untuk kembali ke dalam kamar dan mendudukannya dengan pelan ketepi ranjang.
__ADS_1
“Aku akan menyiapkannya terlebih dahulu Nona,” pamit Sarah dengan ia cepat merapikan kembali makanan yang ada diatas meja keatas traynya.