Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 135 - Jadilah Pelindung


__ADS_3

"Dicki meninggal dunia, aku dan yang lain akan segera memakamkannya," ucap Liam, dia melerai pelukannya pada sang istri.


Menatap wajah Rilly yang sudah begitu sembab, basah dengan air mata. Liam menghapus air bening itu.


Meski tak tega meninggalkan Rilly sendirian dalam keadaan seperti ini tapi Liam harus tetap pergi, ini adalah penghormatan terakhir yang bisa dia berikan pada sang anak buah. Dicki adalah yang usianya paling muda diantara mereka semua, dan tak menyangka justru pergi paling awal.


Rilly makin menangis dan mengangguk, dalam satu waktu dia kehilangan 2 orang sekaligus.


Rilly pun tak akan mencegah Liam untuk pergi.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Liam mengambil ponselnya hingga terlihatlah dua panggilan tak terjawab dari oma Putri.


Deg! jantung Liam kembali berdenyut nyeri. Dia tidak punya jalan lagi untuk melarikan diri dan kini hanya bisa menghadapinya secara langsung.


"Aku akan meminta Oma Putri dan kakek Agung untuk datang ke sini," ucap Liam pada sang istri, dia menelpon kedua orang tua tersebut.


Rilly terdiam sesaat, hanya menatap kedua mata sang suami yang nampak sayu.


"Apa mereka akan mengetahui semuanya?" tanya Rilly lirih dan Liam hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


Rilly menganguk juga, menangis lagi namun kini buru-buru menghapus air mata itu.


Liam mendekati Rilly lagi dan langsung mencium bibir wanitanya, ciuman yang begitu dalam dan kasar seperti selama ini.


"Aku pergi dulu," pamit Liam.


Rilly mengangguk.


Saat pintu ruangan itu tertutup Rilly membuang nafasnya berat, sementara hatinya jelas sekali jelas sekali terasa mengganjal.


Dan setelah berada di luar ruangan rawat sang istri Liam pun segera menghubungi Oma Putri.


"Astaghfirullahaladzim ya Allah Liam, kamu kemana saja Nak, sejak semalam oma mencemaskan kamu dan Rilly," jawab oma Putri langsung, menunjukkan secara jelas bahwa saat ini dia sedang khawatir.


Dan diantara langkah kakinya terus berjalan Liam pun juga bicara dalam sambungan telepon itu.


"Maaf Oma, sekarang aku belum bisa menjelaskan apapun. Frans akan datang ke hotel untuk menjemput oma dan kakek, setelahnya datang ke rumah sakit karena saat ini Rilly sedang di rawat di sini," jelas Liam, Sekarang dia sudah tidak bisa berbohong tentang apapun.


"Astaghfirullahaladzim apa yang sudah terjadi pada Rilly Liam?"

__ADS_1


"Maaf Oma, aku akan menjelaskan nanti. Oma percaya padaku, semuanya baik-baik saja." mohon Liam pula, dia bahkan menghentikan langkahnya saat bicara seperti itu.


Dan oma Putri coba untuk mempercayai ucapan sang menantu. Setelah panggilan telepon itu putus oma Putri pun segera bersiap dan menunggu jemputan Frans. Selama menunggu, hati wanita paruh baya itu begitu cemas.


Dia hanya mampu menggenggam erat tangan kakek Agung untuk jadi penenang.


Jam 7 pagi akhirnya seluruh anggota Black Venom telah tiba di tempat pemakaman, melihat secara langsung saat Dicki di kubur. Sampai pusara itu kembali ditutup dengan rapat.


Beberapa orang tak bisa menahan tangis, beberapa menahan diri dengan dadda yang terasa sesak.


Liam lantas membuat lubang kecil di samping makam Dicki, dia mengubur sebuah bunga mawar di sana.


"Anakku juga meninggal Dicki, aku mohon jadilah pelindung untuk anakku di alam sana," ucap Liam.


Semua orang tentu terkejut mendengar kalimat itu, namun tanpa perlu dijelaskan apapun semuanya sudah paham.


Bahwa Rilly keguguran.


Dan makin sesak lah dadda semua orang.

__ADS_1


__ADS_2