Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Arabella tak percaya dengan apa yang ia lihat, Axton kini sedang duduk disebuah sofa panjang menghadap kearah pintu. "Axton?" Arabella dengan cepat menoleh kearah James, dimana James pun tengah menatap tak percaya kearah Axton yang tiba-tiba saja ada dihadapan mereka. "Apa aku tidak salah lihat Dad?" Tanya Arabella pelan.


James menggelengkan kepalanya, lalu menoleh kearah Arabella. "Sepertinya tidak, aku pun melihatnya."


Arabella kembali menatap kearah Axton, kini pria yang ia sayang itu berjalan pelan kearahnya. "Bella," panggil Axton lembut, sebelah tangannya terulur menyentuh bahu Arabella. "Maaf atas keegoisan ku, aku,,, aku akan menerima bayi kita dan aku akan menikahi mu."


Bagaikan ada sebuah kilat disiang hari, Arabella tak mampu berkata, hingga suara jatuhnya koper dan tas mengalihkan perhatiannya. "Kau mengatakan ini dengan sungguh-sungguh bukan? Aku tak ingin kau menyakiti anak ku kambali, lebih baik Bella bersama dengan pria baik seperti Daniel.”

__ADS_1


Mendengar itu raut wajah Axton kembali tak bersahabat, ia menatap tajam kearah James. Namun, hanya suara decakan kecil yang Axton keluarkan sebelum ia kembali menatap kearah Arabella. “Aku tidak bermaksud jahat pada mu, hanya saja kau pun tahu bagaimana trauma ku pada sebuah keluarga, aku hanya takut semua kembali seperti dulu, kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki sangat membekas, aku hanya memiliki seorang ibu dan dia meninggalkan ku seorang diri didunia ini.”


Mata Arabella berkaca, ia tak membutuhkan alasan apapun, yang ia butuhkan hanyakan Axton berasa di sampingnya. Dengan cepat Arabella memeluk Axton dengan begitu erat, ia menumpahkan tangisnya pada tubuh kekar itu. Akhirnya, Arabella tak akan kehilangan Axton untuk selamanya. “Aku tidak akan pernah meninggalkan mu seorang diri Axton, aku berjanji kita akan melewati semuanya bersama-sama,” ucap Arabella.


Senyum Axton pun mengembang, ia membalas pelukan Arabella dengan erat. “Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan,” lirih Axton penuh kelegaan didalam hatinya.


“Tapi aku tidak membutuhkan seorang Ayah,” jawab Axton.

__ADS_1


Arabella meringis pelan dan memukul pinggang Axton. “Sttt, sudahlah, setidaknya Ayah ku ingin menjadi keluarga untuk mu,” desis Arabella.


Axton melepaskan pelukannya pada Arabella dan membalikkan tubuhnya kearah James, ia tersenyum dengan penuh maksud lalu memeluk pria yang cukup membuatnya kesal diawal pertemuan mereka. Namun, siapa sangka pria ini menjadi perantara takdirnya untuk bertemu Arabella, wanita yang berhasil menjungkir balikkan hidup Axton yang rasanya sudah mati dan membosankan. “Terima kasih sudah datang pada ku dan pukulan mu itu yang berhasil menyadarkan ku,” bisik Axton.


Terdengar kekehan kecil dan James menepuk pelan punggung Axton. “Tidak perlu berterima kasih, itu sudah tugas ku menjadi seorang Ayah yang tidak berguna,” balas James.


Axton pun melepaskan pelukan itu dan menatap beberapa barang dan koper yang ada disekitar James. “Kalau begitu ayo kita kembali ke Maxico dan tinggal dirumah ku,” ucap Axton.

__ADS_1


Arabella menganggukkan kepalanya dengan cepat, namun James justru sebaliknya. “Kau serius? Hampir 4 jam aku duduk, perjalanan yang ditempuh cukup membuat ku lelah. Bisakah kita tidur semalam disini? Aku tidak bisa kembali duduk lagi selama 4 jam untuk sampai disana!” Protes James.


__ADS_2