
Dansel menaiki anak tangga dengan semangat, di bibirnya bahkan terlihat jelas senyum yang terukir lebar.
Tiba di depan pintu kamar sang Tuan, Dansel langsung mengetuknya. Di ketuk pelan-pelan karena tidak ingin mengganggu Rilly.
Tapi ketukan pintu itu sangat menggangu bagi Liam, dia yang baru saja ingin memeluk sang istri jadi urung.
Membuat bibirnya mencebik dan Rilly jadi tertawa.
"Sana buka dulu, siapa tau pengasuh," kata Rilly.
Liam mengangguk, namun sebelum benar-benar pergi untuk membuka pintu itu dia lebih dulu mengecup kening sang istri. Saat ini mereka berdua sudah sama-sama berbaring di atas ranjang.
"Ada apa?" tanya Liam ketus, ketika dilihatnya Dansel yang berdiri di depan pintu kamar.
"Penting Tuan, Aku ingin bertemu dengan Rilly."
"Astaga, malam-malam begini kamu ingin menemui istri orang," balas Liam, kedua matanya menatap tajam.
Tatapan yang membuat Dansel langsung menciut.
Dia nyaris mundur, sebelum akhirnya terdengar suara Rilly yang menyahut.
"Siapa Mas?" tanya Rilly, karena sang suami nampak hanya berdiri di ambang pintu, tidak masuk lagi ataupun keluar.
"Dansel, ingin bertemu denganmu," jawab Liam, dia juga membuka pintu itu lebar-lebar dan masuk, mengizinkan Dansel masuk juga.
__ADS_1
Di dalam hatinya, Dansel bersorak senang.
"Maaf Ril, tetaplah di situ, aku hanya akan bertanya satu hal," ucap Dansel.
Liam juga langsung naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya, tak peduli jika mereka berdua sedang berhadapan dengan Dansel.
"Mau tanya apa?" tanya Rilly.
"Ella sudah punya kekasih belum?"
"Astaga," sahut Liam.
Sementara Rilly sudah tertawa cukup kuat, namun buru-buru dia meredakan tawa itu sendiri.
"Sepertinya belum, selama ini dia hanya sibuk dengan pekerjaan," jawab Rilly setelah tawanya hilang, kini hanya mengulum senyum.
"Baiklah, terima kasih," jawab Dansel, pria itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
Sampai membuat Liam geleng-geleng kepala.
"Pergilah dan tutup pintunya," titah Liam.
"Baik Tuan," jawab Dansel patuh.
Dengan langkah kaki penuh semangat, dia pun meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Saat pintu sudah ditutup oleh Dansel, Liam pun segera menarik sang istri untuk tidur di dalam pelukannya.
"Tidurlah sayang, hari ini kamu pasti lelah. Seharian belajar menggendong baby Jason dan baby Ava bersamaan," kata Liam.
Rilly tersenyum dan membalas pelukan sang suami.
"Besok giliran aku yang belajar, ya?" tanya Liam pula dan Rilly langsung mengangguk antusias.
"Memangnya Mas Liam mau belajar juga?" tanya Rilly, dia mendongak hingga tatapan mereka berdua saling bertemu.
Rilly pikir Liam tak akan mau peduli bagaimana caranya mengurus anak-anak mereka. Lagi pula saat ini sudah ada dua babysitter yang menangani.
"Tentu saja Mau, Jason dan Ava bukan hanya tanggung jawabmu, tapi tanggung jawabku juga. Tidak, kalian bertiga adalah tanggung jawabku, kamu, Jason dan Ava," terang Liam.
Sebuah penjelasan yang membuat hati Rilly jadi begitu hangat, mendengar kata-kata seperti itu saja dia sudah merasa haru sendiri, sampai kedua matanya nampak berkaca-kaca.
Liam lantas membelai lembut wajah sang istri. Mencium keningnya, mencium hidungnya, dan terakhir mencium bibirnya.
Pagutan mesra pengantar tidur.
Di luar sana Dansel kembali mendatangi dapur, memeriksa apakah masih ada Ella atau tidak.
Tapi ternyata gadis itu sudah tak di sana, namun Dansel tetap tersenyum, itu artinya Ella sudah tidur.
Selamat malam cantik. Batin Dansel. Seolah mengucapkan kalimat itu pada Ella, padahal yang dia tatap saat ini hanyalah dapur yang sepi.
__ADS_1