Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
112 Pelajaran Berpedang


__ADS_3

“Siapa yang menyuruhmu beristirahat!!”


Sial Azka melupakan Guru galak itu.


***


“Ya maaf” sahut Azka singkat lalu segera berdiri kembali.


“Siapa namamu?” tanya Azka pada pria gagap yang membantu mengipasi keringatnya.


“Nam Shin … I it- itu nn nama kku” jawab Nam Shin gagap membuat Azka keheranan.


Pria ini hanya tidak gagap saat menyebutkan namanya.


“Baiklah, terimakasih Nam Shin” ujar Azka lalu segera berlari ke arah Guru galaknya dan meninggalkan Murid cupu itu kembali menyendiri.


“Saya sudah menyelesaikannya, dan saya butuh istirahat, apa tidak boleh?” tanya Azka masih mencoba sopan.


Yah dia harus menahannya agar semuanya berjalan dengan lancar, dia bisa saja membangkang namun dia perlu berhati hati di Benua Tengah ini, apalagi dia belum mengetahui identitasnya, dan juga musuhnya kali ini adalah Klan Iblis!.


“Tidak boleh, karna aku tidak mengizinkannya!!” jawab Guru Fao ketus membuat Azka benar benar ingin mencincang orang di depannya itu.


“Nona aku bisa membantumu mencincangnya” sahut Tao dari ruang dimensi namun tidak di hiraukan Azka sama sekali.


“Kenapa?” tanya Azka.


“Karna hukumanmu belum selesai” jawab Guru Fao sambil memberikan sebuah pedang kepada Azka.


“Mari bertarung” lanjutnya membuat semua Murid terbelalak kaget.


Guru Fao ini benar benar!! dia bahkan tidak memberikan Azka minum dan langsung mengajaknya bertarung.


“Ayo” ajak Azka lalu segera mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.


“Huh … aku pasti akan mematahkan kesombonganmu itu” ujar Guru Fao lalu segera menyerang Azka membuat seluruh Murid segera menepi untuk melihat pertunjukan itu.


Mulai dari gerakan menyebet, menusuk sampai menendang sudah di lakukan Guru itu, namun Azka masih menghindari serangannya dengan santai.


Hehehehe soal fisik dan ketangkasan Azka nomor satu, jadi jangan salah jika Guru itu akan menganga nantinya.

__ADS_1


“Guru, apa aku boleh menyerang?” tanya Azka yang kini melupakan sopan santun nya yang memang tidak tahan lama.


“Heh kau bercanda?” bukannya menjawab Guru Fao malah balik bertanya sambil membalik tubuhnya untuk melakukan gerakan salto membuat Azka harus mundur beberapa langkah untuk menhindari dari tendangan serta sebetan pedang Guru itu.


“Guru, kamu ingin membunuhku?” tanya Azka saat merasa serangan Guru Fao benar benar tertuju ke titik vitalnya.


“Maka kau harus menghindar agar tidak terbunuh” jawabnya santai lalu segera menyebet kaki Azka namun berhasil di hindari dengan Azka yang langsung melompat.


“Baiklah, ini kau yang meminta” gumam Azka lalu segera mendekat ke arah Guru Fao.


String!! String!!


Bunyi pedang berdenting tatkala Azka mulai menyerang, dengan cara menusuk lalu memutar mutarkan pedangnya agar membuat fokus lawan buyar, tidak berhenti di situ Azka bahkan membuat gerakan kayang untuk menyebet kaki Gurunya yang hendak menginjak kakinya membuat Guru Fao terjatuh namun masih bisa kembali berdiri.


Tidak ada darah, karna Azka menyebet kaki Gurunya menggunakan tangannya.


“Tidak buruk” ujar Guru Fao lalu berlanjut menyerang Azka.


Sorakan demi sorakan pun mulai menggema dari Murid Murid disana, ada yang menyoraki Guru Fao terutama perempuan dan ada juga yang menyoraki Azka yang keren di mata mereka untuk ukuran Murid baru.


“Aku tahu” sahut Azka lalu segera membuat gerakan untuk mengakhiri pertarungannya.


Dengan segera Azka mundur untuk melakukan tendangan atas hingga menyentuh tangan kanan Guru Fao dan membuat pedangnya terlepas dari tangan Guru itu, tidak berhenti di situ Azka juga menjambak rambut Guru itu lalu menendang kakinya hingga membuat Guru Fao jatuh tersungkur.


Sengaja emang, Azka kesal sih.


“Lalu aku harus bagaimana? bukankah ini hanya latihan? aku hanya meminimalisir terjadinya luka parah” ujar Azka membuat Guru Fao terdiam.


“Pelajaran hari ini selesai, kalian bisa kembali” ujar Guru Fao tanpa menggubris perkataan Azka.


“Cih … Guru ini benar benar membuatku frustasi” gumam Azka pelan lalu segera pergi sebelum.


“Siapa yang menyuruhmu pergi?” tanya Guru Fao pada Azka dengan nada ketusnya membuat Azka benar benar kesal.


“Guru bilang pelajarannya telah selesai” jawab Azka membuat Guru Fao terkekeh.


“Pelajarannya memang selesai, namun hukumanmu belum selesai” ujar Guru Fao membuat Azka dan seluruh penghuni ruang dimensi mengerang kesal.


“Aku benar benar tidak bisa menahannya” ujar Zhishu dari ruang dimensi lalu segera melangkah keluar sebelum.

__ADS_1


“Selangkah lagi akan ku suruh kamu tidur di Kerajaan mu!!” sahut Azka sontak membuat Zhishu mengurungkan niatnya.


“Ahh istri … pria itu menggodamu” rengek Zhishu membuat Azka ingin tertawa namun harus menahannya.


“Heran deh sama mata kamu, dia itu sedang mengerjaiku bukannya menggodaku” ujar Azka membuat rengekan Zhishu berhenti.


“Istri kamu perlu tahu, di dunia ini banyak sekali laki laki buaya, dan mereka biasanya menggunakan berbagai cara untuk pendekatan, misalnya pura pura galak atau pura pura tidak tertarik namun jauh di lubuk hatinya dia ingin memikatmu” ujar Zhishu panjang lebar membuat kepala Azka sakit.


“Dan yah … aku sudah pernah bertemu dengan salah satu buaya itu” sahut Azka membuat Zhishu semangat melanjutkan teori buaya daratnya.


“Siapa dia? beraninya menggoda istriku”


“Orang itu adalah Zhu Zhishu si buaya darat yang berpura pura idiot untuk mendekatiku!! heh bukankah itu sebuah tak tik buaya darat kelas kakap!!” sahut Azka membuat Zhishu kicep.


Itu benar namun dia bukan buaya karna dia hanya seperti itu di depan Azka.


“Ah istriii … Zhishu itu berbeda, Zhishu hanya seperti itu pada istri” rengek Zhishu mode manja yang terdengar menggelikan di telinga Azka.


“Sudah cukup, lagi pula aku akan menemani Guru songong ini bermain main terlebih dahulu lalu membuatnya kapok sampai tidak ingin bertemu dengan ku lagi!!” ujar Azka membuat semangat Zhishu kembali.


“Zhishu mendukungmu!!”


“Kenapa diam saja? apa kamu takut dengan hukumannya? maka silahkan untuk meninggalkan Akademi ini” tanya Guru Fao kepada Azka yang sedari tadi diam tanpa menyahut karna sibuk bertelepati dengan Zhishu yang berada di dalam ruang dimensi.


“Tidak terimakasih, aku kesini untuk belajar bukan untuk berdebat dengan Guru” jawab Azka enteng.


Benar benar melupakan sopan santunya.


“Huh alasan!! apa ini cara orang kaya pamer kepada orang orang seperti kami?” tanya Guru Fao dengan tatapan sinisnya.


“Orang seperti kami? seperti apa maksud Guru?” bukannya menjawab Azka malah kembali bertanya membuat Guru Fao kesal.


“Apa pedulimu? lebih baik cepat ikut aku ke Pavilium para Guru dan bawa semua pedang itu bersamamu” perintah Guru Fao membuat Azka menaikkan salah satu alisnya.


“Kenapa tidak Guru masukkan saja pedang pedang ini ke cincin ruang?” tanya Azka saat menatap benyaknya pedang berserakan di arena pelatihan itu.


“Heh … kami orang orang miskin mana punya sesuatu seperti itu”


Sial!! … lagi lagi membawa kata miskin dan kaya, apa orang ini maniak hal hal semacam itu.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪


__ADS_2