
“Tidak perlu lagi pula aku benar benar sedang ingin menikmati perjalanan ini” jawab Azka lalu menyenderkan pungungnya di dada bidang Zhishu.
“Baik Nona” sahut Tao lalu kembali fokus ke perjalanan mereka.
***
Detik terus berlalu dan berganti menjadi menit, lalu menit akan terus berputar dan menjadi jam, tidak terasa hari sudah malam dan rombongan Azka sudah mulai memasuki perbatasan Kerajaan Barat yang rawan akan bandit.
Azka sendiri sudah turun dari punggung Tao Macan bersama Zhishu sedari tadi, dengan Tao yang kini sudah menyusut menjadi Kucing dan berada di gendongan Azka sambil memakan beberapa pil pemulihan tenaga dalam yang Azka berikan.
Ehem alasan kenapa Azka tidak menyuruh Tao untuk merubah wujudnya menjadi manusia saja agar bisa berjalan bersama adalah, meminimalisir terjadinya sesuatu yang menyebabkan Tao akan menjabi obat nyamuk dan makin keliatan jomblonya.
“Yah aku benar benar berharap tidak bertemu bandit professional maupun bandit abal abal kali ini” ujar Azka sambil merenggangkan otot ototnya akibat terlalu lelah duduk.
“Haruskah aku menggendongmu?” tanya Zhishu sambil berjongkok di depan tubuh Azka.
Tanpa berfikir dua kali segera Azka naik ke gendongan Zhishu dengan Tao yang bertengger manis di pundaknya, Zhishu sendiri segera berjalan agar cepat sampai di penginapan mengingat Azka yang sering tidur tanpa miscall terlebih dahulu.
“Apa kamu bisa melihat jalanan, ini benar benar gelap” ujar Azka sambil mengedarkan pandangannya.
Yah meski kali ini keduanya sudah berada di perbatasan namun tetap saja perbatasan itu di penuhi pohon pohon rindang dan masih berada di kawasan hutan, jadilah sinar rembulan tidak dapat masuk dan menyinari isi di dalam hutan tersebut.
“Jangan hiraukan aku, mataku ini sangat istimewa hingga dapat melihat dalam gelap sekalipun” jawab Zhishu yang kini masih fokus berjalan.
“Wuah … mau dong punya mata yang kayak gitu” ujar Azka sambil menepuk nepuk punggung Zhishu membuat Zhishu hanya mampu terkekeh pelan.
Jika seperti ini rasanya Zhishu akan mengurung gadisnya ini untuk dia miliki sendiri, dia benar benar tidak terima jika tingkah imut sang gadis akan diketahui orang lain, dan orang itu pastilah akan menyukai Azka lalu mengharuskan Zhishu untuk membunuhnya.
“Hallo guys hari ini aku digendong loh sama pria ganteng, Zhishu ya, Zhishu ya tolong tersenyum sedikit” ujar Azka sedikit menggunakan aksen koreanya sambil menarik narik pipi Zhishu agar tersenyum menghadap kamera handphone yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya dan mulai merekam menggunakan kamera depan dengan flash yang menyorot wajah keduanya di tambah Tao yang menyempil di sela sela rambut Zhishu.
Zhishu yang tidak tahu apa yang sedang dilakukan gadisnya dengan menggunakan kotak iblis itu pun hanya tersenyum mengikuti keinginan Azka.
“Tampan bukan, apalagi saat topengnya di buka! wah … sayangnya aku tidak akan memperlihatkannya karna kalian pasti akan terpesona” ujar Azka layaknya melakukan siaran langsung namun itu hanya rekaman biasa yang mungkin akan menjadi kenangan di handphonenya.
__ADS_1
“Kalian lihat kucing hitam yang sangat kontras dengan rambut cowok ku itu, dia bernama Tao, kucing keren doyan makan yang sayangnya jomblo” lanjutnya sambil mengarahkan kameranya ke wajah Tao membuat Tao langsung mendecih lalu kembali ke posisi nyamannya di pundak Azka.
“Zhu Zhishu apa kamu mencintai saudari Jovanka Azkiya?” tanya Azka dengan suara yang sengaja dibuat seperti laki laki sambil mengarahkan kameranya ke wajah mereka berdua kembali.
“Apa itu adalah pertanyaan?” bukannya menjawab Zhishu malah kembali bertanya membuat dahi Azka mengerut dan terlihat jelas di depan kamera.
Meski Zhishu tidak tahu Azka berbicara dengan siapa namun dia akan menanggapinya dengan sepenuh hati karna wajah Azka terlihat sangat imut saat sedang ngomong sendiri di depan handphone yang masih Zhishu sebut dengan kotak iblis.
“Tentu saja” jawab Azka.
“Maka aku akan merubahnya menjadi pernyataan agar hal itu bisa bersifat mutlak dan tidak terbantahkan, dengarkan baik baik kotak iblis” ujar Zhishu sambil menghentikan langkahnya dan memandangi handphone Azka dengan wajah yang serius membuat Azka sekuat tenaga menahan tawa.
Tidak bukan karna wajah serius Zhishu, melainkan sebutan Zhishu terhadap handphonenya yang masih sama sejak pertama kali.
“Aku Zhu Zhishu benar benar mencintai Jovanka Azkiya dan tidak akan pernah meninggalkannya sekalipun itu harus membunuhku, dan aku Zhu Zhishu akan selalu membahagiakan Jovanka Azkiya baik sekarang dan selamanya” lanjutnya dengan nada tak kalah serius membuat Azka langsung terdiam dengan jantung yang ingin terbang ke Meikarta.
“Kenapa diam saja hmm?” tanya Zhishu lembut saat merasa Azka sudah terdiam cukup lama sembari memandanginya, bahkan sampai Tao sudah kembali keruang dimensi dan Azka tidak menyadari hal itu.
Yah itu lebih baik buat Tao yang sudah muak melihat drama cinta di depannya, hingga mengakibatkan dirinya merasa terdzolimi karna jomblo sendiri.
Azka memang menerima serta mengakui perasaannya terhadap Zhishu, namun hal itu tetap saja tidak akan memungkiri terjadinya keraguan di dalam benak Azka.
Bukan tanpa alasan Azka meragukan perasaan Zhishu karna Azka punya banyak asumsi di benaknya yang memungkinkan keduanya akan saling menyakiti jika terus bersama.
Yang pertama Zhishu adalah seorang pemimpin sebuah kerajaan besar yang pastinya akan terjadi sebuah kontraversi jika Zhishu mengangkat seorang Ratu tanpa identitas, di tambah lagi sebuah Kerajaan besar pastilah memiliki harem di dalamnya, dan Azka tidak akan pernah mau berbagi laki laki pada wanita manapun.
Dan yang kedua, Azka bukan berasal dari sini dan tentunya akan kembali pada dunia asalnya serta meninggalkan Zhishu, meninggalkan cintanya dan akhirnya mereka akan tetap saling menyakiti.
Mampukah Azka melawan takdir dengan terus bersama Zhishu?, bisakah Azka menyalahkan cinta yang telah hadir pada seseorang yang tidak seharusnya? bisakah Azka terus berada disini bahkan setelah dia merelakan sang kakak yang sendirian disana?
“Lantas apa hubungannya? apa kini istri meragukan Zhishu?” tanya Zhishu beruntun sembari menghentikan langkahnya dan menatap Azka penuh selidik.
“Kau tau Zhishu, setiap pemimpin Kerajaan pastilah memiliki harem di dalamnya dan aku tidak akan mampu membagikan priaku kepada wanita lain” jawab Azka sambil menundukkan kepalanya dengan tangan yang masih setia menghadapkan kamera handphone nya.
__ADS_1
Lupa mungkin.
“Hanya itu?” tanya Zhishu enteng membuat Azka langsung mengangkat kepalanya.
“Hanya itu … ya!! kamu pikir itu hal mudah, wanita mana coba yang mau di duakan di tambah lagi aku bukan seseorang yang seharusnya berada disini, kamu tahu bukan” jawab Azka dengan nada yang sedikit di keraskan.
“Istri, jika kedudukanku mampu membuat mu meragukan cintaku, maka aku akan meninggalkannya untukmu dan memilih hidup bersamamu, sekalipun itu harus ditengah tengah hutan dengan segala kesederhanaan” jawab Zhishu dengan nada lembut membuat Azka merasa hangat dan terbawa suasana hingga menyembunyikan wajah bapernya di punggung Zhishu.
Tidak lupa tangan yang langsung melemparkan handphone nya ke dalam ruang dimensi secara asal setelah memencet tombol merah di layarnya.
“Kenapa bersembunyi hmm? aku serius” lanjut Zhishu membuat Azka semakin menenggelamkan wajahnya malu.
“Lalu untuk pertanyaan mu tentang asal usulmu, mungkin hal ini akan menyebabkan ketidak seimbangan alam karna memang yang seharusnya kembali akan kembali suatu saat nanti, tapi aku tidak akan keberatan untuk melawan takdir agar dapat terus bersamamu, sekalipun itu harus mendobrak pintu dunia atas, jika memang itu konsekuensinya maka aku akan tetap melakukannya untukmu” ujar Zhishu dengan nada serius menandakan apa yang dia bicarakan memang bukan hanya omongan semata.
“Tapi kenapa kamu harus selalu tertidur di akhir cerita ataupun perbincangan” lanjut Zhishu dengan gemas saat merasa punggungnya bertambah berat dengan nafas Azka yang mulai terdengar beraturan menandakan jiwa Azka sudah menyebrang kealam mimpi.
Kini Zhishu segera bersiap untuk berteleport ke penginapan terdekat agar Azka bisa segera menyamankan tidurnya, namun sebelum itu tiba tiba dua orang berpakaian serba hitam datang menghadap Zhishu membuat Zhishu mengurungkan niatnya.
“Salam hormat Tuan” salam Shuwan dan Minghao secara bersamaan.
“Bagaimana?” tanya Zhishu dengan nada yang berubah dingin.
“Kami sudah menghabisi Fang Lian beserta saudaranya, lalu kami juga sudah membereskan bandit bandit perbatasan sesuai harapan Nyonya besar agar perjalanannya berjalan lancar” jawab Shuwan membuat laporan.
“Namun ada sedikit kabar buruk tentang Haechan yang sudah menyediakan perahu di perbatasan yang akan di lewati Nyonya besar setelah Kerajaan Barat, kemungkinan Haechan sudah membuat rencana dengan mencegat perjalanan Nyonya besar di sana agar dapat mengikuti perjalanan Nyonya besar dengan Tuan ke Kerajaan Anyelir” sahut Minghao melengkapi laporan hari ini.
“Wah wah rupanya A Chan benar benar tidak mau kalah” gumam Zhishu membuat Shuwan langsung mengutarakan idenya.
“Haruskah kami menghabisinya juga?” tanya Shuwan.
“Tidak perlu, biarkan dia bermain main aku hanya perlu membawa istri langsung ke Kerajaan Anyelir dan melewatkan Kerajaan Barat agar A Chan kecewa”.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪