
“Heh … kami orang orang miskin mana punya sesuatu seperti itu”
Sial!! … lagi lagi membawa kata kata miskin dan kaya.
***
Dengan kesal segera Azka membenahi pedang pedang itu menggunakan elemen tanamannya untuk mengeluarkan sulur tanaman rambat dan memunguti pedang itu secara bersamaan.
Setelah terkumpul semuanya segera Azka memasukkan pedang pedang itu secara asal kedalam ruang dimensi, entah nantinya akan nyangkut di pohon atau nyemplung ke dalam Air Surgawi, masa bodo Azka lagi kesal.
“Huh sudah ku duga, orang kaya sepertimu pasti malas mengumpulkan pedang pedang itu menggunakan tanganmu sendiri” cibir Guru Fao lalu pergi meninggalkan Azka yang sedang tersenyum di balik selendangnya.
“Ada cara gampang kenapa harus memilih yang susah” ujar Azka tidak mau kalah membuat Guru Fao menghentikan langkahnya begitu pula dengan Azka yang tadinya mengikuti dari belakang kini ikutan berhenti.
“Sangat di sayangkan orang sepertimu harus memasuki Akademi ini” sahut Guru Fao melenceng dari pembicaraan lalu melanjutkan perjalanannya.
Azka sendiri tidak menggubrisnya, terserah apapun itu dia hanya ingin cepat cepat pergi untuk segera membuat rute pelarian menuju Kerajaan Iblis.
Tidak berselang lama akhirnya Azka sampai di halaman pavilium milik Para Guru, namun langkah mereka tiba tiba terhenti saat mendapati kepulan asap hitam mengelilingi pavilium itu.
Kebakaran!!
“Bukan kebakaran, itu pasti Guru Ling yang sedang mencoba membuat Pil” sahut Guru Fao tiba tiba membuat Azka dan seluruh penghuni ruang dimensi membelalakkan matanya kaget.
Orang ini bisa membaca pikiran orang lain.
“Aku tidak bisa membaca pikiran, hanya saja ini sering terjadi” sahut Guru Fao lagi.
Azka “…”
“Meski kamu tidak mengatakannya namun ekspresi wajahmu memberitahukan semuanya, sudahlah hal ini memang sering terjadi maka dari itu aku sudah terbiasa” ujar Guru Fao menjelaskan tanpa diminta.
“Sok tau, aku bahkan tidak mengatakan apapun” cibir Azka namun tidak dihiraukan oleh Guru Fao yang beralih masuk dengan kedua tangan yang menutupi area hidungnya untuk menghindari bau bau mencurigakan dari asap yang keluar dari pavilium itu.
“Wahh … kerusakan ini kenapa semakin parah?” tanya Guru Fao tepat saat kedua kakinya memasuki Pavilium Para Guru.
__ADS_1
“Dasar bocah!! kamu mengejek kakek tua ini ya?!” tanya Guru Ling tidak terima.
“Tidak tidak, hanya saja bukannya untung kita malah jadi rugi” jawab Guru Fao membuat Guru Ling mendengus kesal.
“Ah Nona Azka disini?” tanya Guru Yao saat mendapati tubuh kecil Azka yang tertutup tubuh tinggi Guru Fao di belakangnya.
“Salam Guru Yao, Guru Ling dan Guru Hwang” salam Azka sambil membungkuk saat menyadari ternyata semua Guru telah berkumpul disini.
Mungkin untuk menghujat kegagalan Guru Ling.
“Tidak perlu berpura pura sopan! tadi saja kamu mengataiku” sahut Guru Fao mencibir Azka.
“Guru aku harus menaruh pedang pedang itu dimana?” tanya Azka tanpa memperdulikan cibiran Guru muda itu.
“Cih, lihat sikap Murid yang mengabaikan Gurunya ini” ujar Guru Fao sambil mendecih tidak suka membuat Guru Yao tersenyum.
“Mari aku antar” ajak Guru Yao ramah membuat Azka semangat mengikutinya.
Memang laki laki tampan dan ramah itu lebih menyenangkan daripada laki laki tampan tapi sok gengsi dengan mulut pedas sebagai pelengkap ketidak sempurnaannya.
“Saya mengerti” jawab Azka singkat.
“Tidak perlu begitu sopan, anggap saja aku ini temanmu” ujar Guru Yao.
“Baiklah, sebagai teman aku ingin bertanya, apa boleh?” tanya Azka mulai bersikap santai kepada Guru Yao, membuat Guru muda itu terkekeh pelan.
Yah sebenarnya Azka tidak begitu menguasai bahasa formal, itulah kenapa sopan santunnya sering terlupakan.
“Hahahaha, baiklah kamu ingin menanyakan apa?” tanya Guru Yao di sela sela tawanya.
Perubahan sikap Azka benar benar cepat membuat Guru Yao tidak tahan, sepertinya Muridnya ini benar benar harus belajar tata krama.
“Sebelumnya aku mendengar ini dari Guru Fao kalau Guru Ling sering membuat Pil dan berakhir meledak, kenapa Guru Ling masih terus mengulanginya jika sudah tahu hasilnya akan sama?” tanya Azka membuat Guru Yao menghentikan langkahnya.
“Masuk lah, dan taruh semua pedangnya di rak itu” ujarnya sambil menunjuk susunan rak di pojokan ruangan tanpa menjawab pertanyaan Azka.
__ADS_1
Azka sendiri tidak banyak protes dan langsung memindahkan pedang pedang dari ruang dimensi menuju rak rak itu.
“Sebenarnya sudah 2 bulan ini Guru Ling sering mencoba untuk membuat Pil Regenerasi yang terbilang cukup langka meski ini adalah Benua Tengah” ujar Guru Yao tiba tiba menjawab pertanyaan Azka, padahal Azka sendiri sudah tidak perduli jika tidak mendapat jawaban.
“Pil Regenerasi? apa Guru Ling sedang berusaha menyembuhkan seseorang yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya?” tanya Azka yang kini kembali ke mode penasaran.
“Tidak, hanya saja akibat Pil itu yang terbilang langka dan juga hanya beberapa alchemist hebat yang mampu membuatnya, harga Pil itu di pasaran pasti menjadi lebih mahal, Guru Ling hanya mencari jalan pintas untuk segera mendapat banyak koin emas tanpa harus menjual banyak Pil lainnya” jawab Guru Yao membuat pikiran pikiran aneh muncul di benak Azka.
“Menjual? kenapa harus menjualnya? apa Akademi ini kekurangan Koin Emas? bukankah setiap bulannya Kerajaan Iblis mengirim ratusan Koin Emas ke setiap Kerajaan dan Akademi di Benua Tengah?” tanya Azka beruntun.
Dia ingat betul dengan informasi yang di berikan Xi Long jika Benua Tengah merupakan tempat terkaya akibat orang orangnya yang tidak perlu bekerja keras hanya untuk mendapatkan Koin Emas, hal itu di karnakan Kerajaan Iblis sudah menanggung semuanya.
“Menurutmu kenapa Akademi ini bisa jadi Akademi termiskin?” bukannya menjawab Guru Yao malah balik bertanya membuat Azka hanya mampu menggeleng tanda tidak mengerti.
“Karna kita orang orang dari Akademi Gujao tidak akan pernah menerima bantuan dari Kerajaan Iblis bahkan jika itu hanya sebutir beras” lanjut Guru Yao membuat pertanyaan aneh semakin bermunculan di benak Azka.
Kenapa begitu?
Apa mungkin Akademi Gujao pernah membuat masalah dengan Kerajaan Iblis?
Atau orang orang Kerajaan Iblis pernah menyinggung Akademi ini?
Atau yang lebih parah lagi orang orang Akademi Gujao berencana memberontak?!
Kira kira seperti itu lah pertanyaan pertanyaan yang bermunculan di benak Azka.
“Kenapa?” tanya Azka hati hati, dia menyerah untuk menebak hal yang tidak tidak dan nantinya pasti akan berujung penasaran yang berlebihan.
“Aku yakin kamu pasti tidak ingin mendengar alasan ini” jawab Guru Yao membuat Azka benar benar penasaran.
Oh ayolah sepenasaran ini tapi dia harus tetap menjaga citranya, apapun itu jika tentang Kerajaan Iblis Azka pasti tidak akan diam saja, namun dia juga tidak boleh bertindak terlalu kentara.
“Ah maaf telah lancang” ujar Azka lalu membungkuk untuk meminta maaf.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪