Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
88 Berpamitan


__ADS_3

Anyeong hello para pembaca setia TERLEMPAR KE ZAMAN KUNO mohon maaf ya semalem author gak up.


Sebenarnya author sibuk nyiapin kondangan buat Maulid Nabi jadi sengaja ngambil libur updet buat masak masak sambil bantu ini itu, tapi nanti author bakal kasih double up untuk hari ini, jadi di tunggu ya untuk chapter selanjutnya paling lambat entar malem.


HAPPY READING GUYS.


***


“Baiklah, jika kamu tidak marah maka besok kita akan melakukan perjalanan ke Benua Tengah” jawab Azka melenceng dari pembahasan membuat sebelah alis Zhishu terangkat.


“Kenapa tiba tiba? apa terjadi sesuatu?”


***


“Haruskah aku mengatakannya? bukankah kamu sudah tahu jawabannya?” bukannya menjawab pertanyaan Zhishu, Azka malah balik bertanya.


Azka hanya merasa jika dirinya pasti akan terlihat tidak berperasaan jika mampu mengatakan alasannya kepada seseorang yang pastinya akan menahannya pergi.


“Biarkan aku menanya kan satu hal” sahut Zhishu, kali ini masalah yang berputar putar di kepalanya lebih penting untuk di tanyakan.


“Jika seandainya istri benar benar bisa kembali, apa istri akan meninggalkan Zhishu disini? sendirian?” lanjutnya menanyakan suatu hal yang sukses membuat jantung Azka serasa tersengat puluhan lebah.


Entah kenapa Azka merasa dadanya nyeri mendengar kata ‘sendirian’ yang keluar dari mulut Zhishu.


Azka masih diam dan kembali memejamkan matanya, sungguh bukannya tidak ingin menjawab melainkan Azka benar benar tidak tahu jawabannya.


Apa dia sanggup meninggalkan Zhishu beserta orang orang yang dia cintai di zaman ini?


Apa dia sanggup meninggalkan kakak nya yang tampan di zaman modern lebih lama lagi?


Entahlah.


Melihat Azka yang tak kunjung menjawab pertanyaan nya membuat Zhishu membuang dua tusuk tanghulu yang semula akan dia berikan kepada Azka dengan kasar lalu membawa Azka kedalam dekapannya.


“Tidak usah di jawab, lagi pula apapun jawaban kamu nantinya aku pasti akan mengikuti kemanapun kamu pergi” ujar Zhishu membuat Azka mematung.


Apa Azka terlalu jahat pada Zhishu.


“Zhishu aku jahat, jangan mencintai ku” sahut Azka parau sambil mencoba keluar dari dekapan Zhishu.


Ya Azka merasa dirinya keterlaluan, dia punya Zhishu dan yang lain disini tapi kenapa hati kecilnya meminta untuk tetap kembali dan menemui kakaknya.


Lantas jika Azka keterlaluan maka sebutan apa yang cocok untuk Zhishu yang ingin terus menahan Azka disisinya tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Azka nantinya.


Pada akhirnya mereka berdua akan tetap saling tersakiti.


“Zhishu lepaskan aku, aku … aku tidak pantas mendapat cin-”

__ADS_1


“Shuutt ... siapa kamu yang berhak mengatakan tidak pantas mendapatkan cintaku? hanya aku si pemilik hati yang berhak memberikan ke siapa hati ku ini, dan aku memilihmu Jovanka Azkiya” sahut Zhishu memotong ucapan Azka.


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, mari berjuang bersama sama, kamu mau kita ke Benua Tengah, baiklah besok kita akan pergi untuk hasil akhirnya semuanya aku serahkan kepadamu” lanjut Zhishu sambil mengelus lembut rambut panjang Azka lalu membawa sang gadis untuk berteleport kembali kekamar Azka.


Sesampainya di dalam kamar Azka, Zhishu segera membaringkan gadisnya di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuh Azka mulai dari ujung kaki sampai dagu.


“Tidurlah, jangan memikirkan banyak hal” ujar Zhishu sambil mencium kening Azka lalu melesat pergi begitu saja meninggalkan Azka yang masih terjaga dengan beban fikiran besar di pundaknya.


Sedangkan Zhishu sendiri setelah membaringkan Azka di kamarnya dia langsung kembali ke kamarnya sendiri tanpa memperdulikan seorang Hua Haechan yang sedari tadi mengamati aktivitasnya.


“Shuwan, Minghao” panggil Zhishu setelah menutup pintu kamarnya.


Tiba tiba saja keluar dua orang berpakaian serba hitam yang tidak lain adalah Shuwan dan Minghao.


“Salam Tuan” salam mereka berdua bersamaan.


“Bagaimana?” tanya Zhishu to the point sambil melepas topeng buatan Azka yang melekat di wajah tampannya.


“Dugaan Tuan benar adanya, Fang Lian beserta adik perempuannya yang cacat kini berada di Benua Tengah dan sedang bekerja sama dengan beberapa Pejabat disana, Fang Lian si ahli Formasi di angkat menjadi tangan kanan dari jendral pasukan perang mengingat besarnya koneksi dari ayahnya, sedangkan Fang Yin dia masih cacat bahkan setelah meminum pil regenerasi, pita suaranya terputus dan alhasil hanya bisa sembuh jika ada seseorang yang menyambungkannya kembali” jelas Shuwan dengan posisi hormat ala ala kesatria di depat Zhishu.


“Tapi setelah berhari hari mencari tetap saja tidak ada yang mampu menyembuhkannya hingga kini Fang Yin di asingkan oleh para pejabat itu, awalnya Fang Lian tidak terima namun lama kelamaan dia mulai lupa dan mementingkan tujuan utamannya” sahut Minghao menceritakan apa yang selama ini dia selidiki bersama Shuwan.


“Tujuan utama? apa dia berencana balas dendam kepada istri karna telah membunuh ayahnya? jika iya segera habisi dia” ujar Zhishu dengan nada dinginnya membuat kedua bawahannya meneguk salivanya kasar.


“Itu … sebenarnya Fang Lian ingin menghabisi Tuan” sahut Shuwan hati hati membuat Zhishu langsung tertawa.


“Jadi duta shampoo lain!!!”


Plakk!!! enggak enggak, gak gitu konsepnya.


Back to story.


“Menghabisi aku, mimpi!!” sahut Zhishu di sela sela tawa dinginnya yang mengundang kematian.


“Sebenarnya Fang Lian menganggap Tuan sebagai saingannya, dia berencana mengikuti kaum iblis untuk menghabisi Zhishu terlebih dahulu baru meminta bantuan Kaisar Iblis untuk menghabisi Master Zhu yang telah berani melamar Nyonya Besar di penjamuan Istana kemarin” ujar Shuwan.


“Hanya itu Tuan yang kami dengar dari beberapa informan, serta pengakuan dari bawahan Fang Lian yang kami culik” lanjut Minghao sambil menunduk.


“Berani menaruh rasa pada gadisku, itu tandanya orang itu juga mau mencoba rasanya meninggal jadi mari kabulkan keinginannya” ujar Zhishu sambil menyeringai lebar.


“Baik Tuan, kami akan menghabisinya tanpa meninggalkan jejak” sahut Shuwan dan Minghao bersamaan.


“Bagus” ujar Zhishu lalu melambaikan tangannya untuk menyuruh Shuwan dan Minghao memulai pekerjaannya.


Tanpa menunggu perintah keluar dari mulut Tuannya segera Shuwan dan Minghao pergi dan menjalankan tugas yang menurut mereka penting untuk mensejahterakan kehidupan asmara Zhishu.


“Istri … meski kau berencana pergi meninggalkan zaman ini tapi aku bisa pastikan jika kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku, ingat ini … sejauh apapun kamu meninggalkanku aku pasti dapat menyusulmu kembali, bahkan jika itu artinya aku harus mati” gumam Zhishu pelan lalu berbaring di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


🐣🐣🐣


Pagi ini suasanya terbilang cukup cerah, tidak mendung dan tidak terlalu panas namun berbeda dengan keadaan di dalam pavilium khusus yang terbilang panas akibat kunjungan dadakan dari Ketua Akademi untuk mengajak Azka berlatih pedang namun.


Gagal.


“Tega sekali kalian berdua meninggalkan kakek tua ini sendiri!!” teriak Ketua Akademi sambil memeluk kaki Zhishu.


Zhishu yang pagi pagi sekali sudah rapi untuk bersiap melakukan perjalanan panjang pun menjadi frustasi akibat ucapan Haechan yang tiba tiba berencana untuk mengikuti perjalanannya saat Azka berpamitan tadi, di tambah lagi Ketua Akademi yang menahan kakinya sambil terus mengoceh kepada Azka yang sedang memijit pelipisnya.


“Oh ayolah Guru, kami akan sering mengunjungi Guru lagi pula aku berkeinginan untuk belajar lagi ke Akademi ternama di Benua Tengah” ujar Azka mencari alasan.


“Jangan menipuku, kemarin kamu bilang mau mengantar nyawa ke Kerajaan Iblis!! tidak tidak!! sebagai Guru mu aku tidak akan mengizinkannya” teriak Ketua Akademi keukeuh.


“Haiss siapa coba yang mau menghantarkan nyawa, yang benar saja … Muridmu ini masih sayang nyawa” elak Azka membuat Ketua Akademi sedikit melunak lalu berdiri untuk mendekati Azka.


“Guru kamu mau apa?” tanya Azka saat Ketua Akademi mendekat sambil membuang nafasnya kasar lalu merogoh lengan bajunya.


“Baiklah Muridku yang keras kepala, aku akan membiarkan mu untuk menempuh pendidikan di tempat yang jauh lebih baik meski itu hanyalah alasan, namun perhatikan kata kata Guru mu ini” jawab Ketua Akademi sambil memberikan semacam pluit namun terbuat dari bambu kepada Azka.


“Jauhi Kaisar Iblis!! meski kamu mencari Token Iblis tapi jangan sampai berurusan dengan Kaisar licik itu, nah pluit itu mungkin akan berguna nantinya untuk menyerang binatang Iblis aku akan memberikannya kepadamu” lanjut Ketua Akademi membuat Azka tersenyum kecil di balik cadarnya.


Gurunya ini memang sesuatu, kadang bersikap seperti anak kecil kadang juga bisa serius dan bersikap sesuai umur, jangan jangan Ketua Akademi punya kepribadian ganda.


“Terimakasih atas kemurahan hati Guru” ujar Azka lalu melakukan salam layaknya seorang Murid kepada Gurunya di ikuti Zhishu di sampingnya.


“Jaga diri kalian baik baik” sahut Ketua Akademi.


“Baik Guru” jawab Azka dan Zhishu bersamaan.


“Guru, Muridmu ini sangat miskin jadi hanya bisa meninggalkan ini untuk Guru” lanjut Azka sambil memberikan satu botol ukuran besar air surgawi beserta 10 pil penyembuhan tingkat tinggi membuat Ketua Akademi menganga.


Apa ini yang di namakan misikin.


“Ah tidak perlu repot repot” ujar Ketua Akademi sungkan namun tetap mengambil pemberian Azka dan langsung dia masukkan kedalam cincin ruang untuk berjaga jaga jika Azka berniat untuk berubah fikiran.


“Cih, tidak perlu repot repot tapi ujung ujungnya di ambil juga” cibir Bao Yu dari ruang dimensi yang tentunya hanya di dengar oleh Azka.


“Dan untuk kamu Tetua ketiga” ujar Azka tiba tiba sambil menunjuk Haechan membuat Haechan dengan sigap mendekat ke arah Azka dan yang lain.


“Apa Tetua benar benar ingin mengikuti kami berdua?” tanya Azka mencoba meyakinkan pendengarannya tadi saat Haechan mengeluarkan keinginannya tepat sebelum Ketua Akademi mengacau.


“Tentu saja!!” jawab Haechan mantap.


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪

__ADS_1


__ADS_2