
“Ehem ehem…. paman Hyunjin memang sangat tampan tapi akibat ketampanannya itu masa lalu kelam Tuan di mulai”
***
FLASHBACK ON.
2010, 13 Oktober.
Daegu, South Korea.
Hari itu musim gugur tengah melanda Korea Selatan, terlihat beberapa anak kecil yang masih berseragam sekolah sedang memojokkan seorang gadis kecil di gang pojok dekat sekolah Swasta terfavorite di Daegu.
“Ya!! bukan kah ini Azka yang sering melindungi Hyunjin di sekolah khusus” ujar salah satu bocah laki laki kecil berumur 10 tahun yang kini menenteng kerah sragam sekolah Azka yang waktu itu masih berusia 5 tahun.
“Oppa kamu benar dia lah yang waktu itu menarik rambutku saat aku menyuruh bocah idiot itu untuk mencium sepatuku” sahut bocah perempuan dengan bando kupu kupu di kepalannya.
“Ayo habisi saja dia bos agar tidak berani membuat masalah lagi dengan dengan anak pengusaha nomor satu di Daegu ini” sahut bocah laki laki yang satunya, mungkin teman dari dua bersaudara itu.
“Cuihh…. yeoja itu sendirilah yang memulainya dengan mengganggu kakak ku” teriak Azka setelah meludah tepat di wajah bocah laki laki yang sedari tadi menenteng kerah bajunya.
“Beraninya kau meludah tepat di wajah tampan oppa!!!” teriak bocah perempuan itu lalu memukul kepala kecil Azka dengan keras.
“Cih anak konglomerat yang dimanja seperti kalian bisanya cuma ngadu, apa yang harus aku takutkan” ujar Azka tanpa ada rasa takut di matanya.
Ah untuk anak kecil seusianya ini dari mana datangnya keberanian itu.
“Sesuai pemikiranmu” ujar Bocah laki laki yang menteng kerah Azka lalu menyunggingkan senyum mengejek untuk Azka.
“Bereskan dia!!” lanjutnya berteriak lalu segera pergi mengajak adik serta temannya meninggalkan Azka yang kini di kerubungi dua orang bertubuh tegap memakai jas hitam.
Plakk!!! Bugghhh…. arrggghhh.
Dengan tanpa perasaan dua orang berjas hitam itu menampar Azka dengan keras lalu meninju perut bocah kecil itu sampai Azka di buat menangis tanpa suara.
Tidak berhenti di situ, dua orang berjas itu mulai menarik tangan kecil azka hingga suara “Kreekk” terdengar dengan menyakitkan.
Azka yang saat itu baru berusia 5 tahun benar benar tidak bisa berbuat apapun, apalagi melawan Azka hanya menerima semua pukulan, tendangan serta jambakkan yang mulai dia terima secara bertubi tubi hingga semuanya gelap.
>>>>>
“Ungghhhh” gumam Azka pelan yang kini terbangun di kamar yang sangat familiar untuknya.
Ya kamar itu adalah kamar tidurnya bersama sang kakak di panti asuhan.
“Kamu sudah sadar” ujar seorang nenek nenek tua yang datang menghampiri Azka sambil membawa semangkuk bubur serta segelas air putih di atas nampan.
“Di mana oppa?” pertanyaan pertama yang langsung keluar dari mulut Azka setelah sadar dari pingsannya, dia bahkan belum melihat kondisi tubuhnya yang penuh perban akibat lengannya yang patah serta kepalannya yang bocor, sepertinya orang orang berjas hitam itu menendang kepala kecil Azka terlalu kuat hingga bocor.
Ah dan jangan lupakan wajah Azka yang di penuhi lebam serta pipi yang memerah dan membengkak, bahkan sudut bibirnya sobek akibat kerasnya tamparan yang dia terima.
“Bagaimana bisa kamu mendapatkan luka sebanyak itu, untungnya petugas ke amanan sekolah menemukanmu jika tidak entahlah apa yang akan menimpa dirimu” bukannya menjawab nenek pengurus panti asuhan itu malah menanyai tentang luka Azka.
__ADS_1
Kini Azka beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam, ah ternyata sudah 8 jam sejak insiden dirinya yang di pukuli, kira kira sudah berapa lama dia pingsan.
“Halmoni, dimana oppa?” tanya Azka lagi, di fikarannya saat ini hanya ada satu orang, Na Hyunjin.
“Sebenarnya tadi Hyunjin mencarimu tapi entah kenapa sampai sekarang dia belum kembali”
Deg…..
Detik itu juga tubuh Azka rasanya di hantam sesuatu yang amat sangat besar.
“Tapi kamu tenang saja, halmoni sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari op-”
Sreekkkk………..
“Azka apa apaan ini!!!” teriak nenek pengasuh panik saat Azka mencabut selang infus yang menancap di tangannya dengan kasar lalu berlari keluar dengan kaki yang terpincang pincang.
Ah rupanya dia lupa akan satu hal, kaki kanannya juga cedera.
Dengan langkah seribu namun masih sedikit pincang akhirnya Azka berhasil lolos dari kejaran para pengasuh panti asuhan dan juga anak anak lain yang juga ikut mengejarnya.
Yah sebenarnya sih dari pada lari Azka lebih banyak sembunyinya, mustahil kan untuk anak seusia Azka dengan luka penuh lebam dan kaki yang cedera dapat kabur dari kejaran beberapa orang, jadilah Azka memanfaatkan tubuh kecilnya untuk sekedar salib kanan salib kiri, masuk kolong atau gak nyepit di pojokan.
Dan berhasil!!
Kini Azka sudah berada di jalan raya yang penuh dengan keramaian penduduk meski hari sudah beranjak larut, Azka bahkan tidak henti hentinya bertanya pada warga sekitar dengan menunjukkan ciri ciri dari sang kakak.
Contohnya gini.
“Permisi, apa ahjussi pernah melihat cowok tampan, sangat tampan tapi sedikit kekanak kanakkan, usiannya 10 tahun tingginya 135 cm, kulitnya putih, dengan bibir yang tebal tapi tetap tampan, ah potongan rambutnya juga potongan rambut orang tampan” ujar Azka menyebutkan ciri ciri dari sang kakak kepada bapak bapak yang kira kira berumur 45 tahun yang sedang duduk santai di bangku pinggir jalan.
“Tidak bukan aku sedang mencari oppa ku” jawab Azka sambil menggeleng lucu.
“Dari pada mencari oppa mu bukan kah lebih baik kita kerumah sakit untuk sekedar mengobati luka di tanganmu” ujar ahjussi itu sembari menunjuk tangan kanan Azka yang berdarah akibat dari mencabut paksa selang infusnya.
“Ah ini sakit” gumam Azka yang baru sadar jika tangannya berdarah.
“Kajja ikut ahjussi ke rumah sakit” ujar ahjussi itu sambil melilitkan sapu tangan hitam di pergelangan tangan Azka lalu berdiri dari duduknya untuk pergi ke rumah sakit namun di cegah dengan cepat oleh Azka.
“Ini akan membaik, yang terpenting sekarang aku harus mencari oppaku terlebih dahulu, kamsahamnida ahjussi” sahut Azka sambil membungkuk lalu melesat pergi tanpa menghiraukan ahjussi itu yang kini diam termenung memikirkan sesuatu.
“Mungkin jika anakku masih hidup, kira kira pasti sesusia anak tadi” gumam ahjussi itu pelan lalu beranjak pergi.
Sedangkan Azka kini dia benar benar frustasi mencari sang kakak, mulai dari gang gang kecil kumuh, toko toko mainan, bahkan sampai kolong jembatan pun tidak luput dari pencariannya.
“Oppa neo odiseo” gumam Azka lirih dengan air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya.
“Ahh jinja” tidak tahan lagi akhirnya Azka terduduk di samping gang kecil kumuh yang sepi dan gelap tanpa penerangan, dia perlu waktu untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak akibat menahan tangis agar dia masih terlihat mampu untuk berbicara serta bertanya pada orang orang yang lewat.
Sampai pada akhirnya Azka mendengar suara seperti grusak grusuk lalu.
“Aaaa Ah- Jjumma, di- didimana ad-ddik, kat- kata nya ki- kitha ak- akkan bertemu deng- dengan add-dik, la lalu kenapa tang- tangan ujin- dd I ikat”
__ADS_1
Oke ini translate an nya ( Ahjumma, di mana adik, katanya kita akan bertemu dengan adik, lalu kenapa tangan Ujin di ikat )
“Ujin tenang dulu ya, setelah ahjumma menyelesaikan ikatan ini, ahjumma pasti membawa Ujin ke tempat di mana adikmu berada dan juga ahjumma bakalan bikin kamu merasakan yang namanya surga dunia”
Ctass…. Ctasss…. Ctasss…..
“Argghhh, Hikss….. Ah- ah jjumma, arrgghhh in ini sakit”
Ctasss…… Arghh…..
“Ti tidak Uj- Ujin tidak mm- mau ke su- surga, arrgghhh baw- bawa saja U- ujin ke adik”
“Diam kau bocah!!!!”
Teriakan dan tangisan yang awalnya terdengar samar samar kini semakin jelas terdengar di telinga tajam azka disertai suara cambukan yang memenuhi gendang telinganya.
“Oppa!!” teriak Azka di sertai lelehan air mata yang semakin mengalir deras ke pipinya.
Dia kenal betul suara itu.
Dengan segera Azka bangkit memasuki gang kumuh itu tapi tidak menemukan apapun, namun sebaliknya suara teriakan dan tangisan dari sang kakak semakin jelas terdengar di iringi dengan tawa seorang wanita.
“Oppa!! Oppa!! neo odiseo Oppa!!!” teriak Azka dengan suara melengking sambil terus mencari di sekitar sumber suara tanpa memperdulikan kaki nya yang kini sudah basah akibat darah yang mengalir dari luka cederanya yang sebelumnya.
Hati Azka semakin hancur dikala mendapati gang kumuh itu benar benar tidak ada orang atau benda apapun dan ketika Azka menjauhi gang itu suara suara itu perlahan penghilang membuat Azka semakin yakin jika kakaknya berada di gang itu.
Dengan Frustasi akhirnya Azka menendang vas bunga yang sudah terlihat buluk tidak terawat namun hal yang terjadi setelahnya benar benar membuat jantung Azka melompat.
Jalanan bawah tanah kini membentang di hadapan Azka dengan suara teriakan lemah dari sang kakak yang terdengar semakin jelas.
Tanpa basa basi lagi Azka segera memasuki jalanan bawah tanah itu, mengikuti suara cambukan keras membuat nyali Azka sedikit menciut tapi tetap tidak membuatnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Sampai pada akhirnya Azka menemukan pintu lain di ujung lorong bawah tanah, sedikit ancang ancang segera Azka mendobrak pintu kayu yang ternyata sangat gampang di dobrak karna memang sudah tua dan akhirnya pintu itu terlepas dari tempatnya.
Membuang buang tenaga saja.
Brakkk!!!!
“Oppaa!!!!” teriak Azka histeris dengan sisa sisa suara seraknya membuat kegiatan di dalam sana sontak terhenti.
Kakak tampan nya yang kini sudah tidak tampan lagi karna terdapat beberapa luka bekas cakaran serta tamparan di wajahnya, dengan posisi kaki tangan yang di ikat di atas ranjang dan juga kondisi tubuh yang benar benar mengerikan untuk di jelaskan.
Tubuh kakaknya kini hanya bertelanjang dada tanpa baju dengan luka cambuk yang masih menganga lebar memperlihatkan darah yang mengalir santai di sekitar tubuhnya membuat hati Azka mencelos.
Lalu di tambah dengan posisi sebelumnya saat sang kakak tengah berusaha di lecehkan oleh wanita tua sialan yang kini sedang menatap Azka dengan tatapan tidak percaya, benar benar membuat Azka ingin membunuh wanita itu secepatnya.
Oh tuhan, apa ini yang di namakan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys.
__ADS_1
Btw katanya triple up, satunya lagi kemana?
wkwkwk masih otw di tunggu ya😁✌