Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
Racun


__ADS_3

“Zhishu kau ini kenapa sih?” tanya Azka saat Zhishu terlihat uring uringan sendiri.


Bukannya menjawab Zhishu beralih menyuapkan pil penyembuhan tingkat tinggi miliknya kedalam mulut Azka tanpa aba aba membuat mata Azka membola.


***


“Zhi- sshuu kwau inwi kwenapwah sih?” tanya Azka kembali sambil mengunyah pil di dalam mulutnya membuat suaranya terdengar tidak jelas.


“Lain kali jangan sampai terluka” jawab Zhishu ketus lalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Azka dan Tao yang masih cengo melihat tingkahnya.


“APA SALAH BARBIE!!!” teriak Azka ngegas setelah pil itu berhasil dia telan lalu pergi ke kamarnya dengan kaki yang di hentak hentakkan.


Yah meski sifat Azka sudah seperti orang dewasa namun tetap saja umurnya masih kekanak kanakan.


“Aku berani bertaruh jika ayahanda pasti sedang cemburu karna wajah cantik bunda terlihat semua orang” ujar Xiao Bai yang tiba tiba keluar dari ruang dimensi dan muncul di hadapan Tao dengan wujud bocahnya.


“Tidak tidak, Master Zhu pasti marah karna Tuan telah membiarkan dirinya terluka kau lihat kan dia tadi marah2 sambil memasukkan pil penyembuhan ke mulut Tuan” sahut Bao Yu yang menyusul Xiao Bai menggunakan wujud bocahnya juga.


“Entahlah aku berfikir jika Master Zhu marah karna keduanya” sahut Tao lalu masuk ke ruang dimensi untuk membersihkan tubuhnya.


“Paman Tao gimana sih, di samperin malah ninggalin” omel Xiao Bai yang tiba tiba di tinggalin Tao lalu ikutan masuk ke ruang dimensi kembali.


“Readers percayalah, di sini cuma aku yang otaknya masih sehat” ujar Bao Yu mellow yang kini di tinggal sendirian.


Akhirnya Bao Yu hanya duduk bersila menunggu semua orang keluar untuk menuju aula sambil memainkan pusaran angin di tangannya.


Tidak lama kemudian Zhishu telah keluar dengan setelan hanfu rapi tanpa topeng membuat Bao Yu menahan nafasnya.


Ah meski sudah pernah melihat wajah Zhishu tanpa topeng namun tetap saja wajah Zhishu mampu membuat Bao Yu seketika lupa kalau dia juga sebenarnya tampan.


“Sa-salam Master” sapa Bao Yu sembari bersujud membuat Zhishu menahan tawanya.


“Kenapa apa sekarang Bao Yu sudah tidak membenciku?” tanya Zhishu santai sembari berjongkok di hadapan Bao Yu yang masih bersujud.


“Ahahahaha Master mohon lupakan masa lalu kita” jawab Bao Yu ambigu membuat Zhishu terkekeh pelan.


“Memangnya kita pernah berbuat apa?” tanya Zhishu kembali menggoda bocah di hadapannya.


“Master kumohon jangan mempersulit makhluk imut di depanmu ini” ujar Bao Yu mengelak dari pertanyaan.


“Hahahaha bangunlah, lagi pula aku menyukai sikapmu yang tidak gampang percaya dengan orang lain dan terimakasih karna sudah menjaga istri dengan baik” sahut Zhishu sambil membantu Bao Yu bangun dari sujudnya membuat senyum cerah Bao Yu mengembang.


“Ehem sudah kuduga Master bukanlah orang seperti itu” ujar Bao Yu sembari berdehem cool membuat bibir Zhishu berkedut menahan tawa.


Apa semua Rubah Berekor Sembilan itu punya sikap yang begitu arogan.


“Ayahanda kamu tidak boleh menyukai kakak lebih dari Xiao Bai!!!” teriak Xiao Bai yang tiba tiba muncul dengan posisi bergelantungan di bahu Zhishu.


“Hahaha Xi’er kau tenang saja” sahut Zhishu lalu menggendong Xiao Bai membuat naga kecil itu senang.


Sedangkan Bao Yu hanya mendecih “Dasar kekanak kanakan”


Brakkk!!!!


Tiba tiba semua orang di kejutkan dengan Azka yang keluar dari kamar sembari membanting pintu dengan pakaian sudah rapi namun tidak menggunakan cadar.


“Apa lihat lihat” ujar Azka ketus lalu membawa Bao Yu dan Xiao Bai kembali keruang dimensi sedangkan dirinya pergi begitu saja membuka pintu pavilium di ikuti Zhishu dari belakang.


“Salam Nona Azka” ujar beberapa Murid Akademi yang ternyata menunggu Azka keluar dari pavilium.


Dengan cepat Azka berbalik lalu merengkuh tubuh Zhishu yang berada di belakangnya, yah Azka mengingat dengan jelas jika Zhishu belum memakai topengnya kembali.


Dan dia tidak ingin aset berharganya terlihat orang lain, apa lagi di depan sana juga terdapat Murid perempuan yang ikut menyapanya.


“Ahahahah kalian sedang apa?” tanya Azka gugup sambil mendorong Zhishu agar masuk kembali ke pavilium lalu menutup pintunya dengan cepat.

__ADS_1


“Tentu saja kami kesini untuk menyambut Nona Azka serta mengajak Nona menuju aula” jawab salah satu Murid senior dari kelas berpedang.


“Tapi kenapa Nona Azka terlihat gugup?, lalu siapa yang tadi Nona dorong? apa itu Zhishu?” tanya Murid perempuan yang juga senior Azka namun dari kelas alchemist.


“Iya dia lupa belum memakai hanfunya dengan benar” jawab Azka mencari asalan yang masuk akal namun jatuhnya malah membuat pikiran para Murid menuju ke arah ambigu.


“Err kenapa bisa begitu apa tadi Zhishu tidak memakai baju?”


Jderrr…..


Seakan tersambar petir Azka baru menyadari jika kata katanya telah mengarah ke jalan yang tidak benar.


“Ahahahaha, ini tidak seperti yang kalian pikirkan, ah iya kalian duluan saja biar nanti aku dan Zhishu menyusul” ujar Azka mengalihkan pembicaraan lalu segera masuk kembali ke pavilium.


“Kenapa hatiku jadi sakit gini ya melihat Nona Azka yang begitu intim dengan Zhishu” ujar salah satu Murid laki laki tampan sembari memegangi dada kirinya.


Plakk!!!!


“Jangan menghayal!!! lagian Nona Azka kan sudah bertunangan dengan Zhishu” sahut temannya sambil menggeplak kepala Murid itu.


“Kan baru tunangan belum juga menikah”


“Hushh jangan terlalu berharap, kau tahu sebagai sesama wanita kurasa Nona Azka benar benar mencintai pria idiot itu begitupun sebaliknya” sahut salah satu Murid perempuan menasehati teman seperguruannya.


“Lagian kamu juga jangan sok sok an berjuang, ingat bagaimana kita dulu yang mencemooh wajah Nona Azka buruk rupa namun nyatanya bidadari saja kelewat” sahut Murid perempuan yang lainnya membuat semua Murid laki laki kini menghela nafasnya kasar.


“Yah dan sekarang aku menyesal”


“Sudahlah mari ke aula sebentar lagi Nona Azka akan datang dan kita akan segera berkabung dengan kematian teman teman kita yang gugur dalam pertarungan” ujar salah satu Murid laki laki senior yang sedari tadi diam memperhatikan.


Kita kembali kepada Azka yang kini uring uringan karna Zhishu hampir memperlihatkan wajah tampannya yang merupakan aset berharga milik Azka kepada orang lain.


“Oh ayo lah istri, aku tidak sengaja karna kau terlihat marah tadi” ujar Zhishu membujuk Azka, dia bahkan lupa kalau seharusnya sekarang dia masih marah kepada Azka karna telah berani melukai dirinya sendiri saat perang, di tambah wajah cantiknya yang terekspos publik membuatnya semakin uring uringan.


“Kau pasti sengaja kan!!” sanggah Azka membuat Zhishu entah kenapa ingin tertawa atau menangis.


Dan berhasil!!! kini Azka terdiam malu dengan wajah yang memerah.


“Tenanglah aku tidak sebodoh itu untuk melirik wanita lain sedangkan di hatiku sudah ada seseorang paling sempurna yang di ciptakan sang pencipta hanya untuk ku” lanjut Zhishu sembari mendekap Azka yang kini sudah tidak marah lagi.


Mana sanggup Azka marah jika di beri kata kata semanis itu oleh prianya.


“Ishh… sama saja aku kan hanya ingin menjaga aset berhargaku” ujar Azka sambil memukul pelan dada bidang Zhishu membuat Zhishu langsung memakai topengnya kembali lalu mengeratkan pelukannya.


“Dimana cadarmu?” tanya Zhishu sambil melepaskan pelukkannya.


“Kenapa?” tanya Azka sambil menunjukkan cadar hitam yang baru saja dia ambil dari ruang dimensi dan langsung di ambil oleh Zhishu.


“Aku juga tidak ingin aset berharga ku di lihat laki laki lain” bisik Zhishu sambil memakaikan cadar itu ke wajah sang gadis membuat wajah Azka kembali memerah malu.


“Ayo pergi” ajak Zhishu sambil menggandeng mesra tangan Azka.


Sedangkan yang di gandeng hanya bisa menundukkan kepalanya hehehe salting di gandeng cogan.


Tidak membutuhkan waktu lama kini Azka dan Zhishu sudah memasuki aula dan langsung di sambut oleh Ketua Akademi, para pekerja dan Murid Murid yang masih banyak tersisa.


“Muridku silahkan duduk” ujar Ketua Akademi lalu menarikkan kursi untuk Azka yang tepat berada di sebelahnya sedangkan Zhishu dia berinisiatif sendiri untuk mengambil kursi dan duduk di sebelah Azka.


Tepat saat Azka baru saja mendudukkan pantatnya tiba tiba dia di buat jantungan dengan sorakan semua orang untuknya.


“HIDUP NONA AZKA!!! HIDUP KETUA AKADEMI!!”


Pengen gitu Azka sahutin kayak gini “Lah gua emang hidup woyy” tapi gak jadi entar malah merusak suasana.


“Sudah sudah, seharusnya disini kita akan memberikan penghormatan terakhir untuk Murid serta para pekerja yang telah gugur dalam peperangan” ujar Ketua Akademi membuat Murid Murid kembali terdiam.

__ADS_1


“Guru dimana Tetua Pertama?” tanya Azka membuat tatapan Ketua Akademi berubah menjadi sendu.


“Tetua Pertama terkena Racun Teratai Hitam saat tubuhnya tergores cambuk milik Mentri Jian” jawab Ketua Akademi membuat Azka sedikit kebingungan.


“Bukankah aku sudah meninggalkan beberapa penawar racun di pos alchemist?” tanya Azka kembali membuat Ketua Akademi menghela nafasnya kasar.


“Tetap saja hal itu tidak bisa di lakukan karna Tetua harus memuntahkan racun itu sendiri sedangkan keadaan dia saat ini masih belum sadarkan diri”


“Apa tidak ada cara lain?”


“Ada!! satu satunya cara yaitu menggunakan teknik akupuntur agar racunnya keluar melalui sela sela kulit yang terkena titik akupuntur” jawab Ketua Akademi mantap.


“Lantas kenapa tidak langsung menggunakan cara itu saja?” tanya Azka santai membuat semua orang menatapnya terheran heran.


“Muridku kau tidak tahu, yang bisa menggunakan akupuntur hanyalah orang orang dari Benua tengah” jawab Ketua Akademi.


“Hah Benua tengah ngapain jauh jauh, akupuntur itu bukannya yang di tusuk tusuk menggunakan jarum itu kan?” tanya Azka memastikan.


“Benar apa Nona Azka pernah melihatnya?” tanya salah satu Murid alchemist.


“Kalau itu sih aku juga bisa, tapi sayangnya aku gak punya jarum perak” jawab Azka enteng membuat semua orang menganga tidak percaya.


Apa Azka adalah monster, kenapa dia bisa melakukan apapun, atau jangan jangan Azka berasal dari Benua tengah tempat para kultivator tingkat tinggi berada, tapi kenapa tingkat kultivasi Azka masih di bawah standar Akademi Seribu Bayangan.


“Kenapa diam saja? apa di sini ada yang punya sesuatu seperti itu?” tanya Azka membuyarkan lamunan semua orang.


“Kami memiliknya di ruang alchemist tapi kita tidak bisa menggunakannya” jawab salah satu Murid alchemist kepada Azka.


“Baiklah aku dan Zhishu yang akan mengambilnya dan akan langsung mengobati Tetua pertama, lalu guru untuk perkumpulan ini aku hanya akan menyarankan untuk memberi kompensasi pada keluarga Murid serta pekerja yang gugur untuk menghormatinya” ujar Azka sembari bersiap siap untuk meninggalkan aula bersama Zhishu.


“Dan satu hal lagi biarkan aku yang mengurus para penghianat Akademi itu, lalu kita akan bersenang senang” lanjut Azka dengan senyum cerah yang mengembang di balik cadarnya lalu menarik Zhishu untuk segera keluar.


“Istri apa yang sebenarnya kamu rencanakan?” tanya Zhishu saat di perjalanan menuju ruang alchemist.


“Hehehehe aku akan membuat mereka merasakan sakitnya tidak hidup dan tidak mati” jawab Azka sembari menggosok gosokkan kedua telapak tangannya membayangkan rencana liciknya akan tercapai.


“Ah pasti sangat menyenangkan” gumam Zhishu yang di angguki Azka.


Singkat waktu kini mereka berdua telah sampai di tempat Tetua pertama dan langsung melaksanakan tugasnya untuk mengeluarkan Racun Teratai Hitam yang di derita Tetua pertama.


Gerakan Azka dalam menusukkan jarum perak ke titik titik akupuntur yang terkena racun membuat Zhishu berfikir keras.


“Istri apa sebenarnya kamu berasal dari Benua tengah?” ujar Zhishu menanyakan kecurigaannya selama ini.


Sejujurnya Zhishu sudah pernah mengira jika Azka berasal dari Benua tengah karana kemampuan bertarungnya serta pil pil tingkat tinggi yang selalu bersamannya hanya bisa di temukan di Benua hebat itu,


Apa lagi di tambah dengan bawahannya yang belum menemukan dari mana asalnya bahasa bahasa aneh ( Bahasa Inggris ) yang sering keluar dari mulut sang gadis membuat Zhishu sering bertanya tanya dari mana asal Azka yang sebenarnya.


Yah meski Zhishu membenci Benua itu karna Benua tengah lah yang telah melahirkan Kerajaan Iblis namun tetap saja Zhishu mencoba menerima apa pun yang bersangkutan dengan gadisnya.


“Kamu tidak akan pernah menyangkanya” jawab Azka singkat sambil mengelap cairan racun yang telah keluar dari tubuh Tetua.


“Meski begitu aku tetap tidak akan melepaskanmu, sekalipun kamu adalah keturunan Dewa akan aku pastikan kamu tetap menjadi milikku” ujar Zhishu sambil menarik Azka kedalam dekapannya.


“Kamu benar, jangan lepaskan aku, jangan membuat aku pergi dari mu dan jangan pernah membuat ku membencimu, buat aku mencintaimu seperti tidak ada hari esok agar aku tidak pernah punya keinginan untuk kembali” sahut Azka sambil membalas pelukan Zhishu.


“Tentu, tanpa kamu minta pasti akan aku lakukan meskipun aku harus melukai diriku sendiri yang terpenting aku tidak melukaimu dan membuatmu meninggalkan ku” sahut Zhishu lalu beralih mencium kening Azka lama.


“Ehem… ini dimana? kalian siapa? siapa aku?”


“Astaga Tetua!!!!” teriak Azka reflek mendorong Zhishu yang sedang mengecup keningnya saat Tetua pertama tersadar dari pingsannya.


“Uhuk uhukk… maaf membuat suasana romantis kalian terganggu” ujar Tetua Akademi sembari terbatuk kecil membuat Azka malu setengah mati.


Sedangkan Zhishu dia sedang memaki Tetua pertama di dalam hati karna sudah tersadar di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys😁.


__ADS_2