Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
Di Rampok?


__ADS_3

“Ke Akademi Seribu Bayangan” jawab Azka santai.


“APA!!!!” teriak ketiga binatang kontrak Azka secara bersamaan.


***


“Apa? kenapa?” tanya Azka bingung dengan reaksi ketiganya.


“Ah bunda… bukankah Akademi Pedang Ilahi lebih baik, kenapa bunda harus masuk ke Akademi yang terkenal miskin” rengek Xiao Bai mencoba membujuk bundanya.


“Sudahlah Xi’er mungkin Tuan punya alasan” sahut Bao Yu.


“Bao Yu benar, aku hanyalah pengembara tanpa sanak keluarga ataupun jabatan, jadi apa aku terlihat memungkinkan untuk masuk kedalam Akademi bergengsi?” tanya Azka.


“Hey…. ayolah Tuan aku sudah mengenalmu lama, pasti bukan itu kan alasanmu” sahut Bao Yu tidak percaya.


Bagi Bao Yu seorang Azka yang sangat jenius tidak akan tidak mungkin di sia siakan oleh beberapa Akademi hebat, yah meskipun tidak punya kedudukan namun Azka adalah sosok jenius yang mungkin akan muncul 1000 tahun sekali.


“Hehehehe karna tempat mereka berada di tengah hutan bukankah itu sangat menantang” ujar Azka membuat Bao Yu mengembangkan senyum cerahnya.


“Bunda ada benarnya, jika tempat mereka berada di kawasan hutan pinus yang terkenal liar dan banyak binatang buasnya kemungkinan murid murid mereka sangat tangguh, bayangkan saja jika ingin ke Akademi maka ujiannya harus melewati hutan terlebih dahulu” sahut Xiao Bai, kini dia juga merasa penasaran dengan Akademi itu.


“Jadi secara tidak langsung melewati hutan pinus adalah ujian pertama masuk kedalam Akademi Seribu Bayangan” sahut Zhishu menyuarakan kesimpulannya.


“Oooo Zhishu, kau semakin pintar saja” sahut Azka membuat Zhishu tersipu malu.


“Ini baru Nona ku” sahut Tao tersenyum senang, benar benar tipe Azka yang menyukai tantangan.


Setelah perdebatan panjang pada akhirnya Azka dan Zhishu memutuskan untuk menuju Hutan Pinus dengan menunggangi Tao si macan hitam, tidak lupa Azka memakai cadarnya yang bewarna hitam.


“Istri apa tidak apa apa meninggalkan Xiao Bai dan Bao yu di hutan kembar?” tanya Zhishu sambil melambai lambaikan tangannya kearah Bao Yu yang sedang mendecih tidak suka, sedangkan Xiao Bai dengan semangat menyeruakan “hati hati di jalan” untuk mereka bertiga.


“Tenang saja, teman Tao sedang dalam perjalanan untuk menjemput mereka berdua” ujar Azka santai.


“Pegangan” lanjut Azka sambil menarik kedua tangan Zhishu untuk memegangi ujung hanfunya.


Setelah dirasa semua telah berpegangan Tao pun melaju dengan kecepatan sedang, kini Azka berencana menikmati perjalanannya, karna pada akhirnya dia akan berhenti di kerajaan barat untuk sekedar mengganti tunggangan mereka dengan kuda.


Tidak mungkin kan Azka melewati sebuah kerajaan menggunakan macan hitam besar miliknya.


“Ibunda hati-hati di jalan, Xiao Bai menyayangimu!!!!” teriakan Xiao Bai yang masih terdengar oleh Azka.


“Diamlah!! Tuan hanya ke Akademi bukannya ke akhirat” sahut Bao Yu lalu menarik Xiao Bai untuk masuk ke ruang dimensi.


“Ish…. kakak kasar deh” protes Xiao bai pada Bao Yu.


“Dasar kekanak kanakan” sahut Bao yu mengejek Xiao bai.


“Terserah, Xiao Bai mau sama ibunda saja” ujar Xiao Bai lalu pergi meninggalkan ruang dimensi berubah menjadi ular kecil bewarna merah lalu melilitkan dirinya di pergelangan tangan Azka.


Sedang kan Azka yang mendengar perdebatan Bao Yu dan Xiao Bai pun hanya geleng geleng kepala, menurut Azka sifat Xiao Bai terlalu lembut dan polos jika dibandingkan dengan Bao Yu yang acuh, dan yah sedikit kasar.


Tapi ketahuilah di balik sifat polos Xiao Bai tersimpan jiwa jiwa iblis yang suka menggertak orang yang kekuatannya masih berada di bawahnya.


Tidak terasa perjalanan mereka hampir sampai di wilayah kerajaan barat, segera Azka menyuruh Tao agar berubah menjadi kucing kecil agar tidak terlihat mencolok.


Azka menggendong Tao lalu mengajak Zhishu untuk membeli kuda, perjalanan dari hutan kembar menuju kerajaan barat membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam membuat Azka sampai di perbatasan hutan pinus sore hari.


“Nona sepertinya kita sedang di ikuti” ujar Tao yang sekarang bertengger manis di bahu Azka, sedangkan Zhishu berada di belakang Azka, mereka hanya menyewa satu kuda mengingat Zhishu tidak bisa menunggangi kuda dan tentu saja untuk menghemat uang.

__ADS_1


“Aku sudah tahu” jawab Azka santai sambil terus memacu laju kudanya.


“Lalu kenapa kita tidak berhenti?” tanya Tao penasaran.


“Aku tidak tahu caranya” jawab Azka santai padahal hatinya udah nyebut gak karuan, kalian sudah tahu bukan kalau Azka tidak bisa menunggangi kuda namun karna gengsi dia tetap keukuh menunggangi satu satunya alat transportasi di zaman kuno ini.


Tao “…”


“Istri kamu serius?” tanya Zhishu mulai khawatir akan keselamatannya sendiri.


“Sejak kapan aku suka bercanda?, apa kita lompat saja?” tanya Azka kembali sambil menahan laju detak jantungnya saat memikirkan ide konyolnya untuk melompat dari atas kuda.


“Nona kamu serius?” tanya Tao sekali lagi.


“Tao berhenti bertanya!!!, sekarang aku harus apa” teriak Azka mulai bingung sendiri.


“Nona mari mati bersama saja, aku hanyalah binatang kontrak mana pernah naik kuda” ujar Tao meratapi nasib sialnya.


Keadaan benar benar kacau, kenapa coba Azka tidak jujur saja jika belum bisa menunggangi kuda dengan cepat Zhishu menarik kekang kudanya membuat kuda itu meringkik lalu berhenti saat itu juga, membuat Azka serta Tao menghembuskan nafas lega.


“Zhishu kau bisa menunggangi kuda?” tanya Azka.


“Tidak bisa, tapi Zhishu pernah melakukan ini sekali waktu istri berteriak di halaman Kerajaan Timur jadi Zhishu mencobanya lagi” jawab Zhishu panjang lebar dengan lancar, huh kali ini dia sudah mempersiapkan jawaban itu sebelumnya.


“Ah yang waktu it-”


“BERHENTI DISANA!!!” teriak seseorang dengan tegas memotong pembicaraan Azka, lalu tiba tiba keluar tiga orang berpakaian serba hitam dari semak semak mengepung Azka.


Tiga orang itu meliputi dua pria dewasa tampan sekitar umur 19 tahunan dan satu anak laki laki berusia 10 tahun, wajah mereka bertiga terpampang jelas membuat Azka tahu kisaran umur mereka bertiga, di tangan kedua orang dewasa itu terdapat pedang lusuh yang sedikit berkarat, lalu anak kecil itu membawa balok kayu besar di tangannya.


Azka hanya diam memandang remeh kearah dua orang yang menodongkan pedangnya kearahnya.


“Diam!!! serahkan barang barang berharga milik kalian” sahut pria dewasa di depan Azka dengan nada mengancam.


“Kakak jangan berteriak kau membuat kucingku takut” ujar Azka centil sambil tertawa lebar dibalik cadarnya.


“Jangan banyak bicara!!! cepat serahkan saja, atau pedang ini akan membunuhmu” sahut pria satunya yang berada di samping kanan kuda.


“Ah ternyata kakak perempuan, kakak menurut saja ya, pedang itu sungguhan loh” sahut pejahat kecil yang berada di samping kiri kuda.


‘Ah… aku sungguh merasa kasihan dengan para bandit abal abal itu’ batin Bao Yu yang pasti di dengar Azka.


Tidak tahan lagi akhirnya Azka tertawa dengan keras.


“Hahahahahahahaha, pergilah aku sedang tidak mood di rampok” sahut Azka di sela sela tawanya.


Kini ketiga bandit abal abal itu terdiam menatap Azka keheranan, apa wanita itu tidak takut?.


Dengan geram Azka turun dari kudanya sontak membuat kedua pria dewasa itu waspada, lain halnya dengan Zhishu yang sedang kebingungan antara turun atau tidak.


“Hey bung caramu memegang pedang sama sepertiku itu artinya kau masih pemula” ujar Azka menatap remeh kearah tangan pria dewasa di depan kudanya yang masih sedikit gemetaran.


“Lalu pedang kalian berdua sudah karatan, apa kalian memungut pedang lusuh ini di pembuangan” lanjut Azka kali ini kata katanya sedikit pedas.


“Dan kau adik kecil, tampang imut mu itu sangat tidak cocok untuk jadi penjahat” lanjut Azka kini menatap penjahat kecil di sebelahnya.


“Siapa yang sakit?” tanya Azka santai.


Pertanyaan Azka sontak membuat ketiga bantit abal abal itu terlonjak kaget, bagaimana tidak pertanyaan Azka tepat sasaran.

__ADS_1


“Banyak bicara!!!” teriak kedua pria dewasa itu bersamaan lalu dengan cepat menyerang Azka menggunakan teknik pedang asal asalan.


Bughh….Bughh…Akhhh


Tentu saja Azka dengan mudah menumbangkan mereka berdua hanya dengan tinjunya membuat kedua pria dewasa itu babak belur bahkan dua pedang berkaratnya sudah Azka lemparkan entah kemana.


“Am-ampun Nona maaf kan kami, kami terpaksa” ujar kedua pria itu bersamaan.


“Nona tolong ampuni aku dan kakak, kami merampok karna ibu kami sedang sakit keras” ujar salah satu pria itu yang ternyata adalah sang adik sambil bersujud di hadapan Azka.


“Ini hukuman karna kalian telah memberikan contoh yang buruk kepada adik kecil kalian” ujar Azka sambil menunjuk penjahat kecil yang sedang memeluk kaki Zhishu gemetaran, bahkan balok kayu miliknya sudah dia buang entah kemana.


“Kakak bertopeng, tolong suruh istri kakak untuk berhenti memukuli kakak kakak ku” rengek penjahat kecil itu sambil menggoyang goyangkan kaki Zhishu.


“Istri” gumam Zhishu senang sambil mengulum senyum manisnya membuat Azka mendecih.


“Berhenti!!, heh tidak semudah itu!! dan juga aku bukan istrinya” teriak Azka membuat penjahat kecil itu menangis kencang.


“Huaaaaaa, kakak bercadar tolong lepaskan kakak kakak ku, kita mengaku salah” sahut penjahat kecil itu di sela sela tangisan kencangnya.


“Nona!!! maafkan kami, tolong lepaskan kedua saudaraku bunuh saja aku” sahut sang kakak atau penjahat tertua sambil mengatuk ngatukkan kepalanya ke tanah.


“Tidak Nona, jangan kakak dia tulang punggung keluarga, biar aku saja Nona” sahut sang adik sambil memeluk kaki Azka membuat Zhishu mengeraskan rahangnya.


Pusing mendengar ocehan para bandit abal abal itu akhirnya Azka mengeluarkan satu botol porselen dari ruang dimensi lalu memasukkan pil penyembuhan secara paksa kedalam mulut mereka berdua sehingga ketiganya diam melongo.


“Apa itu racun?” tanya sang kakak linglung.


“Tapi kakak lihatlah wajah tampanmu kembali” sahut sang adik sambil menunjuk wajah mulus kakaknya yang semula penuh lebam.


“Adik!! punya mu juga telah sembuh” sahut sang kakak kegirangan.


“Apa itu racun penyembuhan?” tanya penjahat kecil atau adik bungsu mereka.


“Bodoh!! mana ada racun penyembuhan, itu namanya pil penyembuhan tingkat tinggi” jawab Azka sambil mengibaskan rambutnya bangga.


“Nona terimakasih atas kemurahan hati Nona” sahut kedua pria dewasa itu lalu kembali bersujud dihadapan Azka di ikuti adik bungsunya.


“Sudah bangunlah” ujar Azka yang di patuhi para bandit abal abal.


“Di dalam botol ini masih ada 8 pil penyembuhan tingkat 10, berikan pada ibumu yang sakit lalu sisanya bisa kamu jual, harga pil ini sangat mahal loh” lanjut Azka sambil memberikan sebotol pil itu kepada para bandit abal abal.


“No-nona terimakasih banyak” sahut mereka bertiga lalu bersujut kembali membuat Azka muak.


“Berhenti bersujud di hadapanku, Zhishu Tao turunlah” ujar Azka yang di patuhi mereka semua.


“Bawa kuda itu dan pergilah jaga keselamatan adik kecilmu, jangan ajari dia merampok lagi” lanjut Azka lalu menarik Zhishu yang sedang menggendong Tao untuk pergi, namun belum juga 5 langkah Azka sudah berhenti kembali


“Ah dan juga, aku ini seorang kakak yang cantik loh” ujar Azka sambil membuka cadarnya menunjukkan senyum manis nya lalu pergi meneruskan perjalanannya bersama Zhishu dan Tao.


“Nona kau sangat percaya diri” sahut Tao sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


“Biarin, orang cantik bebas” ujar Azka songong tanpa memperdulikan Zhishu yang sedang uring uringan karna Azka menunjukkan wajah cantiknya pada laki laki lain.


“Wah wah ternyata kakak itu perempuan cantik ya kak” ujar si penjahat kecil lalu menatap kedua kakaknya.


“Astaga kakak hidung kalian berdarah!!!”


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak😊


__ADS_2