
Tidak ini tidak ada dalam rencana Xiao Bai dan Zhishu sebelumnya.
Lalu kenapa tiba tiba saja bilang seperti itu.
***
“Badan mu enggak panas tuh” bukannya menjawab Azka malah mengecek suhu tubuh Zhishu dari dahinya, lalu mengambil pergelangan Zhishu.
“Kamu juga sehat sehat saja, hanya saja detak jantungmu berdetak sangat kencang apa ada yang sakit?” tanya Azka kini mulai merasa khawatir.
Xiao Bai si pakar cinta benar benar ingin mengutuk ibundanya yang tidak peka, merasa Zhishu butuh privasi akhirnya Xiao Bai segera mengajak Bao Yu dan Tao pergi dengan diam diam.
Sedangkan Zhishu, entahlah dia ingin marah karna pernyataannya di anggap candaan oleh gadisnya, dengan cepat Zhishu menarik Azka yang berada di sampingnya untuk dia dudukkan di atas pangkuannya.
Azka yang tidak siap semula menjerit namun terhenti saat melihat ekspresi tajam dari Zhishu.
“Dengan mengajak mu menikah itu artinya aku menginginkan jenjang yang lebih lanjut bersamamu, agar kamu hanya bisa melihatku, dan agar kamu bisa menjadi hak ku yang seutuhnya begitupun sebaliknya.
Kau tahu kenapa jantungku bisa berdetak seperti ini?” tanya Zhishu sambil menaruh telapak tangan Azka di dada kirinya, setelah mengatakan banyak hal tentang maksudnya kepada Azka membuat jantung Azka kembali di pacu dengan cepat.
“Itu karna aku mencintaimu, dan cinta tidak sebercanda itu” lanjutnya lalu memeluk pinggang Azka membuat Azka benar benar gugup tidak tertahan.
“Kenapa diam saja hmm?” tanya Zhishu lembut saat mendapati Azka yang menunduk dan tak kunjung mendapat jawaban.
“Kamu mempercayaiku?” bukannya menjawab Azka malah kembali bertanya.
“Kenapa tidak!”
“Biar ku tebak, kamu melakukan ini pasti karna adanya Tetua ketiga” sahut Azka sambil mendonggakkan kepalanya, dia sebenarnya tahu gelagat Zhishu yang menurutnya sangat kentara semenjak dia bertabrakan dengan Haechan sebelumnya, tapi Azka hanya diam karna dia ingin tahu seberapa besar kepercayaan yang di berikan Zhishu untuknya.
“Apa aku salah? aku hanya merasa jika tidak melakukannya maka secara tidak langsung aku memberi Tetua sialan itu peluang di masa depan” jawab Zhishu mengeluarkan isi di kepalanya.
__ADS_1
Mungkin jika Jingmi melihat dan mendengar hal ini dia akan merasa gagal sebagai guru cinta dari seorang Zhu Zhishu.
Menurut Jingmi wanita itu rumit, namun dengan segala kerumitannya para wanita mampu menarik seluruh perhatian prianya agar tidak berpaling darinya.
“Itu tandanya kamu tidak percaya” ujar Azka lalu menunduk kembali.
“Bagaimana bisa kamu menyimpulkannya seperti itu” sahut Zhishu sambil mendonggakkan kembali kepala Azka dengan lembut, dia tidak terima di katai tidak memparcayai Azka.
“Dengan kamu yang mengira aku akan jatuh pada pesona laki laki lain, itu sudah pertanda besar bahwa kamu tidak mempercayaiku sama sekali, yahh dan aku sangat kecewa dalam hal ini karna kamu telah menganggapku seperti itu, kamu tahu sekali aku mencintai seseorang sudah di pastikan aku akan sangat sulit menemukan penggantinya bahkan sekalipun orang itu telah meninggalkan ku” jawab Azka dengan yakin membuat Zhishu menyadari sesuatu.
Dia telah egois dengan menyimpulkan hal yang tidak tidak kepada Azka.
Tapi itulah cinta, dia memang egois karna jika seandainya Azka yang berada pada posisi Zhishu mungkin dia akan melakukan hal yang sama, namun Azka akan tetap menganganggap dirinya sudah percaya dan merasa benar sepenuhnya.
Karna tidak ada orang yang mencintai tanpa takut kehilangan.
“Maaf kan aku, aku salah tapi kamu perlu tahu kalau aku Zhu Zhishu tidak akan pernah meninggalkan Jovanka Azkiya” ujar Zhishu sambil mendekap tubuh Azka membuat Azka mengembangkan senyumnya yang benar benar tulus, bukan smirk pertanda kematian seperti yang sebelum sebelumnya.
“Aku tahu” sahut Azka lalu membalas pelukan Zhishu dengan erat pula.
Tapi siapa yang tahu kalau mereka berdua memang tidak ada yang menyadari bahkan salah satunya.
Karna sekali lagi cinta memang egois.
>>>>>
Di lain tempat tepatnya jauh di ruang dimensi milik orang terdapat seorang pria berambut merah kecoklatan sedang membelah beberapa batu yang telah dia tata dengan susah payah hanya untuk meredakan emosinya.
“Tuan, tenanglah setidaknya dengan mereka belum menikah maka kamu masih punya harapan” teriak seorang perempuan cantik berambut merah kecoklatan sama persis dengan rambut milik pria yang sedang mengamuk di dalam ruang dimensi.
“Argghhhhh lagi lagi aku terlambat!!!” teriaknya dengan kedua tangan yang menjambak rambut indahnya lalu menghempaskan tubuhnya di samping bebatuan besar yang telah dia ubah menjadi sekumpulan kerikil.
__ADS_1
“Kenapa Tuan harus sampai seperti ini hanya karna seorang wanita” ujar perempuan tadi sembari menghampiri Haechan yang masih terengah engah.
Ya laki laki yang sedang meluapkan amarahnya tidak lain adalah Haechan.
“Dia bukan hanya sekedar wanita, dia adalah gadis yang mampu menggerakkan hatiku yang sudah lama mati hanya dengan alunan serulingnya” sahut Haechan pelan.
“Huh jika tahu begini maka seharusnya aku menghentikan Tuan waktu akan mengunjungi pavilium khusus” gumam wanita itu pelan sembari meratapi batu cantik hiasan ruang dimensi yang kini telah berubah menjadi kerikil bangunan.
“Dan kamu tahu” ujar Haechan dengan tiba tiba membuat wanita itu berjingkat karna kaget.
“Laki laki sialan itu yang lagi lagi mendahuluiku!! aku benar benar ingin menghancurkan wajah penuh kemenangan miliknya saat menatap ku tadi” teriak Haechan tidak terima.
“Tenanglah Tuan, itu hanya masa lalu lagi pula itu kan karna ketidak sengajaan” sahut wanita itu mencoba menenangkan Haechan yang kalau marah kadang suka kalap.
“Jia Li, kamu membelanya?” tanya Haechan sambil bangun dari tidurnya lalu menatap intens wanita di depannya yang tidak lain adalah Jia Li si Burung Vermilion betina milik Haechan.
“Ti- Tidak Tuan, hamba tidak berani” jawab Jia Li dengan tubuh gemetaran akibat tatapan intens Haechan yang kini berubah menjadi tajam.
Haechan sendiri sudah tidak berniat menjawab Jia Li dan malah memikirkan sesuatu yang terbilang ekstrim hanya untuk mendekati satu wanita.
“Heh kali ini aku tidak akan mengalah lagi” gumamnya pelan.
“Jia Li kamu tahu ada berapa kamar di Pavilium Khusus?” tanya Haechan membuat otak Jia Li langsung bekerja.
“Jika bangunan itu belum di ubah maka seharusnya terdapat tiga kamar tidur di dalamnya” jawab Jia Li mengingat sebelum Tuannya menginjakkan kaki di akademi ini dia pernah mencari informasi detail termasuk denah ruangan di dalam akademi.
“Tu Tuan mau apa?” tanya Jia Li gugup.
Bukannya menjawab Haechan segera melesat pergi kesamping bangunan Pavilium Puncak Bambu miliknya lalu meninju Pavilium itu hingga runtuh membuat beberapa murid yang berlalu lalang segera berlari menghampiri puing puing bangunan yang runtuh tanpa sebab itu.
‘Tuan apa yang kamu lakukan!!!’ teriak Jia Li dari ruang dimensi.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys😊.