Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
121 Mulai Perjalanan


__ADS_3

Sedangkan di ruang dimensi, alasan Zhishu masih terdiam adalah dia masih bingung memilih antara harus tinggal di sini.


Atau pulang sebentar untuk mengikuti saran Jingmi.


***


Azka sendiri kini bersiap siap untuk turun dari pohon saat melihat rombongan Murid dan Guru Akademi yang sudah mulai berbondong bondong untuk datang sambil membawa kantung besar di tangan mereka.


Apa di zaman ini tas masih belum di temukan? oh ayolah itu terlihat sangat rempong.


“Salam Guru Hwang, Guru Yao, Guru Ling dan Guru Fao” ujar Azka yang tiba tiba muncul di depan mereka dengan pakaian yang sama namun dengan penutup wajah yang berbeda.


Kali ini Azka memakai selendang bewarna hitam untuk menutupi setengah wajahnya.


“Ah Muridku, kamu sudah selesai berkemas rupanya, lalu dimana barang barangmu?” tanya Guru Hwang membuat Azka menunjukkan cincin gadungan yang tadi di berikan Bao Yu untuk pengalihan Ruang Dimensi.


“Saya menyimpannya di sini” jawab Azka sambil mengacungkan jari tengahnya seperti orang ngajak gelud.


“Ahahaha kamu memiliki cincin ruang ternyata” ujar Guru Hwang sambil tertawa garing membuat Azka mengingat sesuatu.


Yah … di Akademi ini mungkin hanya para Petinggi yang memilikinya.


“Heum … apa Guru dan yang lain mau nitip?” tanya Azka yang langsung di balas gelengan kepala berjamaah oleh mereka semua.


“Tidak perlu, kami bisa membawa barang barang kami sendiri tidak seperti kamu yang manja” jawab Guru Fao membuat Azka kesal.


Ini hanya menawarkan untuk titip, belum Azka menwarkan untuk memberi masih masing satu orang satu cincin ruang, bisa bisa di katai pamer sama Guru emosional satu itu.


“Jangan dengarkan bocah itu, tentu saja kita tidak mau kerepotan saat ingin mengambil sesuatu dan lagi belum tentu kita selalu berada di dekatmu” ujar Guru Hwang lalu segera membawa Azka pergi terlebih dahulu ke arah gerbang utama.


“Psstt … apa Guru benar benar tidak ingin nitip” bisik Azka masih tidak enak hati dengan pak tua di sampingnya yang membawa kantung segede kantung beras.


Oh ayolah ini hanya 7 hari dan barang bawaan mereka seperti akan pindah rumah, jika itu adalah Azka mungkin dia hanya akan membawa mentahannya saja.

__ADS_1


Money is mentahan, jadi bisa buat beli sesuatu yang di butuhkan di perjalanan, dari pada repot repot membawa semuanya menjadi satu.


“Sebenarnya tulang tulang ku benar benar rentan, kau tahu barang sebesar ini mungkin bisa membuat ku patah tul-”


“Pakai ini saja” potong Azka yang tiba tiba memasukkan barang bawaan Guru Hwang kedalam cincin ruang yang baru saja di ambil lalu memberikannya kepada Guru Hwang.


Yah dia paham betul, Guru Hwang tidak mungkin hanya mengoceh tanpa ada maksud lain, jelas jelas dia butuh bantuan hanya saja sedikit sungkan untuk meminta secara langsung.


“Ka kamu … ka-”


“Yah, aku punya dua dan itu kapasitas ruangnya sedikit luas, jadi Guru bisa menyuruh Guru Guru yang lain untuk nitip” potong Azka lagi lalu segera menarik Guru Hwang yang masih ling lung.


Tidak di sangka kehidupan di Benua Tengah ini jika tidak mendapat dukungan dari Kerajaan Iblis akan sedikit sulit mencari sumber keuangan.


Sesampainya di depan gerbang utama kini Azka melihat beberapa Tetua serta Ketua Akademi yang sedang memberi beberapa pil kepada para spirit beastnya.


Ketua Akademi bersama Singa Apinya tingkat 9, Tetua pertama dengan Elang angin tingkat 8 lalu Tetua Kedua bersama Rusa Petir tingkat 8, tidak berhenti di situ kini para Guru dan Murid juga mulai memanggil para Spirit Beast mereka termasuk Azka yang memanggil Tao si Macan Hitam.


“Dia sudah makan” jawab Azka santai membuat Yanran tidak jadi memberikan Pil Penambah energi kepadanya.


“Wuaah adik seperguruan Spirit Beastmu keren juga” sahut Murid Guru Fao yang tidak lain adalan Lin Zhao sambil mengelus bulu Tao.


“Kamu benar, tapi berapa tingkatan Spirit Beast mu? kenapa aku tidak dapat melihatnya?” tanya Yanran sambil mencoba untuk mengelus bulu Tao, namun sebelum tangannya mendarat segera Tao beringsut pergi kebelakang punggung Azka.


“Heumm adik Yanran benar” sahut Zhao sambil memandang wajah kecewa dari seorang Yanran.


‘Kenapa kamu menghindar?’ tanya Azka yang sedang membatin Tao.


‘Aku tidak suka di sentuh wanita lain selain Nona’ jawab Tao membuat Azka tersenyum di balik selendangnya.


“Ah sepertinya Spirit Beast mu tidak suka di sentuh aku ya” ujar Yanran membuat Azka mengangguk.


“Dia Macan jantan dan dia tidak suka jika ada wanita ataupun betina yang menyentuhnya” jawab Azka jujur membuat Zhao dan juga Yanran mengerutkan alisnya.

__ADS_1


“Lantas, kenapa kamu bisa?” tanya mereka berdua bersamaan.


“Karna aku adalah Azka” jawab Azka santai membuat mereka berdua menganga bersiap untuk memprotes, namun sebelum itu.


“Murid Zhao, Murid Yanran dan kau Azka, bergegaslah perjalanan akan segera di mulai” teriak Guru Fao membuat Azka mendecih sedangkan yang lain langsung bergegas untuk bersiap siap.


“Wuah sepertinya Guru itu benar benar tidak menganggap aku Muridnya, lihat saja aku akan memanggilnya hanya sebutan Fao saja” gumam Azka yang mengeluarkan unek uneknya sambil menaiki punggung Tao.


Melihat Azka yang kesal, ingin rasanya Tao tertawa, karna demi apapun sikap kesal Azka benar benar menggemaskan, hanya saja saat menjadi Macan Hitam tawanya akan terdengar sedikit menyeramkan, bisa bisa Binatang serta Para Kultivator itu merinding ketakutan! jadi Tao harus menahannya.


Kini semua orang mulai berbondong bondong untuk menaiki Binatang Kontraknya masing masing dan mulai berjalan disamping Guru nya masing masing, Azka sendiri berjalan di samping Guru Hwang yang menaiki Beruang Es tingkat 6 yang sedang gemetaran entah karena apa.


Sedangkan di belakangnya terdapat Guru Ling yang menaiki Badak Api tingkat 6 serta Yanran yang menaiki Srigala Api tingkat 4 yang juga terlihat pucat pasi seperti ketakutan akan sesuatu.


“Pstt … Tao apa kamu belum meminum Pil yang di berikan Bao Yu?” tanya Azka sambil berbisik di telinga Tao.


‘Aku sudah meminumnya kok’ jawab Tao membuat Azka bingung.


‘Memang aura Binatang ilahi benar benar sulit di samarkan, meski sepenuhnya hilang binatang lain masih akan merasa merinding tanpa sebab’ lanjut Tao membuat Azka mengangguk mengerti.


Kita beralih ke ruang dimensi dimana Zhishu masih saja terdiam di gazebo tanpa memperdulikan Xi Long yang sedang memarahinya karna bersikap sedikit tidak benar di depan Azka dan juga Bao Yu yang sedang menatapnya tajam seperti biasanya.


Entahlah semenjak rombongan mereka sampai Di Kerajaan Anyelir sikap Bao Yu sedikit aneh terhadap Zhishu, mereka bahkan jarang mengobrol.


Sikap itu terlihat, tidak suka, curiga, dan waspada entah informasi macam apa yang di dapatkan Bao Yu sebelumnya saat mencoba mencari identitas Zhishu hingga membuatnya berubah menjadi seperti itu.


Kalian para readers juga merasa begitu bukan, sejak chapter Kerajaan Anyelir setelah Zhishu kembali dari pelelangan Bao Yu jadi jarang ngobrol bersama Zhishu.


Atau hal itu sudah berlangsung sebelumnya.


Entahlah, tunggu saja ya jawabannya😊, dan selalu stay di lapak author biar author seneng😅😅, jangan lupa Vote, Komen, Like, Fav, dan juga Rate 5 nya😍.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2