Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
Ujian Tambahan


__ADS_3

“Wah wah ternyata kakak itu perempuan cantik ya kak” ujar si penjahat kecil lalu menatap kedua kakaknya.


“Astaga kakak hidung kalian berdarah!!!”


***


“Kenapa Nona tidak sekalian memberikannya koin emas?, adik kecil itu terlihat kasihan” tanya Tao yang masih berada di gendongan Zhishu.


“Jika aku memberinya koin emas bukankah itu sama halnya dengan aku di rampok” jawab Azka santai lalu mengambil alih Tao dari gendongan Zhishu.


“Hari sudah petang sebaiknya kita cepat cepat pergi ke Akademi” lanjut Azka sambil menurunkan Tao dari gendongannya.


Tanpa di suruh lagi Tao segera merubah tubuhnya menjadi macan hitam kembali lalu menyuruh nonanya beserta Zhishu untuk segera naik.


Perjalanan rombongan Azka menuju Akademi Seribu Bayangan berjalan dengan lancar tanpa kendala, dan itu berkat adanya Tao yang tingkatannya lebih tinggi dari semua binatang di hutan pinus.


Jika orang biasa mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 3 hari namun untuk rombongan Azka mereka hanya membutuhkan setengah jam untuk sampai di depan gerbang besar Akademi Seribu Bayangan.


Azka segera turun dari punggung Tao bersama Zhishu, dan untuk Tao sendiri dirinya segera mengubah diri menjadi kucing hitam kecil sebelum penjaga gerbang menyadari kedatangannya.


“Apa ini yang kalian sebut Akademi miskin?” tanya Azka kepada ketiga binatang kontraknya.


“Err… mulai saat ini aku tidak akan percaya begitu saja dengan rumor” jawab Tao.


Bagaimana tidak setelah melihat bangunan megah didepannya apa itu pantas di sebut miskin, bayangkan saja bangunan besar 3 lantai yang terlihat elegan dari luar, lalu pintu gerbang berwarna hijau yang sangat tinggi dan di jaga beberapa pengawal dan spirit beast tingkat 5 sampai 7.


‘Wah wah aku tidak menyangka jika Akademi termiskin ini penjagaannya sangat ketat’ batin Bao yu mencoba berkomunikasi dengan Azka dari ruang dimensi.


“Heh ini semakin menarik saja” sahut Azka lalu menggendong Tao serta menyeret Zhishu menuju penjaga gerbang.


Kedatangan Azka dan dan Zhishu sontak menjadi sorotan perhatian semua orang, bagaimana tidak hampir semua pendatang baru yang mencoba datang ke Akademi Seribu Bayangan minimal berpenampilan acak acak an dengan luka goresan dimana mana atau paling tidak patah tulang.


Sedangkan keadaan Zhishu dan Azka jauh dari kata buruk, tatapan Azka yang terlihat datar seakan tidak terjadi apa apa, lalu wajah sumringah Zhishu yang secerah matahari dan juga kucing hitam yang tenang tenang saja di gendongan Azka membuat para penjaga gerbang itu yakin 100% kalau mereka tidak menerima bahaya apapun.


“Tuan Tuan ada urusan apa mengunjungi Akademi Seribu bayangan?” tanya salah satu Penjaga gerbang kepada Azka dan Zhishu.


“Bukan kah sudah jelas” jawab Azka acuh tak acuh membuat Penjaga gerbang itu terlonjak kaget.


“Ah Nona maaf aku, ku kira anda laki laki, mohon tunggu sebentar” ujar Penjaga gerbang itu lalu pergi meninggalkan Azka.


Selang beberapa menit akhirnya Penjaga gerbang itu kembali bersama seorang kakek kakek Di depannya, sesampainya di depan gerbang kakek tua itu melihat penampilan Azka dan Zhishu dari atas kebawah membuat Zhishu risih sendiri.


“Jujurlah kau sembunyikan dimana binatang kontrak mu yang bisa terbang itu?” tanya kakek tua itu dengan tatapan meremehkan.


“Apa aku terlihat mempunyai sesuatu seperti itu?” tanya Azka kembali dengan nada sinis.


“Jika tidak dengan terbang bagaimana cara kalian memasuki kawasan ini tanpa luka sedikit pun?”


“Sebelumnya kami menaiki kuda namun kuda itu sudah mati akibat serangan binatang buas, apa kamu percaya?” jelas Azka membalikkan pertanyaan, apa dia sedang menguji kakek tua itu.


“Tentu saja tidak, tapi jika kamu ingin menjadi murid disini maka aku akan memberimu ujian tambahan, bagaimana?” tanya kakek tua itu membuat Azka mengangguk mantap.


Kini pandangan kakek tua itu beralih menatap wajah Zhishu lekat lekat.

__ADS_1


“Apa dia si sampah kerajaan timur itu, ah hal ini membuatku semakin meragukan kemampuan kalian berdua” ujar kakek tua itu mengejek Zhishu membuat Zhishu menundukkan kepalanya takut.


“Jangan menunduk!!” bentak Azka sambil menarik dagu Zhishu agar mendonggak kembali.


“Aku tidak menyangka jika Zhishu sampai seterkenal ini” lanjut Azka.


“Hahahahaha di benua ini siapa yang tidak mengenal Zhishu si idiot sampah masyarakat” ujar kakek tua itu semakin merendahkan Zhishu membuat Azka mengumpat dalam hati.


“Lalu aku akan membuat mu tercengang dengan bakat sampah itu!! bagaimana apa kau setuju?” tanya Azka dengan tatapan tajamnya.


“Huh baiklah, ini karna aku sedikit berbaik hati jadi aku akan membuat kalian berdua menjadi satu tim untuk ujian tambahan kali ini” ujar kakek tua itu lalu mengajak Zhishu dan Azka untuk masuk kedalam gerbang Akademi Seribu Bayangan menuju tempat pertandingan.


‘Bao Yu apa kau tahu alasan pak tua itu mengajakku ketempat seperti panggung pertandingan yang luas ini?’ batin Azka mencoba berkomunikasi dengan Bao Yu sambil memperhatikan sekeliling yang terdapat beberapa kursi penonton.


‘Nona ini……. sepertinya mereka akan membuatmu dan Zhishu melakukan pertandingan hidup dan mati’ jawab Bao Yu membuat Azka menyeringai di balik cadarnya.


Tepat saat Azka, Zhishu dan kakek tua itu sampai di atas arena pertandingan, tiba tiba terdapat ratusan orang yang hadir menempati kursi penonton, dari seragamnya bisa dilihat jika mereka adalah murid Akademi Seribu Bayangan dan beberapa Tetua yang menempati kursi penonton paling tinggi.


“Gadis aku akan membuatmu dan sampah itu merasakan bagaimana rasanya dikeroyok binatang buas” ujar kakek tua itu sambil menunjukkan smirknya.


Azka hanya memandang kakek tua itu datar padahal hatinya udah komat kamit gak karuan memaki kakek tua itu.


Azka benar benar tidak takut dengan binatang binatang itu, namun dia sedikit mengkhawatirkan Zhishu yang tidak tahu cara menggunakan senjata apapun selain pistol, dan juga mengeluarkan pistol dihadapan banyak orang itu bukanlah ide yang bagus.


“Keluarkan para binatang lapar itu!!! dan selamat bersenang senang” teriak kakek tua itu sambil tersenyum puas meninggalkan Azka dan Zhishu.


Di area panggung pertandingan ini terdapat beberapa terowongan yang tertutup besi di setiap sudutnya, dan Azka yakin itu pasti jalan masuk para binatang yang akan bertanding hidup dan mati bersamanya dan Zhishu.


Saat pintu terowongan itu terbuka sontak suara teriakan riuh dari para penonton menggema di arena itu membuat Azka kalang kabut sendiri.


Dengat cepat Azka melepaskan Tao dari gendongannya menyuruhnya untuk keluar dari area pertandingan lalu Azka melepaskan lilitan Xiao Bai di tangannya membuat wujud ular kecil Xiao Bai berubah menjadi gelang naga yang pernah di pakai Zhishu sebelumnya.


“Zhishu, jangan takut bukankah kau bisa menggunakan pistol?” tanya Azka sambil memasangkan gelang naga itu ke tangan kanan Zhishu.


“Jangan bilang istri menyuruh Zhishu menggunakan benda berharga itu?” bukannya menjawab Zhishu malah balik bertanya.


“Tidak, kau harus tahu menembak hampir sama dengan menggunakan panah, jadi kau tinggal menarik tali busur yang sudah ada anak panahnya lalu membidik target yang akan kau panah, mengerti!!” jelas Azka sambil mengambil busur panah asal dari ruang dimensi.


Busur yang di ambil Azka bewarna biru dengan ukiran phoenix bewarna emas di pegangannya, busur panah itu adalah salah satu koleksi senjata dari pemilik sebelumnya.


‘Bao Yu ini dimana panahnya!!!’ batin Azka saat tidak mendapati anak panahnya dimana mana.


‘Errr Nona, sebenarnya busur itu tidak perlu anak panah, cukup menarik tali busurnya maka anak panahnya akan muncul dengan sendirinya’ jelas Bao Yu yang langsung di mengerti Azka.


“Kau hanya perlu menarik talinya saja anak panahnya akan muncul dengan sendirinya” ujar Azka sambil memberikan busur itu kepada Zhishu.


“Aku percaya padamu” lanjut Azka seketika membuat senyum cerah terbit dari wajah Zhishu.


‘Xi’er lindungi Zhishu’ batin Azka memberi perintah kepada Xiao Bai.


‘Baik bunda’ patuh Xiao Bai.


Kini tatapan Azka beralih menatap beberapa binatang buas yang keluar dari empat terowongan yang perada di sudut panggung pertandingan, ada 2 singa besar tingkat 4 dan 5 srigala putih tingkat 3.

__ADS_1


Azka segera mengambil cambuk curah hujan miliknya dari ruang dimensi membuat semua orang menganga menatap cambuk yang di bawa Azka.


“I..itu cambuk curah hujan!!!” teriak salah satu Tetua dari kursi penonton, namun Azka tidak menggubrisnya, dia sedang mengambil ancang ancang untuk melawan sekelompok lebah pengganggu yang mengelilinginya dan Zhishu.


Azka memang payah dalam hal berpedang namun kemampuan cambuknya tidak bisa di anggap remeh karna dia sering menyiksa targetnya di zaman modern menggunakan cambuk, dan menurutnya itu sangat menyenangkan.


Dengan lincah Azka mengayunkan cambuknya menuju kedua Singa tingkat 4 itu.


Ctass… groaarrr……


Teriakan pilu salah satu singa itu terdengar di saat Azka berhasil merobek kulitnya menggunakan cambuk miliknya, tidak berhenti di situ kini Azka mulai menghindar dari cakaran singa yang satunya lagi, kedua singa itu menyerang Azka dengan brutal membuat Azka sedikit lelah bermain main.


“Sudah cukup main mainnya!!!” teriak Azka geram lalu mengarahkan cambuknya untuk melilit kepala kedua singa itu bersamaan lalu menariknya hingga kepala keduanya putus.


Kita beralih pada Zhishu yang sedang asyik menghujami panah ke arah srigala srigala yang mencoba menerkamnya hidup hidup.


Awalnya bidikan pertama Zhishu meleset mengenai pintu besi membuat pintu itu seketika membeku.


Apa itu panah es?


Dilanjut bidikan kedunya yang juga meleset hampir mengenai tenggorokan kakek tua yang tadi mengejeknya di gerbang namun panah itu di tahan salah satu Tetua disana.


Errr sebenarnya itu bukan meleset namun Zhishu sengaja membelokkan arah panahnya menuju kakek tua songong itu biar kapok.


Kini Zhishu mulai serius, tidak ada percobaan memanah lagi, dengan cepat Zhishu menghujami anak panah ke arah dada salah satu srigala yang menyerangnya dari samping membuat srigala itu mati membeku.


Tidak berhenti disana kali ini Zhishu mengarahkan anak panahnya menuju srigala di depannya.


Clapp… tepat sasaran.


Srigala itu mati membeku menyusul temannya.


Lain halnya dengan Zhishu yang sedang membekukan lawannya, Xiao Bai justru menyemburkan apinya kearah srigala yang mencoba menyerang Zhishu dari belakang membuat para penonton itu terheran heran darimana asalnya api itu.


Azka yang sudah menyelesaikan dua singa tingkat 4 itu pun beralih membantu Zhishu yang sedang menyiapkan ancang ancang untuk srigala besar di sampingnya, Azka berlari menuju srigala yang hendak menerkam Zhishu dari depan dengan mencambuknya membabi buta membuat srigala itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Akhirnya pertarungan itu selesai dengan Azka tersenyum puas menatap Zhishu yang baru saja selesai membekukan target terakhirnya.


“Ooo Zhishu kau semakin hebat saja” ujar Azka menggoda Zhishu membuat Zhishu salah tingkah.


“Ba-bagaimana bisa” ucap salah satu Tetua masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Sontak Azka beralih menatap para penonton yang masih tercengang, batin mereka serasa ingin berteriak, bagaimana bisa seorang wanita dan pria idiot menang melawan 7 spirit beast tingkat menengah.


“Bagaimana? apa kita sudak lulus?” tanya Azka.


“Ah selamat kal-”


“Tidak semudah itu!!! keluarkan spirit beast tingkat 7 sekarang juga!!!” sahut kakek tua yang sebelumya mengejek Zhishu, memotong pembicaraan Tetua yang akan meluluskan Azka.


“Xu Jing berhenti!!” bentak salah satu Tetua namun sudah terlambat 3 spirit beast tingkat 7 sudah keluar dari terowongan bersiap menerkam Azka.


“Ingatkan aku untuk membungkam mulut pak tua itu selamanya” gumam Azka sambil menatap tajam kakek tua itu.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak kawand😊


__ADS_2