
“Maksudmu? Tetua Ke 2 belum menikah” balas Guru Hwang sambil berbisik pula.
“Lantas? apa hubungan mereka? kenapa terlihat begitu mengkhawatirkan Guru Fao?”
***
“Wahh jangan jangan wanita tua itu menyukai Guru tengil Fao” sahut Xi Long dari ruang dimensi yang langsung di angguki mengerti oleh Azka.
“Pstt Guru, kira kira berapa usia Guru Fao?” tanya Azka lagi pada Guru Hwang.
“Tahun ini dia genap berumur 25 tahun” jawab Guru Hwang membuat Azka terkejut.
“Lalu Guru Yao?” tanya nya lagi.
“22 tahun” jawab Guru Hwang lagi semakin membuat Azka terkejut.
Wahh jangan jangan Ketua Akademinya masih seusianya.
“Kamu pasti tidak percaya bukan? tapi itu kenyataannya Tetua ke 2 menyukai Guru Fao” lanjut Guru Hwang semakin membuat Azka menganga.
Untung tertutup cadar.
‘Waahh apa Tetua wanita itu seorang pedofil’ batin Azka tanpa menyadari dia juga korban pedofil dari seorang Zhu Zhishu yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun.
“Sudahlah, dengarkan para petinggi habis ini kita akan langsung melakukan perjalanan ke Kerajaan Bulan” ujar Guru Hwang membuat Azka kembali fokus ke depan melihat para petinggi yang sedang berdiskusi.
“Guru Hwang, apa itu Murid yang akan kamu ajak, bukankah dia masih baru?” tanya Tetua ke 1 sambil menunjuk Azka.
Kenapa Tetua ini tiba tiba membahas dirinya.
“Dan kenapa dia tidak memakai seragam Akademi? apa seragam kita jelek?” lanjutnya membuat semua orang kini menatap Azka.
Guru tua itu, apa dia sedang ingin mempermalukan Azka.
“Mohon maaf Tetua Ming, ini salah ku yang belum memberinya seragam” ujar Guru Hwang membuat Azka sontak menoleh.
Apa Gurunya sedang mencoba menutupi kesalahannya.
“Wahh … apa Guru Guru sekarang sedang senggang?” tanya Tetua Ming membuat Azka jengkel.
“Tidak, ini bukan kesalahan para Guru, ini kesalahan saya, mereka sudah memberi seragam tapi saya tidak tahu cara memakainya jadi saya perlu belajar terlebih dahulu” sahut Azka yang tiba tiba menyela membuat semua orang kembali menatapnya.
“Ah … ternyata kamu seorang gadis, ku pikir tadi laki laki” sahut Tetua Ming sambil menopang dagunya mencoba untuk meneliti penampilan Azka dari atas hingga bawah.
“Heumm … apa Nona ini dari keluarga bangsawan?” tanya Tetua Ming.
__ADS_1
“Tidak, saya hanya pengembara dari Benua Tianyu” jawab Azka.
“Apa itu masuk akal!! Hanfu mu bahkan mampu membeli sebuah Pavilium mewah” ujar Tetua Ming membuat Azka tersenyum di balik cadarnya.
Apa orang ini termasuk spesies nya Guru Fao yang sangat membenci orang orang kaya.
“Saya menghabiskan seluruh Herbal yang saya kumpul kan untuk membeli Hanfu ini” sahut Azka lantang tanpa takut intimidasi dari Tetua bau tanah itu.
“Benarkah? apa sekarang pengembara rela menjual herbalnya hanya untuk sebuah Hanfu, atau sebenarnya kau ini mata mata dari Kerajaan Iblis?” tanya Tetua Ming membuat semua orang kecuali para Guru kembali menatap Azka, namun kali ini dengan tatapan meragukan.
“Ahahaha bukankah Tetua Ming sangat berlebihan? Murid ku datang dari Benua Tianyu dan penjaga gerbang sebelumnya sudah memastikannya, mana mungkin dia menjadi komplotan Kerajaan Iblis” sahut Guru Hwang yang mencoba membela Azka namun tetap saja sepertinya Tetua bau tanah itu tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Heh, jika tidak kenapa gadis itu memakai hanfu pria dan mengenakan cadar di wajahnya?” tanya Tetua Ming membuat Guru Hwang terdiam karna itu memang benar adanya.
Hanya saja, memakai pakaian seperti itu apa berarti orang itu adalah mata mata? oh ayolah teori dari mana itu.
“Kenapa diam? aku benar bukan? lihatlah gadis itu sangat mencurigakan bukan begitu Ketua Shen?” lanjut Tetua Ming bertanya kepada Ketua Akademi.
‘Wahh… Tetua ini apa sebelumnya aku pernah tidak sengaja menyinggungnya’ batin Azka ingin rasanya memaki namun dia harus menjaga image nya.
“Masuk akal, tapi mungkin Nona ini punya alasan tersendiri untuk berpenampilan seperti itu” sahut Ketua Akademi membuat Azka sedikit meninggalkan kesan baik kepada pria muda itu.
“Pstt … Guru berapa umur Ketua itu?” tanya Azka sambil berbisik ke arah Guru Hwang.
“Kenapa diam saja!!, apa kamu tuli!!” teriak Tetua Ming membuat Azka semakin yakin jika Tetua itu tidak menyukainya.
“Sebelumnya saya ingin bertanya, di Akademi ini adakah larangan untuk hak berpenampilan?” tanya Azka masih mencoba sopan dengan nada yang terbilang santai tanpa ada unsur ketakutan, gugup atau apapun itu.
“Tidak ada, tapi di Akademi ini para Murid wajib memakai seragamnya” jawab Ketua Akademi.
“Saya setuju dengan itu, dan saya benar benar meminta maaf soal seragam” ujar Azka sambil berdiri dari duduknya lalu membungkuk dan kembali duduk seperti semula.
“Tapi untuk penampilan saya, yang pertama alasan saya memakai hanfu laki laki adalah karna memang semua hanfu saya modelnya laki laki dan saya juga belum belajar memakai hanfu perempuan dan ini pertama kalinya untuk saya, kedua untuk cadar, saya memiliki seorang tunangan yang sangat menjaga saya, jadi sebagai bentuk rasa sayang saya juga berusaha menjaga penampilan dan menutup wajah saya hingga membuat laki laki di luaran sana tidak dapat melihatnya” lanjut Azka membuat Ketua Akademi dan Guru Fao langsung menatapnya penuh arti.
Tunangan?!
“Omong kosong!! jelas jelas kamu menutupinya karna tidak ingin wajah mata matamu terpampang begitu saja” teriak Tetua Ming masih tidak membiarkan Azka lepas begitu saja.
Wah … kali ini Azka benar benar mencoba mengingat wajah Tetua Ming, apa benar dia pernah punya masalah hingga membuat Tetua itu senang sekali mempersulit dirinya.
“Apa perlu aku membuat nya bisu Nona?” tanya Tao dari ruang dimensi.
“Itu tidak cukup, lebih baik mencincang tubuhnya sampai mati” sahut Xiao Bai tak ingin kalah jika masalah penyiksaan.
“Xi’er … kurasa umurmu benar benar belum sampai untuk bisa melakukan hal hal keji seperti itu” sahut Xi Long membuat Azka tersenyum tanpa minat menyahuti.
__ADS_1
“Lalu saya harus bagaimana agar Tetua mempercayai perkataan saya?” tanya Azka santai.
“Lepas cadarmu” jawab Tetua Ming sontak membuat beberapa orang disana mengeraskan rahangnya.
Ini keterlaluan.
“Tetua Ming bukankah hal ini berlebihan? semua orang punya batasannya masing masing” sahut Guru Fao membuat Azka tersenyum di balik cadarnya.
Guru arogan itu sepertinya juga punya hati untuk membantunya.
“Guru Fao kenapa kamu membelanya?!” tanya Tetua Gu dengan nada yang sedikit keras membuat Azka ingin tertawa.
Apa Tetua perempuan ini sedang cemburu.
“Tapi ini benar benar keterlaluan” sahut Guru Fao yang langsung di angguki oleh ketiga Guru yang lainnya.
“Apa benar? bukankah hal ini wajar Ketua Shen?” tanya Tetua Ming kepada Ketua Akademi lagi lagi untuk mencari sekutu.
“Err … aku setuju dengan Guru Fao, ini melanggar batasan seseorang” jawab Ketua Akademi membuat Tetua Ming mengepalkan tangannya kesal.
Azka sendiri tidak banyak berkomentar, kali ini fikirannya sedang tertuju kepada Zhishu.
Kenapa hari ini prianya diam saja?
Biasanya dia selalu yang di urutan pertama untuk memprotes orang orang seperti Tetua Ming yang menindasnya?
Apa Zhishu masih di ruang dimensi?
“Wah … bunda ini benar benar tidak bisa di biarkan!! Xiao Bai harus memotong lehernya” ujar Xiao Bai lalu pergi mengambil pedang di gudang senjata membuat Azka menahan tawanya.
“Xi’er benar, boleh kah aku membunuhnya Tuan?” tanya Bao Yu namun tidak di hiraukan oleh Azka.
“Yaa!! kenapa ayahanda diam saja!! bunda sedang di tindas!!” teriak Xiao Bai yang tiba tiba muncul sambil membawa Pedang Panjang di tangannya.
Bahkan pedang itu lebih panjang dari tubuh kecilnya.
Zhishu sendiri sontak terlonjak kaget dengan teriakan Xiao Bai.
“Dimana? siapa? beraninya dia menindas istriku!!” teriak Zhishu sambil berdiri dari duduknya membuat Azka dan para penghuni ruang dimensi lainnya menjatuhkan rahangnya.
‘Zhishu kamu melamun?’
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪
__ADS_1