Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno
Masih Masa Lalu Azka


__ADS_3

Oh tuhan, apa ini yang di namakan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.


***


“Sialan!!!” maki Azka untuk yang pertama kali nya lalu dengan cekatan mencari sesuatu yang sekiranya mampu untuk di gunakan sebagai senjata.


Dan Bingo!!!


Azka menemukan gelas yang sepertinya bekas air minum, dengan segera Azka melemparkan gelas itu menggunakan salah satu tangannya dan tepat mengenai kepala Ahjumma mesum itu sampai dia jatuh tersungkur menghantap pinggiran ranjang dan yess kepalanya berdarah.


“Hikss….Hikss… beraninya kau melakukan hal menjijikkan ini terhadap kakakku” teriak Azka sambil berlari menghampiri ahjumma itu lalu mengambil cambuk yang sebelumnya dia pakai untuk menyiksa kakaknya.


Ctasss…. Ctasss… Argghhh….


Tanpa menunggu Ahjumma itu bangun dari tidurannya di tanah, Azka segera mencambukinya dengan asal namun terlihat brutal dan keras membuat ahjumma itu benar benar tersiksa dengan kelakuan anak berusia 5 tahun itu.


Ah mungkin dari situ kemampuan cambuk Azka mulai berkembang.


Lanjut, tidak berhenti di situ Azka segera mengambil pecahan gelas yang tercecer dan langsung menggorea, menusukkan benda tajam itu keseluruh wajah muka bahkan bahkan leher dan beberapa bagian tubuh si ahjumma sambil bergumam kata “Mati” berulang kali, sampai pada akhirnya ahjumma itu tidak bernafas kembali.


Bukannya senang hal itu malah sukses membuat Azka panik.


Apa kini dia telah membunuh orang.


Oh tidak sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu, dengan tatapan kosong kini Azka berjalan mendekati sang kakak yang tergeletak lemah dengan mata terpejam namun masih bernafas.


Terlihat dari dadanya yang naik turun pertanda masih hidup namun dengan nafas yang sedikit tersendat membuat hati kecil Azka merasa sedikit lega banyak khawatir.


“Oppa” panggil Azka lirih sambil menggoyangkan tubuh Hyunjin dengan perlahan.


“Hiks… oppa jebal” lanjut Azka dengan suara yang semakin tertahan.


Dia benar benar merasa menjadi orang paling gagal sedunia, ya dia telah gagal menjaga sang kakak, dan fakta itu membuatnya hancur sampai berkeping keping tanpa tahu apa masih bisa di satukan kembali.


Kenapa anak seusianya harus mengalami hal buruk seperti ini.


“Oppa kumohon bertahanlah” ujar Azka sambil mengusap air matanya lalu membuka ikatan kain yang mengikat kaki dan tangan sang kakak, dan setelahnya menggunakan kain itu untuk menutup luka lebar di tubuh sang kakak karna takut mungkin akan kehabisan darah.


Dengan mengumpulkan keberanian dan juga tenaga akhirnya Azka membopong tubuh Hyunjin yang mungkin 2 kali lipat dari tubuhnya, berkali kali Azka terjatuh di lorong dan tangga keluar dengan posisi Hyunjin yang dia buat sengaja untuk menindih tubuh kecilnya agar luka sang kakak tidak semakin parah.


Biarlah dia yang merasakan sakit asalkan sang kakak baik baik saja.


Ah dia lupa sekarang saja sang kakak sudah tidak baik baik saja.


Setelah perjuangan Azka kecil yang tidak mudah sampai membuat tangannya yang patah semakin parah dan cedera kakinya mungkin mendekati lumpuh, akhirnya Azka berhasil membawa sang kakak pergi dari tempat terkutuk itu.


“Tolong Aku!! tolong kami!!” teriak Azka sambil tetap membopong tubuh kakaknya yang tidak sadar kan diri.


Azka benar benar putus asa saat mendapati tidak ada satu mobil pun yang lewat di sekitar gang itu, namun saat dia merasa dunianya benar benar akan runtuh tiba tiba secercah cahaya datang menghampirinya.


Tidak, bukan cahaya ilahi, namun cahaya dari lampu mobil yang kini mendekatinya.


Dan tepat saat itu juga Azka telah mencapai batasnya.


>>>>>>>


Pagi hari yang cerah seperti biasa namun tidak biasa bagi Azka yang kini masih belum terbangun pingsannya.


Di samping Azka terdapat sosok bapak bapak yang mungkin wajahnya tidak asing lagi bagi Azka, Ya dia adalah ahjussi yang kemarin malam menawarkan diri untuk mengantar Azka kerumah sakit tapi di tolak.


“Unghhh” gumam Azka pelan sambil memegangi sebagian kepalanya yang masih terasa sakit, lalu mencoba bangun untuk meneliti keadaan di sekitarnya.


“Ah kau sudah bangun! syukur lah, pelan sedikit” ujar ahjussi itu sambil membantu Azka untuk terduduk.


“Ahjussi” ujar Azka dengan suara serak.


Ah Azka benar benar mencapai rekor pingsan dua kali dalam sehari.


“Ya ini ahjussi, pelan pelan seluruh tubuhmu terluka” sahut ahjussi itu saat melihat Azka yang langsung noleh kanan kiri dan akhirnya mendapati sang kakak yang terbaring di samping brankarnya dengan beberapa bagian tubuh yang di perban membuat hati Azka lega.


“Bocah sekecil kamu bagaimana bisa mementingkan keselamatan orang lain di banding diri sendiri” lanjut ahjussi itu saat melihat gelagat Azka.


“Dia oppa ku” ujar Azka dengan suara yang masih serak membuat ahjussi itu segera memberikan segelas air untuk Azka yang di terima dengan baik pula.

__ADS_1


“Terimakasih karna ahjussi telah menolong kami berdua, entah harus dengan apa aku membayar ahjussi” ujar Azka setelah menegak habis air putih di gelas lalu menundukkan kepalanya.


“Bayar ahjussi dengan keselamatan serta kesehatanmu” ujar ahjussi itu ramah membuat hati batu Azka merasa hangat untuk pertama kalinya.


Ah rasanya sedikit akrab.


“Siapa namamu hmm?” tanya ahjussi itu lembut sambil mengelus surai Azka kecil.


“Azka, Na Azka” jawab Azka terlampau semangat sampai tidak sadar membuat kepalanya sakit kembali.


“Hahahaha, anak ini perkenalkan nama ahjussi adalah Jovanka Raiden” ujar ahjussi itu sambil mengulurkan tangannya yang langsung di balas dengan senang oleh Azka.


“Kenapa nama ahjussi terdengar aneh?” tanya Azka sambil mengedip ngedipkan matanya lucu.


“Karna ahjussi bukan berasal dari sini” jawab Raiden ramah, entahlah ada rasa senang dan bahkan tidak ingin meninggalkan saat bertemu dengan Azka.


Itu sebabnya waktu dia beranjak pergi malam itu, bukannya pulang malah mengambil mobil untuk segera menjemput Azka karna rasa khawatir yang tiba tiba menyerangnya.


“Ahjussi kira kira kapan oppa akan terbangun?” tanya Azka penasaran dengan tatapan sendunya, dia benar benar merasa gagal menjadi adik.


“Entahlah kata dokter mungkin sebentar lagi, siapa nama oppa mu?”


“Na Hyunjin, nama yang sangat bagus bukan sama seperti orangnya yang tampan” jawab Azka semangat jika menyangkut sang kakak.


“Sepertinya kamu sangat menyayangi kakak mu” ujar Raiden mengeluarkan pendapatnya saat mendapati Azka yang terlihat sangat antusias.


“Itu benar, meski oppa bertingkah kekanak kanakkan namun hanya dia tempat aku bisa merasa nyaman seperti di rumah, bagi oppa aku adalah adik sekaligus ibu untuknya, dari usia ku yang baru menginjak 3 tahun aku sudah di ajari Halmoni penjaga panti untuk mengurus keseharian oppa, maka dari itu mulai dari makanan, kebersihan serta penjagaan semuanya aku yang harus mengurusnya dengan teliti


Tapi pada akhirnya aku gagal menjaga oppa, aku benar benar merasa menjadi orang tergagal sedunia” jawab Azka dengan lelehan air mata yang mulai keluar dari pelupuk matanya, membuat hati Raiden benar benar tersiksa layaknya tahu seberapa sulit hidup gadis kecil di depannya.


“Jangan menangis” ujar Raiden sambil mengusap air mata Azka menggunakan tangannya dengan lembut.


“Dimana orang tua mu? kenapa halmoni penjaga panti yang mengajarimu?”


“Aku tidak tahu, sedari kecil aku sudah bersama oppa di panti asuhan, kata halmoni panti dia menemukan oppa yang sedang menangis di depan panti asuhan dengan aku yang berada di gendongannya dan juga mengingat kondisi mental oppa yang benar benar tidak bisa di tanyai mungkin aku tidak akan bertannya lagi” jawab Azka dengan lancar tanpa di tutup tutupi, entah kenapa dia benar benar merasa aman saat berada di dekat Raiden.


“Ah bagaimana bisa anak sekecil kamu menanggung semua ini” gumam Raiden lalu mengeluarkan kartu kredit dari dompet nya.


“Azka, dengarkan ahjussi Ne”


“Sebenarnya ahjussi sedang dalam tugas kemiliteran dan mungkin ahjussi tidak bisa menjaga mu dan kakakmu terus menerus” ujar Raiden membuat Azka menunduk menahan tangis.


Pada akhirnya setelah orang tuanya Azka merasa di tinggalkan untuk yang kedua kalinya.


“Hey jangan bersedih, gunakan kartu ini jika kamu ingin membeli makanan atau bahkan membeli tempat tinggal, tenang saja ahjussi yang akan membayar tagihannya begitupun dengan tagihan rumah sakit ini, kamu bisa tenang, jadi mulai sekarang jalani hari harimu dengan baik mengerti” ujar Raiden sambil berdiri lalu memeluk Azka yang kini terisak dalam diam.


“Ahjussi bisakah aku dan oppa meminta untuk ikut bersama mu, aku tidak butuh kartu itu aku- aku hanya ingin bersama mu, apa itu berlebihan? Jika iya maka aku akan menjadi pembantu ahjussi saja biar tidak merepotkan” ujar Azka dengan suara seraknya karna menangis lagi.


“Tidak tidak anak secantik dirimu mana boleh jadi pembantu, seandainya misi ini tidak begitu penting mungkin aku akan memilih membawa mu beserta kakakmu untuk pulang bersama” ujar Raiden pelan menenangkan Azka yang semakin meneteskan air matanya.


“Kenapa ahjussi baik pada ku?” tanya Azka sukses membuat Raiden berfikir keras, kenapa ya?


“Kamu percaya takdir?” tanya Raiden yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Azka.


“Mungkin pertemuan ini hanyalah takdir, aku berharap akan ada pertemuan selanjutnya jadi jaga kesehatanmu dan jika sudah besar nanti kamu bisa menyusulku di China, ingat alamat ini kota Shanghai di China” lanjut Raiden lalu segera melepas pelukannya sambil menaruh kartu kredit itu di meja dekat brankar milik Azka.


“Ahjussi hati hati” ujar Azka membuat senyum lebar terpatri di wajah Raiden lalu segera pergi meninggalkan kamar VVIP setelah mencium kening Azka.


Setelah kepergian Raiden segera Azka mencabut selang infusnya lagi dengan susah payah karna salah satu tangannya yang patah tidak bisa di ajak berkompromi, lalu segera melesat pergi dengan kaki terpincang pincang menuju balkon rumah sakit untuk melihat kepergian Raiden sampai lelaki itu masuk kedalam mobilnya.


Dengan langkah gontai sembari menyeret kakinya Azka berjalan kembali menuju kamar inapnya namun terhenti saat melewati ruang tengah rumah sakit yang terbilang luas bahkan ada beberapa pasien Kalangan bawah yang mungkin ingin sekedar numpang nonton televisi di sana, karna televisi hanya di pasang pada kamar peremium atau VIP.


“BERITA TERBARU!! PAGI INI TELAH TERJADI PEMBUNUHAN SADIS DI JALAN KIYOWO GANG NOMOR 11, DI DUGA PEMBUNUHAN ITU TERJADI PADA MALAM HARI, MELIHAT KONDISI TUBUH MAYAT YANG MASIH TERLIHAT FRESH.


DI TEMUKAN MAYAT PEREMPUAN YANG TERNYATA ADALAH ISTRI SAH DARI DIREKTUR UTAMA KINGS GROUP DENGAN 28 LUKA TUSUKAN PECAHAN GELAS KACA DAN JUGA 18 LUKA CAMBUK, POLISI MASIH TERUS MENYELIDIKI KASUS INI BERBEKAL DENGAN KEMUNGKINAN SIDIK JARI YANG TERTINGGAL DI KACA BELING YANG DI GUNAKAN TERSANGKA SEBAGAI SENJATA”


Mendengar itu sontak tubuh Azka menegang, jantungnya berhenti berpacu, ah apa sekarang dia jadi buronan setelah menjadi pembunuh.


Dengan tubuh gemetaran akhirnya Azka memilih kembali kamar inapnya, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah kegaduhan beberapa Suster yang mecoba menenangkan seseorang yang sedang meringkuk ketakutan di pojokan dengan tangan kanan membawa pecahan gelas kaca serta tangan kiri yang di aliri darah tepat di PEMBULUH NADI!!!.


“Ad- adiikk ma maaf kan op- oppa!!!, Ja- jangan mend- mendekat ka- lian pas- ti ingin melukai adik!!” gumamnya terus menerus sembari sesekali menodongkan pecahan beling kepada Suster yang mecoba mendekatinya tanpa menghiraukan pergelangan tangan kirinya yang terdapat aliran darah segar yang sekarang sudah menetes di tanah.


Dan parahnya Azka mengenal orang itu, dia adalah Na Hyunjin kakak sekaligus tempat bersandar Azka.

__ADS_1


‘Ya tuhan apa lagi ini’


“Tidak!!!! Oppaa!!!” teriak Azka histeris lalu berlari memeluk kakaknya dengan satu tangan dan segera membuang pecahan gelas kaca itu yang ternyata juga telah melukai telapak tangan kanan kakaknya.


“Oppa kenapa?” tanya Azka lirih, sangat lirih bahkan sampai tidak ada yang mendengarnya terkecuali dia dan sang kakak.


Azka lelah, masalah demi masalah datang menghampirinya dengan sekali serangan, rasanya melebihi menjadi ironman, rasanya Azka benar benar di bombardier dengan kenyataan kakaknya yang depresi hingga mencoba bunuh diri.


“Ad-adik… ma maaf kan ka- kak” gumam Hyunjin dengan tubuh yang gemetaran membuat dunia Azka hancur sehancur hancurnya.


Jika ada kata lain melebihi kata hancur, mungkin Azka akan menggunakannya.


“Oppa, jebal….. jangan seperti ini” ujar Azka sambil mengelus pundak sang kakak membuat para Suster menatap mereka kasihan, tersentuh, dan bahkan ada juga yang sudah menangis.


Brukk……


Tiba tiba saja tubuh Hyunjin terjatuh, menubruk tubuh kecil Azka membuat Azka mematung, ini kenapa?


Dengan cepat para Suster segera menangani Hyunjin dan menyadarkan Azka dari lamunannya.


Ah jika Hyunjin benar benar tidak selamat mungkin Azka lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sekarang juga.


Azka depresi, dia benar benar takut menjadi buronan serta di cap sebagai pembunuh di usianya yang terbilang masih sangat kecil.


Tapi sekarang saat melihat betapa hancurnya sang kakak, betapa tinggi rasa bersalah sang kakak saat tidak menemukannya malam itu sampai membuatnya depresi, apa sekarang Azka masih sempat untuk ikut ikutan depresi juga.


Tidak!! ini tidak boleh begini, dia harus memutuskan.


<<<<<<


Kini detik demi detik telah berganti hari, sudah 3 hari lamanya Azka di rumah sakit dengan fikiran yang tidak jauh jauh dari.


Apa Polisi sudah mulai pencarian?


Apa sidik jarinya ketemu?


Apa sekarang wajahnya sudah di pasang di surat kabar?


Dan yang terakhir, kenapa kakaknya tak kunjung bangun?


Di rumah sakit ternama di Daegu ini Azka beberapa kali sempat berpapasan dengan Polisi yang masih melakukan penyelidikan serta menunggu hasil otopsi.


Hal itu mampu membuat jantung Azka lari marathon setiap harinya, dirinya selalu terbayang bayang tentang sel penjara ataupun di olok sebagai pembunuh, dan WoW nya lagi terkadang Azka juga merasa di hantui oleh wanita tua mesum yang sebelumnya dia bunuh.


Azka benar benar akan gila jika harus menghadapi hal ini terus menerus, dia depresi namun keadaan tidak memperbolehkannya untuk depresi, bagaimana dengan sang kakak yang kini telah keluar dari masa kritisnya akibat kehabisan darah.


Ah kejadian itu bahkan lebih pantas di sebut bangkit dari kematian, karna waktu itu jantung Hyunjin sempat berhenti berdetak selama satu menit lamanya, membuat Azka benar benar berniat menyusun simpul tali untuk bunuh diri.


Sampai pada akhirnya hari itu tiba, hari dimana Na Hyunjin bangun dari koma nya selama 5 hari.


“Oppa kenapa kamu melakukan hal itu, apa kamu benar benar tega meninggalkan ku sendirian di dunia yang penuh keserakahan ini” kata kata yang keluar pertama kali dari mulut Azka ketika Hyunjin terbangun dari Komanya.


“Maaf kan oppa, oppa benar benar tidak memikirkan hal itu tapi kali ini oppa berjanji akan terus menerus melindungi adik ku satu satunya” sahut Hyunjin sambil mengelus rambut Azka yang kini sedang memeluknya dengan posisi Hyunjin yang tidur dan Azka yang naik ke atas brankar untuk memeluknya.


Azka? jangan di tanya dia bahkan lupa caranya untuk bernafas.


“Kenapa diam saja hmm?” tanya Hyunjin lembut dengan suara yang lancar tanpa tersendat kayak keran mampet.


“Siapa adikmu?” tanya Azka ketus sambil menjauhkan diri dari Hyunjin.


Dia mengira Hyunjin kerasukan Jin botol atau nggak kerasukan wanita yang telah dia bunuh makanya ngomongnya jadi lancar serta terlihat normal, bukan lagi idiot.


“Tentu saja kamu, Azka, Na Azka adiknya Na Hyunjin” ujar Hyunjin membuat Azka benar benar ling lung.


Apa gagal bunuh diri bisa membuat orang sembuh dari keterbelakangan mental?


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak loh guys…


Hahahaha akhirnya 3 chpter selesai ngetik.


Semoga suka ya😊.

__ADS_1


Di tunggu ya kelanjutannya😁.


__ADS_2