
Sungguh kepalanya pusing di gantung secara terbalik seperti ini.
Jingmi sabar Jingmi kuat, kalo gak kuat pergi aja naik lift menuju akhirat, gampang kan.
***
Mari kita kembali kepada Azka yang masih uring uringan sambil berjalan menuju gerbang depan Akademi, saking uring uringannya Azka bahkan lupa kalau dia belum memakai cadarnya, alhasil kini wajah cantiknya sedang menjadi pemandangan gratis Murid Murid lain yang tidak sengaja lewat.
“Sialan!! semua laki laki emang buaya!! Zhishu si buaya buntung, buaya kali, buaya empang, buaya lautan, buaya rawa, buaya darat!!” gumam Azka yang tidak henti hentinya memaki Zhishu.
“Awas aja kalau manggil aku dengan sebutan-”
Bruukk!!1 Akkhhh sh***.
“Gimana sih!!! kalau jalan mata itu di pake dong jangan malah di simpen di dalam kantong, gak tau apa orang lagi kesel” maki Azka pada si penabrak sambil menggosok pantat nya yang baru saja mencium tanah.
“Ah no- Nona Azka, maaf” sahut si penabrak sedikit gugup karna telah lama tidak bertemu.
Eh tunggu dulu, telah lama tidak bertemu? sontak Azka mengadahkan kepalanya karna mendengar suara yang sedikit familiar.
“Ah kapan kau kembali?” tanya Azka pada Xu Kai yang tadi menabraknya sambil berdiri dari duduknya.
“I itu baru saja” jawab Xu Kai masih sedikit gugup karana melihat wajah Azka tanpa cadar untuk yang ketiga kalinya.
“Kau ini kenapa?” tanya Azka lagi karna Xu Kai yang tidak seperti biasanya.
“I ituu” jawab Xu Kai gugup sambil menaik turunkan telapak tangannya di sekitar wajahnya sendiri.
Azka yang mengerti kemana arah pembicaran Xu Kai pun baru mengingat kalau dia belum memakai cadar.
“Ish… ini semua salah Zhishu sialan itu” gumam Azka sambil memakai cadar yang baru saja dia ambil dari ruang dimensi lalu pergi begitu saja meninggalkan Xu Kai yang masih terbengong.
“Sekali lagi aku merasa sudah kalah sebelum berjuang” gumam Xu Kai miris lalu pergi meninggalkan halaman Akademi.
Tidak membutuhkan waktu lama kini Azka telah sampai di tempat Favorite nya yaitu air terjun dekat Akademi, yah Azka keluar Akademi dengan alasan akan menjual herbal di desa untuk mencari uang.
Dan tol*lnya lagi para penjaga itu percaya dan malah memberi Azka uang saku untuk di perjalanan, padahal jelas jelas di Akademi ada toko herbalnya yang bisa untuk membeli dan menjual jika sedang butuh uang.
Ya tuhan ini yang ****** Azka nya atau penjaganya.
“Nona yakin penjaga itu sehat?” tanya Tao yang sekarang berada di pangkuan Azka dengan wujud kucingnya untuk mengantisipasi adanya spirit beast lain yang mendekat.
“Entahlah pada mabok mayat kali” jawab Azka ngasal membuat Tao hanya mengangguk nganggukkan kepalanya saja tanda mengerti.
Masuk akal sih, kan Akademi baru saja melakukan peperangan jadi pasti para penghuninya lagi pada mabok ngeliat banyak mayat.
“Tao tolong carikan aku potongan bambu kecil, tapi jangan kecil kecil banget” perintah Azka yang langsung di laksanakan oleh Tao tanpa bertanya lebih lanjut.
Tao sendiri dia langsung bergegas mencari barang yang di inginkan Nonanya agar tidak meninggalkan Azka sendirian di hutan pinus terlalu lama.
Tidak berselang lama Tao telah kembali sambil membawa 1 bambu kecil seukuran tangan bocah bersamanya.
“Nona apa ini cukup?” tanya Tao sambil mengulurkan bambu yang dia lilitkan di ekor kucingnya.
“Cukup, istirahatlah jangan perdulikan aku” ujar Azka lalu mengeluarkan pisau lipat dari ruang dimensinya.
Cukup lama Azka berkutat dengan pekerjaannya yang sedang menghaluskan potongan bambu itu menggunakan pisau lipat lalu membuat lubang kecil kecil untuk dia jadikan seruling.
Tao hanya memperhatikan apa yang di lakukan Nonanya itu dengan kalem, meski awalnya sedikit kebingungan dengan yang di lakukan Nonannya ini.
“Nona apa kamu sedang membuat seruling?” tanya Tao.
“Kau tahu?” bukannya menjawab Azka malah balik bertanya, apa mungkin di zaman ini seruling sudah ada.
“Tentu saja, di sini sedikit banyak penyair lagu serta ahli musik yang menggunakan seruling, apa Nona bisa menggunakannya?” tanya Tao.
“Iya, aku menyukai alat musik ini” jawab Azka lalu mencoba meniup serulingnya yang ternyata berhasil.
“Cha!! ini sudah selesai, aku akan memainkan lagu titanic dengan seruling, dengarkan baik baik karna lagu ini sangat laris di tempat asalku” lanjut Azka sambil menyingkap sedikit cadarnya lalu segera meniup seruling yang baru di buatnya itu.
Sesuai perkataannya, Azka benar benar menyenandungkan lagu titanic membuat Tao terbawa suasana dengan lagu yang di senandungkan Nonannya ini.
Tepat saat lagu telah habis di nyanyikan Azka saat itu juga Tao tersadar akan lamunannya yang terbawa suasana sedih dari lagu Azka.
__ADS_1
“Nona lagu itu sangat indah” puji Tao membuat Azka hanya mengibaskan rambutnya bangga.
“Siapa dulu dong yang mainin alat musiknya” ujar Azka mulai deh sombongnya.
“Aku menyesal telah memuji Nona” sahut Tao membuat Azka kesal.
Krakk….
Tiba tiba terdengar suara patahan ranting yang sepertinya tidak jauh dengan tempat Azka berada saat ini.
“Siapa disana?” ujar Azka mulai waspada mengganti serulingnya menjadi pisau lipat.
Tao sendiri langsung berubah menjadi macan hitam lalu berdiri di depan Nonannya, Tao dan Azka sedikit panik karna mereka berdua tidak menyadari kehadiran seseorang atau pun makhluk hidup lain dan tiba tiba saja sudah ada orang yang sepertinya sudah menguping sedari tadi.
“Sial kenapa bisa aku gak menyadari kehadirannya” ujar Azka mulai sewot, karna aura kali ini berbeda, bukan seperti aura Zhishu yang terlihat lemah namun terasa kuat, apa lagi di tambah orang yang mengupingnya ini pasti sudah mendengar Tao yang berbicara.
Aura ini lebih seperti dia menekan kemampuannya sampai ke titik tidak di ketahui.
“Aih Nona, kamu ini lupa apa gimana? tingkat kultivasimu saja masih berada di bawah standar mana bisa ngerasain aura kehadiran yang kemampuannya jauh di atas Nona” protes Tao sambil membalik tubuhnya agar menghadap Azka.
“Heh sadar diri dong!! katanya binatang hebat masa aura segini aja kamu tadi kecolongan” sahut Azka tidak terima mengejek Tao.
“Kan tadi aku lagi menghayati lagu Nona” ujar Tao membela diri.
“Hallah alesan” sahut Azka tidak percaya.
“Makanya Nona kau harus meningkatkan kultivasimu” ujar Tao menasehati Azka sambil menggoyang goyangkan ekor panjangnya.
“Terserah aku dong, kalau aku kuat lalu kamu jadi gak ada kerjaan, gak mau ah aku kan sukanya ngerepotin” sahut Azka masih tidak mau mengalah.
Oh ayolah sekarang di depan kalian ini sedang ada seseorang yang bersembunyi, dan parahnya lagi kalian belum tahu kalau orang itu musuh atau sekutu.
Bisa bisanya bertengkar di saat seperti ini.
“Sialan aura itu sudah menghilang” gumam Tao lalu melesat pergi meninggalkan Azka untuk mencari jejak yang mungkin tertinggal.
Azka yang di tinggal hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri yang sempat sempatnya bertengkar dengan Tao saat ada seseorang yang mendengar Tao bisa berbicara.
“Ah sepertinya aku harus menyembunyikan Tao untuk sementara ini sebelum penguping sialan itu tertangkap” gumam Azka lalu kembali duduk di bebatuan dekat air terjun.
“Sepertinya karna terlalu terburu buru orang itu menjatuhkan giok ini” jawab Tao sambil memberikan giok bewarna merah dengan ukiran bulu burung melalui mulutnya.
“Ukiran ini…… bulu burung apa ini?” tanya Azka sambil membolak balik giok di tangannya.
“Tidak salah lagi itu bulu burung vermilion, kenapa sepertinya tidak asing” ujar Tao sambil mencoba keras mengingat sesuatu namun hasilnya tetap zonk, dia lupa.
“Biarkan saja, semoga bukan musuh” sahut Azka lalu memasukkan giok itu kedalam ruang dimensi.
“Ehem Tao, coba kau selidiki” lanjut Azka membuat Tao mengernyitkan dahinya.
“Pemilik giok itu?” tanya Tao memastikan.
“Bukan, Fan Fan coba kau selidiki siapa orang itu” jawab Azka membuat Tao menahan tawanya sebisa mungkin.
“Pffttt Nona Fan Fan ini sebenarnya Naga Emas milik Master Zhu”
“Hah?”
Kita beralih kepada Xiao Bai yang kini sudah berada di ruang dimensi milik Zhishu, awalnya Xiao Bai benar benar antusias saat akan masuk kedalam ruang dimensi, tapi sekarang dia sedikit menyesal.
Kenapa dia tidak mengusulkan tempat lain saja tadi untuk bertemu.
Jika kalian berfikir tentang ruang dimensi Zhishu yang begitu mewah, banyak koin emas serta tumbuhan herbal langka, maka jawabannya.
Tidak!!! no way!! buang jauh jauh pikiran indah kalian.
Nyatanya ruang dimensi Zhishu penuh dengan lautan lava dengan lapangan es di sebelahnya, dua tempat keramat itu hanya di pisahkan sebuah kolam dengan gazebo sederhana di tengah tengahnya.
Xiao Bai sampai di buat heran, bagaimana bisa tempat seperti ini bersatu.
“Salam Senior Naga, salam Senior Phoenix” salam Xiao Bai saat sampai di depan dua pria dewasa yang sedang main catur di gazebo itu.
“Apa kamu adalah Naga Merah yang di bicarakan Tuan?” tanya Fan Fan kepada Xiao Bai yang sekarang berada pada mode anak baik baik.
__ADS_1
“Benar Senior” jawab Xiao Bai sopan namun masih dengan nada kekanak kanakkannya.
“Duduklah” ujar Lan Lan si Phoenix es.
“Terimakasih senior” sahut Xiao Bai sambil duduk di samping Fan Fan.
“Apa yang membuat mu ingin menemuiku?” tanya Fan Fan to the point namun masih melanjutkan permainan caturnya.
“Itu, sebenarnya ini tentang kemampuan penunggu ruang dimensi” jawab Xiao Bai membuat permainan kedua makhluk beda jenis itu berhenti.
“Kenapa kamu menannyakan ini?” tanya Lan Lan sambil menatap Xiao Bai serius.
“Kulihat kamu hanya binatang ilahi dari ras naga ah dan juga kamu……, tunggu dulu” sahut Fan Fan lalu tiba tiba menggendong Xiao Bai dan melesat pergi meninggalkan ruang dimensi di ikuti Lan Lan dari belakang.
“Kenapa kita harus berpindah tempat” tanya Xiao Bai kebingungan yang saat ini mendapati dirinya berada di hutan kematian dekat dengan Kerajaan Timur yang telah hancur.
“Jangan bilang kamu adalah penunggu pedang Naga milik Dewi perang, benar bukan? lantas kenapa kamu menanyakan hal yang seharusnya bukan berada di bidang mu?” bukannya menjawab Fan Fan malah balik bertanya dengan tatapan menelisik membuat Xiao Bai sedikit gugup.
“Kata Tuan kamu adalah binatang kontrak milik nyonya besar, lantas bukankah itu artinya nyonya besar adalah sorang Dewi perang?” sahut Lan Lan kembali menanyakan namun kali ini tentang Azka.
“Ini buruk!!! apa Tuan mengetahuinya?” tanya Fan Fan kembali.
Xiao Bai benar benar bingung, ini sebenarnya ada apa? kenapa mereka berdua terlihat panik saat menyebutkan nama Dewi perang.
“Cepat jawab!!” desak Fan Fan membuat Xiao Bai bertambah gugup.
“I- itu… sebenarnya awalnya Xiao Bai juga mengira begitu karna hanya Dewi perang atau reinkarnasi dari Dewi perang yang mampu mengontrak pedang naga” jawab Xiao Bai gugup.
“Lantas” sahut Lan Lan tidak sabar.
“Tapi ternyata bukan, karna seharusnya jika bunda adalah reinkarnasi dari Dewi perang seharusnya pedang naga menunjukkan kemampuannya, namun pedang itu masih sama tidak haus darah seperti saat di pakai Dewi perang” jawab Xiao Bai mengutarakan pengamatannya selama ini.
“Bagaimana bisa?” protes Fan Fan menyela.
“Entahlah, tapi itu memang benar adanya, dan hal yang membuat Xiao Bai semkin yakin jika bunda bukan reinkarnasi dari Dewi perang adalah kakak Bao Yu yang sepertinya tahu semua masa lalu ibunda” jawab Xiao Bai mulai membahas kecurigaannya pada Bao Yu.
“Siapa Bao Yu?” tanya Lan Lan.
“Dia adalah penunggu ruang dimensi mawar hitam, maka dari itu Xiao Bai menannyakan tentang kemampuan penunggu ruang dimensi, apa ini ada hubungannya dengan masa lalu bunda?” tanya Xiao Bai.
“Ah pantas saja, kecurigaanmu benar adanya, kemampuan penunggu ruang dimensi adalah mampu melihat seluruh masa lalu yang di alami pemilik, seperti aku dan Lan Lan yang mampu mengetahui semua masa lalu dari Tuan” jawab Fan Fan membuat Xiao Bai terdiam dengan pikiran pikiran yang muncul di benaknya.
Jadi selama ini Bao Yu tahu hal hal yang menimpa Azka. masa lalu kelam yang di alami Azka, asal usul Azka, dan dia tidak memberitahukan hal itu sedikitpun kepada Xiao Bai.
Keterlaluan.
“Kenapa kamu menanyakan ini, apa kamu penasaran sesuatu yang pernah di alami Nyonya Besar?” tanya Lan Lan.
“Benar, aku merasa bunda sangat kejam dalam memperlakukan sesama perempuan, Xiao Bai bahkan tidak pernah melihat bunda pernah akrab pada perempuan dan juga terlihat menghindarinya, bukankah seharusnya jika sesama perempuan mereka akan terlihat akrab dan beteman?” tanya Xiao Bai.
“Ya itu benar!! mungkin Nyonya besar memiliki trauma terhadap sesama jenisnya” jawab Lan Lan mengutarakan pemikirannya.
“Dan yang lebih parahnya, bunda terlihat takut, khawatir, waspada tentang buronan, entah masa lalu seperti apa yang telah di lewati bunda” ujar Xiao Bai dengan tatapan kosongnya membayangkan betapa kelamnya masa lalu yang di alami Azka hingga membuatnya seperti ini.
“Sudahlah selagi itu bukan Dewi perang maka itu bukan masalah besar” ujar Fan Fan sambil menurunkan Xiao Bai dari gendongannya.
“Memangnya kenapa jika bunda adalah Dewi perang?” tanya Xiao Bai yang kini telah kembali pada dunianya.
“Anak kecil di larang tahu” jawab Fan Fan enteng membuat Xiao Bai hanya mendengus kesal.
“Ah iya, sedari tadi aku penasaran, siapa Bao Yu?” ujar Lan Lan menanyakan tentang Bao Yu.
“Ah dia adalah Rubah Berekor Sembilan”
“Ha!!!” sahut Fan Fan dan Lan Lan bersamaan.
“Hah apa? kenapa?” tanya Xiao Bai bingung dengan respon kedua seniornya ini.
“Yang benar saja, aku pikir kaum Rubah Berekor Sembilan telah musnah akibat kutukan itu” jawab Fan Fan dengan pose berfikir yang terlihat tampan.
“Kutukan?”
TBC.
__ADS_1
Hehehe mulai pada terbongkar nih identitas pemeran pembantunya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys😁.