
“Beraninya kau memanggilku kolot!!!” teriak Jendral Fang lalu tanpa di duga melemparkan belati perak tepat ke leher Azka yang sedang mengayunkan cambuknya ke arah Prajurit yang mencoba menghalanginya untuk sampai ke tempat Jendral Fang.
“Istri awass!!!!”
***
Sreett…. Clap… Bruk….
Dengan cepat Azka menghindar namun tetap saja belati itu sempat menggores pipi mulus nya hingga cadarnya terlepas dan berakhir menancap pada dada Prajurit yang tadi mencoba menghalangi Azka.
“Ga-gawat itu racun!!” teriak salah satu Murid Akademi yang melihat mulut Prajurit itu berbusa dan langsung meninggal di tempat.
Kini semua orang menatap takut ke arah Azka yang sedang menunduk dengan darah bewarna hitam yang terus menetes di pipinya.
“Hahahahaha ternyata membunuh jal*ng itu sangat lah mudah” ujar Jendral Fang sambil tertawa keras saat mengetahui belatinya sempat menggores pipi Azka.
“Meski tidak tepat sasaran tapi tenang saja racun itu akan segera membunuh pimpinan pasukan kalian” lanjut Jendral Fang membuat semua pasukan Azka kini terbawa emosi.
“Sayangnya orang cantik tidak akan mati dengan mudah” sahut Azka masih sempat sempatnya menyombongkan diri lalu mengadahkan wajah cantiknya dengan pipi yang masih berdarah namun darah itu sudah berubah warna menjadi merah darah pada umumnya.
Semua orang sontak menahan nafas melihat kecantikan di depannya, bahkan pasukan Jendral Fang yang semula bertarung dengan brutal kini menghentikan serangannya dan lebih memilih menikmati kecantikan Azka.
“Cepat serang mereka atau kita akan kalah!!!” teriak Azka menyadarkan para pasukannya saat melihat mereka semua yang terdiam sedang terpesona dengan wajah cantiknya.
Segera para pasukan Azka kembali kepada tugasnya, ada yang langsung menyerbu lawannya menggunakan elemen elemennya, dan juga ada yang menggunakan serangan tenaga dalamnya, mereka sangat lincah bagaikan batrai yang telah di isi ulang.
Iya di isi ulang dengan pemandangan kecantikan Azka.
“Heh tunggulah sebentar lagi, asal kau tahu racun itu sangat mematikan loh” ujar Jendral Fang mengejek Azka.
Meski sempat terkejud karna Azka yang tidak langsung meninggal, namun dia masih menenangkan pikirannya sebab Azka hanya tergores sedikit, mungkin itu akibat efek racunnya sedikit melambat.
“Terserah, tunggu saja sampai ajal menjemputmu” ujar Azka lalu dengan cepat menyabet kepala Jendral Fang menggunakan cambuknya.
Dengan cepat pula Jendral Fang menghindari serangan Azka lalu menyerangnya kembali menggunakan tenaga dalamnya yang berada 3 tingkat di atas Azka.
Azka sendiri tidak menghindar dan malah menghancurkan serangan tenaga dalam itu menggunakan cambuknya karna jika dia menghindar maka serangan Jendral akan mengenai Murid Akademi yang kini berada di belakangnya, mana mungkin Azka mau pasukannya berkurang.
Ctasss…. Blaarrr….
Berhasil!! sabetan cambuk Azka mampu menghancurkan serangan tenaga dalam milik Jendral Fang namun hal itu mengakibatkan ledakkan yang cukup besar.
Ahh tenaga dalam Jendral ini setara dengan para Tetua Akademi, jika begini terus takutnya akan terjadi kerusakan akibat ledakan ledakan.
Azka sendiri langsung memutar otak untuk membawa Jendral Fang menjauh dari pasukannya agar tidak menimbulkan kerusakan dan mengakibatkan Formasi Pelindung Akademi melemah.
“Apa racun itu telah berfungsi, hahahaha mau lari kemana kau, tenang saja akan aku buat kematian mu di percepat” ujar Jendral Fang sambil berlari mengejar Azka yang menjauh dari lokasi peperangan sembari memegangi dada kirinya.
“Jendral ******!! mau aja di tipu” gumam pelan Azka memaki Jendral Fang yang masih terus mengejarnya.
Azka sengaja berlari menjauhi lokasi peperangan sembari memegangi dada kirinya yang nyatanya baik baik saja, emang dasarnya Jendral Fang yang terlalu percaya diri akan racunnya hingga dia kemakan jebakan yang di buat Azka.
Setelah dirasa cukup jauh, bahkan tempat itu berdekatan dengan parit yang di buat Tao akkhirnya Azka berhenti lalu tersenyum lebar menatap Jendral Fang.
“Melihat kemampuan mu yang hanya sebutir upil itu aku jadi penasaran apa mungkin waktu itu mata Kaisar Wei yang terhormat sedang kelilipan sehingga mengangkatmu menjadi Jendral besar” ujar Azka memancing emosi Jendral Fang.
“Membual saja terus sesukamu, hahahaha sudah menjadi hal biasa orang mau mati pasti banyak bicara” sahut Jendral Fang mencoba meredam amarahnya dengan tertawa dan hal itu tertangkap jelas di mata Azka.
“Jendral sebenarnya aku sangat ingin mencincang tubuh tua mu itu, tapi sayangnya ada seseorang yang lebih ingin membunuhmu lebih dari aku” ujar Azka lalu segera memanjat pohon pinus di sampingnya meninggalkan Jendral Fang yang masih kebingungan.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu keluarlah Bao Yu dengan wujud bocahnya di hadapan Jendral Fang.
“Heh manusia rendahan!!, aku pernah bersumpah untuk membunuhmu dengan cara terkejam dan sekarang waktunya telah tiba” ujar Bao Yu sembari mengeluarkan pusaran angin dari tangan kecilnya.
Masih ingat kan tentang sumpah Bao Yu yang akan menghabisi seseorang yang telah menyewa pembunuh bayaran waktu perjalanan ke Kerajaan Barat.
“Hanya bocah kerdil bisa apa, lagi pula aku tidak merasa kita pernah bertemu atas dasar apa kamu mau membunuhku” sahut Jendral Fang mengolok Bao Yu yang kini menyunggingkan senyum mautnya.
“Cek cek cek mari kita lihat harus kah aku memotong lidah menjijikkan mu itu terlebih dahulu atau mencongkel mata jelek mu itu terlebih dahulu” ujar Bao Yu santai tanpa menjawab sahutan Jendral Fang membuat emosi yang sedari tadi di tahan oleh Jendral Fang kini telah mencapai ubun ubunnya.
“Emm tidak tidak jika aku memotong lidahmu maka kau tidak akan bisa menjerit kesakitan dan itu tidak akan membuat ku puas, lalu jika aku mencongkel bola matamu maka kau tidak akan bisa melihat bagaimana aku menghabisimu, jadi mari memutilasi mu terlebih dahulu” gumam Bao Yu dengan tampang songongnya.
“Beraninya kau bocah ingusan!!!” tidak tahan lagi akhirnya emosi Jendral Fang meledak dan langsung menghampiri Bao Yu namun sayangnya dia kalah cepat dengan Bao Yu yang sudah melepaskan pusaran angin di tangannya.
Wusshh….. sreett… arggghhhhhh…….
Seketika teriakan pilu keluar dari mulut Jendral Fang saat pusaran angin tajam milik Bao Yu berhasil menembus kulit tangan Jendral dengan perlahan hingga putus.
“Arrggghhhhh….. singkirkan benda ini!!!” teriak Jendral Fang saat pusaran angin Bao Yu kini beralih menuju kaki kanan Jendral dan melakukan hal yang sama, yaitu memotong kaki itu perlahan bagaikan pisau tumpul.
Bayangkan betapa sakitnya, Bao Yu benar benar tidak main main dengan ucapannya yang akan membalas dendam dengan cara yang keji.
“Yu’er nikmati mainan mu aku akan kembali membantu yang lain” ujar Azka dari atas pohon lalu segera melompat kembali menggunakan jurus meringankan tubuh miliknya.
Di tempat lain Tetua pertama sedikit kewalahan menghadapi Mentri Jian yang sedang murka parah karna melihat seonggok kepala anaknya dengan rambut yang sengaja Azka kucir menjadi satu dengan rambut guru alchemist yang berhianat.
Awalnya karna tidak tahan dengan potongan kepala yang tersambung dengan kepalanya Guru Ma sempat pingsan namun sekarang telah sadar dan kembali pingsan lagi.
“Idiot mana yang berani membunuh putri ku!!!” teriak Mentri Jian sambil mengayunkan cambuk yang sudah di lapisi tenaga dalam itu secara asal hingga mengenai Murid Murid yang tingat kultivasinya masih di bawah Mentri itu.
“Idiot mana? putri mu itu memang pantas mati!!” balas Tetua pertama sembari mengayunkan kapak besarnya yang bisa di hindari oleh Mentri Jian.
Meski Tetua pertama tampak masih semangat dengan mengayunkan kapak besarnya namun jauh di lubuk hatinya pikirannya sedang kalang kabut karna pasukannya telah banyak yang tumbang dan langsung di evakuasi oleh Murid Murid alchemist yang sudah di percaya Azka memegang kendali pengobatan, Azka juga tidak segan segan memberikan sekotak besar pil pil langka tingkat tinggi yang dia buat kemarin.
Dari mana datangnya bala bantuan ini.
Kita kembali kepada Azka yang kini sedang menjambak rambut Zhishu di tengah tengah keributan peperangan dengan brutal.
“Beraninya kamu enak enakkan duduk sambil makan di antara keributan ini!!” teriak Azka kesal.
Bagaimana tidak, di saat dia secepatnya kembali ke lokasi perang untuk membantu pasukannya malah melihat Zhishu yang sedang memakan apel sembari duduk bersila di tengah tengah keributan perang.
Bisa bisanya.
“Is- istri maafkan aku, lagi pula aku kan hanya bertugas melindungimu bukan melindungi Murid Murid yang telah dengan berani terpesona akan kecantikanmu” ujar Zhishu membela diri sambil memegangi rambutnya yang serasa ingin copot karna tarikan Azka.
Bukan tanpa sebab Zhishu membiarkan pasukan Azka yang kini kewalahan, dia hanya ingin sedikit memberikan mereka pelajaran karena telah berani menatap wajah gadisnya dengan penuh minat.
“Tetap saja kalau kita kalah bagaimana” ujar Azka masih menjambak rambut panjang Zhishu dengan brutal, membuat sang empu hanya tertawa karna ke ganasan calon istrinya.
“Istri jangan marah marah awas di belakangmu!!” teriak Zhishu saat ada Prajurit Jendral Fang yang ingin mengambil kesempatan saat Azka lengah.
Dengan cepat Azka melayangkan bogeman mentah kearah Prajurit yang telah berani mengganggu waktunya yang sedang memarahi Zhishu membuat dia lupa tentang kemarahannya.
Tidak berhenti di situ Azka segera menyabetkan cambuk ke arah para Prajurit lain yang kini telah berkurang banyak seiring dengan berkurangnya pasukan Azka juga, bahkan kini Zhishu juga sudah mulai beraksi kembali karna sudah lelah dengan permainan yang tidak ada selesainya ini.
Sampai tiba tiba ada seonggok kepala yang jatuh dari atas langit dengan rambut panjang di kepang menjadi dua bagai anak TK di zaman modern.
Sontak semua orang menghentikan serangannya dan beralih menatap kepala Jendral Fang yang kini tergeletak tanpa tubuh, yah dan jangan lupakan kepangan cucok yang menjadi pelengkap di kepalanya.
__ADS_1
“Bao Yu benar benar rese’ sempat sempatnya mengepang rambut Jendral sialan itu” gumam Azka sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
“I- itu bukannya Jendral Fang?” tanya salah satu Murid Akademi yang telah tersadar sambil langsung menghunus kan pedangnya ke arah lawannya yang masih cengo melihat seonggok kepala tanpa tubuh di depannya.
“Wah wah akhirnya Jendral kalian sudah kalah” sahut Murid yang posisinya tidak jauh darinya dan langsung menyuruh teman temannya untuk segera menghabisi lawan mereka dengan cepat, bahkan ada yang sampai berlari lari untuk mengabari kelompok lain jika pemimpin pasukan lawan telah tumbang.
“Tao!!”
Groaaarrr…….
Auman mengerikan Tao mulai terdengar seiring kemunculan wujudnya yang langsung bersujud di hadapan Azka si pemanggil.
“Sudah larut cepat habisi mereka biar aku dan Zhishu yang membantu Qi Xuan” perintah Azka yang langsung di laksana kan oleh Tao.
“Mari akhiri perang ini sebentar lagi matahari akan terbit” ujar Azka lalu mengajak Zhishu berlari menerjang para pasukan yang menghalangi jalannya menuju bagian samping Akademi hanya dengan sekali tebasan.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Azka untuk sampai di kelompoknya Qi Xuan, dan keadaan disana cukup membuat dia tercengang, ternyata Tao melakukan perannya dengan benar, kini pasukan Jendral yang menyerang tinggal sedikit bahkan bisa dihitung menggunakan jari dan Qi Xuan dia masih saja berhadapan dengan ayah dari Tian Ba.
Srett…. brukk….
Tanpa pemberitahuan segera Azka memenggal kepala Tian Mu dengan mudah menggunakan pedang entah milik siapa membuat Qi Xuan melongo tidak percaya.
“Biarkan yang lain untuk mengurus sisanya mari membantu guru” ajak Azka lalu segera menemui gurunya.
Sampai pada akhirnya matahari telah bersinar dengan terang menyisahkan bau amis darah dan berakhirnya penghiatan serta pertumpahan darah di atas bumi damai Akademi Seribu Bayangan.
Sreeett…. Bruukk…. arghhh….
Mentri Mo adalah orang terakhir yang menghembuskan nafas terakhirnya pula di tangan Ketua Akademi dalam perang dadakan ini.
“Hufttt” helaan nafas kasar yang keluar dari mulut cantik Azka yang kini tiduran di atas rerumputan di samping mayat mayat karna saking lelahnya, bahkan baju armor milik Azka sudah berubah warna menjadi merah akibat terciprat darah dari korban korbannya.
Azka sendiri hanya terluka di bagian lengan, betis serta pipi mulusnya.
“Muridku, jangan tiduran di situ atau orang orang akan melihatmu sebagai mayat” ujar Ketua Akademi yang kini terduduk sambil membalut kakinya yang sudah tergores sana sini.
“Mari obati luka mu terlebih dahulu” ajak Zhishu dengan suara beratnya saat tahu luka yang menganga lebar di betis kanan Azka membuatnya murka serta uring uringan.
Zhishu sendiri tidak terluka sama sekali, bahkan sedari peperangan tidak ada orang yang mendekati Zhishu yang notabenya penyerang jarak jauh.
“Guru cepat obati luka mu di pos alchemist, aku telah meninggalkan pil pil tingkat tinggi disana dan untuk Murid serta pekerja yang gugur mari kita bahas setelah aku kembali” ujar Azka sambil bangun dari tidurannya membuat sebagian rambutnya terkena genangan darah yang belum kering.
“Memangnya kamu mau kemana? bukankah kamu juga perlu mengobati lukamu juga?” tanya Ketua Akademi.
“Aku akan mengobatinya di pavilium” jawab Azka singkat lalu menarik Zhishu pergi dengan sisa sisa tenaga yang masih ada.
Saat di perjalanan menuju pavilium, Azka tidak henti hentinya mendapat pujian serta tatapan kagum, tidak hanya karna wajah cantiknya namun karna strategi perang yang dia rancang berhasil menang telak.
Bahkan ada salah satu senior yang terang terangan mengatakan betapa beruntungnya Zhishu mendapatkan gadis sehebat dan secantik Azka.
“Ahahaha bukankah mereka terlalu berlebihan” ujar Azka malu malu saat sudah sampai di pavilium.
“Hallah jujur saja Nona kau juga menyukainya kan?” sahut Tao yang tiba tiba datang dengan bulu bulu macan nya yang sudah kaku terkena darah kering.
“Ya suka lah!!! aku kan gak munafik, mana ada sih orang yang marah marah saat di puji, meski ada yang terlihat marah tapi jauh di lubuk hati mereka pasti ada kebanggaan tersendiri” sahut Azka lalu menarik kasar tangan Zhishu yang tiba tiba mengeluarkan aura membunuhnya di hadapan nya.
“Zhishu kau ini kenapa sih?” tanya Azka saat merasa Zhishu terlihat uring uringan sendiri.
Bukannya menjawab Zhishu beralih menyuapkan pil penyembuhan tingkat tinggi miliknya kedalam mulut Azka tanpa aba aba membuat mata Azka membola.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys😊