TEROR

TEROR
|100| KAGET


__ADS_3

Shiren kaget. Dia sangat kaget ketika melihat di dalam penjara yang kosong itu, terdapat Aira sedang menangis menatap kearahnya.


"Aira.." ucap Shiren sambil menatap kearah Aira dengan air mata yang terus mengalir.


"Kakak, Aira takut. Aira panggil-panggil tapi kenapa kakak gak dengerin Aira?" tanya Aira menatap lekat mata Shiren.


"Aira, kakak gak liat.." jawab Shiren sambil menggenggam tangan Aira.


"Shiren. Waktunya tinggal 3 menit lagi, cepat pergi dari sana." ucap Shila memperingatkan.


Shiren yang mendapat perkataan seperti itu langsung melepaskan genggaman tangannya dari Aira dan menatap kearah Qiara.


"Aira, dengerin kakak.. setelah kamu keluar dari sini, kamu harus lari kearah cahaya warna merah muda, kakak sama Qiara lari kearah cahaya warna biru, jangan pernah liat kearah kakak atau ke belakang, kamu fokus kejar cahaya warna merah muda ya." jelas Shiren menatap lekat mata Aira.


Aira yang mendapat perkataan seperti itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil menghapus air mata yang sejak tadi menetes dari matanya.


Shiren dan Qiara menggenggam gembok yang mengunci Aira selama beberapa hari kebelakang ini.


TRING..


GRRR.. GRRRHH.. GRHH..


Saat gembok itu terbuka semua sosok yang ada di dalam penjara gaib meraung sambil menatap tajam kearah Shiren, Qiara dan Aira yang saling menggenggam tangan satu sama lain.



"Lari!" ucap Shiren kepada Aira dan Qiara. Dua gadis kecil sedang berlari beriringan, padahal mereka belum mengenal satu sama lain. Shiren harus lebih mendahulukan langkah kecil dibandingkan dirinya.

__ADS_1


"Shiren Ayo lari! Waktunya tinggal satu menit!" ucap Shila dengan suara yang menggema.


Shiren yang mendengar perkataan itu menatap kearah Aira dan Qiara yang sudah hampir sampai menuju cahaya yang dia bilang sebelumnya.


Kali ini gilirannya untuk berlari dalam waktu 60 detik dengan jarak yang lumayan jauh belum lagi banyak tangan dari sosok tak kasat mata yang menghalangi langkahnya.


Dia mengambil nafasnya dalam-dalam dan berancang-ancang untuk lari melewati tangan-tangan yang menjulur dengan panjang dari sosok tak kasat mata.


WOSH..


Qiara, Shiren dan Aira sudah dalam tubuhnya masing-masing.


Seperti halnya, kehidupan yang kita jalani. Semua akan pergi satu persatu ke dekapan Sang pencipta bukan? Itu adalah sebuah kepastian, ketika tubuh diberi nyawa untuk hidup di dunia. Kematian hanya ada ditangan Tuhan bukan ditangan penganut ilmu hitam.


Sosok wanita misterius itu mengurung jiwa Aira dalam penjara gaib. Tidak jauh beda dengan pembunuhan bukan? Shiren dan Qiara hanya membebaskan Aira dari penyekapan wanita yang terus menerornya, mereka berdua bukan membebaskan Aira dari kematian yang telah ditetapkan oleh Tuhan.


Sesuai yang di katakan oleh Shila, di dalam tubuh Aira itu bukanlah jiwa Aira. Melainkan, jiwa orang lain yang telah di tunjuk oleh wanita misterius, agar menempati tubuh adik dari Bara. Sedangkan jiwa Aira yang asli ada di dalam penjara gaib untuk menjadi tahanan jika suatu saat perempuan misterius itu dalam keadaan terdesak.


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..


Roslyn terbatuk-batuk ketika menutup portal gaib, dari dalam mulutnya keluar darah begitu banyak, tidak hanya darah yang keluar dari mulut Roslyn, ada hal lain yang membuat semua orang kaget melihatnya. Paku, rambut dan belatung bercampur dengan darah.


"Kalian di teror?" tanya Roslyn.


"Iya, Bu. Selama ini kita di teror. Tapi, kita bingung siapa yang udah teror kita sampai separah ini." jawab Shila.


Sedangkan disisi lain Echa melihat Bara yang terus memeluk tubuh Aira tangisannya belum juga reda.

__ADS_1


ECHA POV


"Maaf kak, kami akan memandikan jenazahnya." ucap salah satu perawat wanita. Bara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya dari Aira.


"Aira belum mati!" ucap Bara dengan nada pelan namun menusuk.


"Kakak.."


Panggilan itu mampu membuat semua orang diam mematung sambil menatap kearah anak kecil yang sedang dalam pelukan Bara.


Aira. ucap Echa dalam hati saat melihat Aira yang sedang membuka matanya sambil meraih tangan Bara.


Echa tidak mampu berkata apa-apa saat melihat Aira membuka matanya lagi, bahkan semua orang yang ada disana hanya melongo, menyaksikan Aira yang sedang menangkup wajah Bara dan menghapus Aira matanya.


"Kakak kenapa nangis?" tanya Aira yang sedang menghapus air mata kakaknya, Bara. "Kenapa Aira bisa disini?" tanya Aira bingung ketika melihat dirinya berada di rumah sakit.


Bara, Echa dan semua orang yang ada disana masih tidak percaya jika Aira yang berbicara, tidak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaan Aira.


"Kakak nangis?" tanya Aira sambil mencium pipi Bara dan tersenyum manis menatap Bara.


"Aira.." gumam Bara sambil mengelus pipi Aira. Dia masih belum percaya apa yang baru saja dilihat olehnya. Aira menganggukkan kepala sebagai jawaban dengan senyuman manis yang sering ditampilkan setiap harinya.


"Aira.. Ini Aira kan?" tanya Echa.


"Kakak sama Kak Caca kenapa sih? Emangnya tadi Aira kenapa?" tanya Aira bingung ketika melihat semua orang yang ada di dalam ruangan menangisinya bersama dengan dua orang perawat yang masih melongo.


"Aira.." panggil Hanin.

__ADS_1


"Kak Hanin juga kenapa? Kakak sehat semua kan? Aira gak sakit apa-apa tapi kenapa dibawa kerumah sakit?" tanya Aira yang lagi-lagi bingung dengan apa yang saat ini terjadi padanya."Mama sama Papa mana?" tanya Aira lagi.


Sejak mendengar perkataan Dokter tentang keadaan Aira, Echa tidak lagi melihat Daniel dan Bunda An. Dia terlalu fokus pada Bara dan dirinya yang sama-sama kehilangan ketika dokter berkata jika Aira tidak bisa diselamatkan.


__ADS_2