
Echa dan teman-temannya yang lain sedang berada di ruang tamu berbicara tentang gedung, baju dan dekorasi yang akan digunakan sebagai pernikahan Mutiara dan Alvero.
"Emangnya sekarang tanggal berapa?" Tanya Devan.
"Tanggal 2." Jawab Mutiara menatap kearah Devan.
"Gak kerasa ya baru juga kemarin." Ucap Devan sambil menghela nafasnya panjang.
"Yang sabar ya.." ucap Gavin mengelus punggung Devan seolah menguatkannya.
"Sabar apa?" Tanya Devan bingung.
"Belum dapet pasangan." Jawab Gavin.
"Itu lagi bahasannya." Ucap Devan mengusap wajahnya kasar.
"Jadi kakak nikahnya di gedung?" Tanya Echa mengalihkan pembicaraan.
"Iya Ca dan sekarang kita mulai beresin semuanya." Jawab Mutiara.
"Yaudah nunggu apalagi? Daripada bosen." Ucap Devan tiba-tiba.
"Udah pada rapih tinggal berangkat." Ujar Nathan sambil berdiri dari duduknya.
"Ayo." Ajak Alvero yang juga berdiri dari duduknya sambil menggenggam tangan Mutiara agar mengikuti dirinya.
Mereka semua melangkahkan kakinya menuju keluar rumah Echa untuk melihat sudah sejauh mana persiapan gedung yang akan dipakai pernikahan Mutiara, sebelum pergi Echa mengunci rumah nya terlebih dahulu.
"Kak, gimana keadaan Aira?" Tanya Echa sambil menyimpan kunci rumahnya itu kedalam tas nya.
"Udah mendingan." Jawab Bara. Echa tidak membalas perkataan Bara dia langsung naik keatas motor Bara, mengikuti Alvero untuk pergi ke gedung pernikahannya.
Bara melajukan motornya dengan kecepatan standar membelah kemacetan kota Jakarta disiang hari, Echa melingkarkan tangannya di pinggang Bara menyimpan kepalanya di bahu calon suaminya itu.
"Kak." Panggil Echa.
"Kenapa?" Sahut Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Gak apa-apa, manggil aja." Jawab Echa cengengesan. Bara tidak menjawab perkataan Echa mereka kembali membungkam mulutnya.
__ADS_1
...----------------...
30 menit telah berlalu, mereka sudah sampai di gedung pernikahan yang akan Mutiara gunakan dan selama diperjalanan tidak ada percakapan apapun.
Mereka semua melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung yang begitu luas dan mewah, konsep elegan dengan ukiran berwarna gold membuat gedung itu terlihat sangat mewah.
"Kak, Caca ke toilet dulu." Ucap Echa ketika sudah berada di dalam gedung.
"Kakak anter." Ujar Bara.
Echa dan Bara melangkahkan kakinya menuju toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Kakak tunggu disini." Ucap Bara menunggu di kursi undangan yang ada tidak jauh dari toilet.
"Iya." Ujar Echa melangkahkan kakinya masuk kedalam toilet.
...----------------...
5 menit telah berlalu, Echa lega ketika sudah membuang air kecil, dia membasuh wajahnya di wastafel. Namun tiba-tiba saja Echa merasakan ada tangan yang memegang bahunya.
Echa menatap dari cermin wastafel dan pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah wanita berjubah hitam, seluruh tubuhnya berwarna gelap bagaikan bayangan, bahkan jubah yang dikenakannya saja seperti melayang di udara.
"Siapa kamu?" Tanya Echa ketika tidak dapat melihat wajah wanita tersebut, wajahnya gelap sampai tidak terlihat.
"Kau ingin tahu siapa aku?" Tanya wanita tersebut yang kini sudah menghilang dihadapan Echa.
"Kenapa kamu menganggu kami?" Tanya Echa.
"Akan kuberitahu." Jawab wanita tersebut tanpa wujud namun suaranya menggema ditoilet.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menggores pergelangan tangan Echa hingga mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
"Argh.." ringgis Echa ketika kuku panjang dan tajam milik wanita itu menacap di pergelangan tangannya.
Tangan berwarna hitam itu langsung mengukir nama di tembok toilet dengan darah milik Echa.
Echa mencoba untuk menahan rasa sakit dan perih dipergelangan tangannya itu, tangannya seperti mati rasa.
__ADS_1
"Riana." Ucap Echa ketika melihat nama yang ditulis oleh wanita berjubah hitam itu.
Wanita itu tiba-tiba saja menghilang bersamaan dengan hilangnya nama dan ucapan Echa membaca tulisan bertinta kan darah miliknya.
"Riana.." gumam Echa sambil mencuci pergelangan tangan yang dipenuhi darah. Namun darah itu masih saja keluar bagaikan air mengalir.
Echa melangkahkan kakinya keluar dari toilet sambil menahan rasa perih di pergelangan tangannya.
"Udah Ca?" Tanya Echa menyimpan ponselnya kedalam saku celananya, dia belum melihat pergelangan tangan Echa yang terluka.
"Kak.." panggil Echa yang sedang menutupi luka di pergelangan tangannya agar tidak banyak mengeluarkan darah.
"Hm?.. Kenapa bisa gini?" Tanya Bara khawatir ketika melihat darah menetes dari tangan Echa.
Bara yang melihat Echa terluka seperti itu langsung menelpon seseorang untuk membeli plester dan obat merah di apotek terdekat.
Setelah menelpon, Bara langsung membawa Echa kedalam toilet untuk membersihkan darah yang masih mengalir.
"Kenapa bisa berdarah?" Tanya Bara membiarkan darah Echa mengalir bersama air dari pergelangan tangannya. Echa tidak berbicara apapun, dia takut wanita yang mengaku dirinya sebagai Riana itu kembali datang kemari.
Bara yang tidak mendapat jawaban dari Echa itu langsung memeriksa toilet, namun nihil. Dia tidak menemukan apapun.
"Kenapa hm?" Tanya Bara dengan nada lembut sambil memeluk Echa.
"Riana." Jawab Echa dengan suara pelan membalas pelukan Bara tak kalah erat.
"Riana?" Tanya Bara bingung.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Bara, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam toilet.
"Bar ini obatnya." Ucap Devan sambil memberikan obat yang diminta oleh Bara.
"Makasih." Ujar Bara melepaskan pelukannya dari Echa dan membawa kantung plastik berisi obat yang dia minta.
"Caca kenapa?" Tanya Devan yang melihat banyak darah keluar dari pergelangan tangannya. Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil menatap kearah Devan seolah berkata jangan sekarang.
Devan yang mengerti dengan pergerakan tubuh Echa langsung membungkam mulutnya, dia juga merasakan ada energi yang sangat buruk disekitar sini, energi itu mampu membuat kepalanya pusing.
__ADS_1