TEROR

TEROR
|158| BIBIR


__ADS_3

Perlahan Echa membuka matanya, udara yang begitu dingin mampu membuat tubuhnya menggigil, dia melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 23.10


Dia melihat kearah kiri, ada Bara yang sedang tertidur lelap di sampingnya, masih menggunakan jas yang dia gunakan siang tadi. Mungkin saking paniknya, sampai tidak mengganti bajunya.


Echa juga merasa, tubuhnya kembali membaik bahkan tidak merasakan sakit apapun. Apalagi merasakan sakit seperti tadi, tubuhnya sudah kembali seperti semula. Baik-baik saja.


"Duh, gak ada air lagi," ucap Echa ketika melihat gelasnya kosong.


Perlahan Echa bangun dari tidurnya, badannya pun tidak terasa linu lagi. "Kok aneh ya? Padahal tadi Caca keluar darah, tapi sekarang malah jadi lebih baik badannya."


Echa tidak ingin terlalu memusingkan hal tersebut, dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil minum.


Saat menuruni anak tangga, Echa melihat teman-temannya yang sedang tertidur lelap di ruang tamu. Bahkan beberapa sampah bekas makanan tingan pun masih berserakan.


"Ca," panggil seseorang ketika Echa menunu dapur.


Dia melihat kearah sumber suara, dan orang yang memanggil namanya tersebut adalah kevin. Sepupunya Bara.


"Ya, kenapa?" tanya Echa ketika kevin mulai mendekat kearahnya.


"Udah bangun? badannya sakit-sakit gak?" tanya Kevin cemas sembari menggenggam tangan Echa.


Echa menarik tangannya dari tangan kevin, dia tahu betul bagaimana pikiran kevin saat ini tentang dirinya. "Caca baik-baik aja."


"Bara nya mana?" tanya Kevin ketika tidak melihat keberadaan Bara yang selalu saja mendampingi Echa, apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Ada di kamar, Caca belum bangunin." ucap Echa sambil melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum.


Dengan sengaja, Kevin mencoba meraih pinggang Echa namun pergerakan itu dapet Echa baca sehingga dia agak menjauh dari Kevin.


"Ca, lo itu cantik, kok mau sama Bara?" tabya Kevin mencoba untuk mendekati Echa lagi.


"Karna dia cukup sama satu wanita." jawab Echa sambil meneguk air minumnya. Membuat Kevin dapat melihat lehernya yang putih.


"Ca," panggil seseorang dengan suara panik.


Echa tahu betul suara siapa itu, Bara. siapa lagi yang akan mencarinya fengan nada panik bahkan langkahnya yang tergesa-gesa pun terdengar.


"Caca di dapur, Kak." sahut Echa.


Setelah mendapat sahutan dari arah dapur, Bara bergegas melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara. Setibanya di dapur dia melihat Echa sedang bersama Kevin yang tersenyum kearahnya.

__ADS_1


"Cewe lo ngasih tau kabarnya ke gue duluan, gimana dong?" ucap Kevin ketika melihat Bara menatap dirinya tajam.


"Apaan si, Caca cuman ngambil minum juga." sahut Echa tak suka dengan ucapan yang keluar dari mulut Kevin.


"Lo liat kan? dia sama gue sekarang. Ya, meskipun tidur sama lo." ucap Kevin.


Echa berdecak sebal sembari memutar bola matanya malas, dia menatap kearah Bara yang juga sedang menatap kearah dirinya.


Echa melangkahkan kaki kearah Bara, mengecup singkat bibir Bara di hadapan Kevin. "Caca udah minumnya, ke kamar lagi yuk." ajak Echa sembari menuntun tangan Bara untuk mengikuti dirinya.


Bara menatap tajam ke arah kevin yang sedang menyunggingkan senyumannya.


"Awas lo."


Sesampainya di kamar, Echa dan Bara mendudukkan dirinya di ranjang. Tidak ada percakapan apapun hanya ada suara binatang di malam hari.


"Kenapa gak banguni kakak?" tanya Bara sembari menatap kearah Echa yang sedang menyandarkan kepalanya ke dinding.


"Caca gak mau ganggu kakak, keliatan banget capeknya." jawab Echa yang kini beralih menatap Bara.


Memang jika di lihat mata Bara sayu dan lelah, mungkin efek dari terlalu lama menatap layar laptop.


Echa hanya menundukkan kepalanya. Apa yang di katakan oleh Bara memang benar. Jika di terus mengabaikan dirinya dan menyimpannya sendiri. Lantas bagaimana Bara bisa membuka masalahnya juga?


"Kakak gak mau Caca nyembunyiin apapun dari kakak, hal kecil sekalipun. Kakak bukan cenayang yang bisa tau apa maunya Caca," ucap Bara sembari menatap Echa yang masih saja menundukkan kepalanya. "Contohnya kayak tadi, Caca bilang baik-baik aja, nyatanya pas kakak pulang Caca gak baik-baik aja."


"Caca juga gak mau kalau kehidupan kakak cuman seputar Caca," ujar Echa yang kini menatap mata Bara.


"Hey, jelas kehidupan kakak seputar Caca, apa lagi yang kakak perjuangin kalau bukan buat Caca?" tanya Bara sembari mengelus lembut kepala Echa.


Echa kembali di buat diam oleh perkataan Bara. Dia tidak bisa berkata-kata lagi jika Bara sudah dalam mode serius seperti ini. Seolah yang keluar dari mulutnya memanglah fakta.


"Ca, kakak gak merasa terbebani kalau Caca bilang engga atau iya di kehidupan kakak. Apapun keputusan Caca, kakak percaya kedepannya bakalan selalu baik. Jadi, please. Buat kedepannya Caca gak boleh nyembunyiin apapun dari kakak ya?" tanya Bara dengan tatapan penuh harap.


Echa tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Maaf, udah bikin kakak khawatir."


Bara tidak menjawab ucapan Echa dia malah mencium kening Echa yang sedang memeluk dirinya.


"Nanti, yang jalanin rumah tangga itu Caca sama Kakak. Bukan orang lain," ucap Bara.


Echa yang paham dengan maksud ucapan Bara langsung menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di dapur bersama kevin. Semuanya dia ceritakan, tanpa ada yang di tutupi. Bahkan saat Kevin ingin memeluknya pun, Echa memberitahunya pada Bara.

__ADS_1


"Kedepannya, kalau mau keluar dari kamar jangan pake baju pendek kayak gini, kalau banyak orang." ucap Bara sambil melihat baju yang Echa gunakan memang membuat laki-laki tergoda dengan kemolekan tubuhnya. Bahkan saat ini, dia pun tergoda oleh tubuh Echa.


Echa menganggukkan kepala sembari tersenyum manis sebagai jawabannya.


"Kevin emang selalu ngambil apa yang kakak punya, dan bodohnya dari dulu kakak selalu ngalah, jadi sekarang Kevin seenaknya sama kakak." ucap Bara.


"Jadi, kakak bakalan ngalah terus ngasih Caca ke kevin gitu?" tanya Echa dengan wajah polosnya.


"Heh. engga. kalau buat yang ini gak bakalan." jawab Bara sembari menyentil kening Echa membuat si pemilik kening tersebut mengaduh kesakitan.


"Tidur lagi?" tanya Bara sembari merapikan bantal agar tidur nya menjadi nyaman.


Echa menggelengkan kepalanya dalam pelukan Bara. "Gak, Caca lagi kangen sama kakak."


Bara tertawa pelan mendengar perkataan Echa. "Kangen? tumben banget kangen tiba-tiba."


"Caca gak mau di pegang-pegang kayak tadi lagi sama laki-laki." ucap Echa.


Memang tidak bisa di sangkal jika laki-lakinya yang ingin menyentuh, sejauh mana Echa menjauh jika laki-lakinya yang ingin. maka dia yang akan mendekat sendiri tanpa sadar diri.


"Sekarang ada kakak, jadi yang pegang Caca cuman kakak." ujar Bara.


Saat Echa ingin mengucapkan sesuatu tiba-tiba saja ponselnya berdering menampilkan nama Leon di layar ponselnya.


Dia bergegas mengambil ponselnya dan mengangkat telpon tersebut tanpa melepaskan pelukannya dari Bara.


"Halo, kenapa?" tanya Echa ketika sudah tersambung.


"Em...Ca, besok sibuk gak?" tanya Leon.


Echa menatap kearah Bara. "Belum tau, kayaknya engga deh."


"Yes! kalau gitu nanti gue jemput ya. gue mau ajak lo ke party temen gue." ucap Leon antusias.


"Gimana besok aja ya, takutnya ada acara sama Hanin." ujar Echa.


"Iya, gue tunggu besok ya." ucap Leon sambil menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Echa.


Echa menatap Bara yang juga sedang menatap kearah dirinya dengan tatapan dingin.


"Engga, Caca gak bakalan mau. Kan Caca udah punya kakak." ucap Echa sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara.

__ADS_1


__ADS_2