
Echa mengerjapkan matanya, dia meringgis kesakitan saat kepalanya terasa sangat pegal apalagi pahanya terasa sulit untuk di gerakan.
Echa melihat kearah pahanya itu, Bara sedang tertidur dengan nyaman, sedangkan dirinya tidur dengan posisi yang membuat sekujur tubuhnya sangat sakit.
"Kak..." panggil Echa sambil memijat lehernya yang terasa pegal.
Bara masih terlelap dalam tidurnya, dia sama sekali tidak mendengar panggilan Echa.
"Ish... Gak bangun lagi." ucap Echa ketika Bara malah memilih mimpinya itu. Dia sama sekali tidak merasakan sakit yang Echa rasakan.
Jika Echa langsung berdiri begitu saja, bisa-bisa Bara akan menatap dirinya seperti awal bertemu. Dingin, cuek dan tidak peduli apapun yang Echa lakukan.
Echa mengambil tangan Bara, dia langsung mengigit tangan kekasihnya itu.
"Sakit..." ucap Bara lirih dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya.
"Bangun, sakit badan Caca." ujar Echa ketika Bara menatap dirinya.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung bangun dari tidurnya. Dia menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Sakit?" tanya Bara dengan suara khas orang bangun tidur, bahkan kesadarannya baru pulih setengahnya.
"Iya, sakit leher Caca." jawab Echa.
"Maaf..." ucap Bara menatap lekat mata Echa yang sedang menahan rasa sakit di lehernya.
Echa menangkup wajah Bara sembari menatap matanya.
"Gak Caca maafin."
"Kakak gak tau bakalan tidur sampai 3 jam." ucap Bara dengan raut wajah memohon.
"Ya tetep gak bakalan Caca maafin," ujar Echa sembari mengecup singkat pipi Bara, dia langsung bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
"Ish... Ca, bisa aja bikin baper." gumam Bara cengengesan. Dia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari memejamkan matanya.
"Kak! Jangan lupa mandi!" teriak Echa yang berada di ruang tamu.
Saat ini mereka sedang berada di rumah nya, perumahan indah asri.
"Iya, Ca." sahut Bara.
Sedangkan Echa akan memasak makanan untuk mengisi perutnya dan mengisi perut Bara yang sama sekali belum beri asupan.
"Masak apa ya," ucap Echa sambil mengikat rambutnya. Dia melangkahkan kakinya menuju kulkas, untuk melihat ada bahan apa saja.
Echa mengambil beberapa bahan-bahan untuk memasak steak. Namun pikirannya kembali teringat tentang perkataan Shila.
Hanin. Tapi, kenapa Shila menyimpulkan itu?
Apa jangan-jangan, dia bukan Shila?
__ADS_1
Atau Shila yang sebenarnya penghianat itu?
Hanin gak mungkin jadi penghianat. Kalaupun jadi penghianat, dia gak bakalan ada dalam diskusi kemarin.
Kenapa juga Shila pergi waktu kak Bara datang? Bukannya dia punya separuh kekuatan dari kak Bara? Itu artinya waktu kak Bara datang, harusnya Shila aman-aman aja.
3 motor, 2 mayat, 1 ucapan yang sama.
Teman penghianat, awalan nama dari setiap mayat adalah i, 1 mayat matanya menatap kearah Ivy, ada juga mayat yang jatuh saat Ivy mau samperin Caca sama Hanin.
Tapi, Shiren gak ada disana.
Echa terus bergulat dengan batinnya, memikirkan hal yang sama sekali tidak masuk akal.
Kenapa penghianat itu harus membunuh orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia?
Kenapa mayat yang berjatuhan selalu saja memberikan clue tentang penghianat yang belum menemukan titik terang?
Banyak pertanyaan yang ingin Echa lontarkan. Namun, itu hal yang mustahil. Bahkan, dia tidak tahu harus mengintrogasi siapa? Mayat itu jatuh dilihat oleh Echa dan Hanin. Bahkan, dilihat banyak orang.
Bagaimanapun caranya, dia harus segera mendapat jawaban dari pertanyaan 'kenapa?' yang dilontarkan pada dirinya sendiri. Sebelum banyak korban lagi.
Echa tidak tahu kedepannya akan diberi clue seperti apa. Tapi, dia tahu betul jika clue yang akan diberikan adalah sebuah kematian.
Tiba-tiba saja ekor matanya menangkap sekelebat bayangan hitam yang melesat sangat cepat. Namun, Echa dapat melihat bayangan tersebut memiliki mata merah dan taring. Bahkan, bau busuk menyeruak masuk kedalam indera penciumannya saat bayangan tersebut lewat.
Disaat yang bersamaan, Echa juga merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Ini kakak." ucap Bara saat Echa berteriak sangat kencang hingga memenuhi gendang telinganya.
Perlahan Echa membuka matanya sembari membalikkan tubuhnya, menatap orang yang secara tiba-tiba melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Kakak... Ngagetin!" ujar Echa kesal.
"Tadi kakak panggil gak nyaut-nyaut." ucap Bara yang masih memeluk tubuh Echa. "Lagi mikirin apa?"
"Emm... Tadi di kampus ada yang bunuh diri." jawab Echa.
"Kok bisa?" tanya Bara penasaran.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menceritakan semuanya. Dari awal turun motor, bertemu teman seangkatan dan kakak senior yang menyebut hubungannya dengan Bara sudah berakhir, Echa menceritakan semuanya secara rinci. Sedangkan Bara hanya mendengarkan tanpa mengajukan atau menjelaskan apapun.
"Gitu ceritanya." ucap Echa setelah selesai menceritakan semuanya kepada Bara.
"Udah? Sebentar banget ceritanya." ujar Bara.
"Claryn siapa?" tanya Echa yang sejak tadi ingin dia tanyakan.
"Temen kelompok." jawab Bara sambil tersenyum.
"Temen? Bener?" tanya Echa sambil menyipitkan matanya, mencari kebohongan dari mata Bara.
__ADS_1
Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, dia hanya tersenyum menatap wajah kekasihnya yang sedang mengintrogasi dirinya.
Bagi Bara, kepercayaan dalam sebuah hubungan memang penting. Tapi, ada yang lebih penting dari pada itu. Mendengarkan.
Kebanyakan orang percaya pada pasangannya. Namun, tidak bisa mendengarkan apa yang menjadi keresahan dalam hatinya.
Semua orang bisa mengatakan 'aku percaya.' tapi tidak bisa mempertanyakan 'Itu beneran temen kan?' Percaya atau tidak, semua orang pasti akan menjawab 'Kamu gak percaya sama aku? Itu cuman temen kok.' Jika memang itu cuman teman, jelaskan. Tapi, jika penjelasan masih saja tidak bisa di pahami, maka diam. Tatap matanya dan tersenyum.
"Tau ah, kakak ngeselin!" ucap Echa kesal sembari melepaskan tangan Bara dari pinggangnya. Namun Bara malah mempererat pelukannya pada Echa sambil tertawa pelan.
"Marah aja, tapi, jangan lama-lama ya... Soalnya kakak sama siapa tadi, pokonya itu. Cuman sebatas temen kelompok aja." ujar Bara.
"Terus kenapa semua orang bilang kalau Caca sama kakak gak punya hubungan apa-apa?" tanya Echa.
"Mungkin Caca pergi sama Devan. Jadi, semua orang ngira Caca gak punya hubungan apa-apa sama kakak." jawab Bara.
"Bisa cepet kayak gitu." ucap Echa.
"Gak perlu dengerin omongan orang, biarin aja. Tau-tau dapet undangan." ujar Bara cengengesan.
"Percaya diri banget," ucap Echa sambil menahan bibirnya agar tidak tersenyum.
"Harus." ujar Bara.
Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia masih memasang wajah kesalnya. padahal, dia juga merasakan ribuan kupu-kupu diperutnya akibat dari perkataan Bara.
"Nanti, gak usah ada lamaran ya, langsung nikah aja." ucap Bara.
Perkataan itu mampu membuat Echa membulatkan matanya. "Kakak sayang Hanin juga be..." perkataan Echa tertahan ketika Bara menyela ucapannya.
"Oke, nanti kita bahas setelah Hanin," ujar Bara sembari mengecup singkat kening Echa. "Mau masak apa sekarang?" tanya Bara sembari melepaskan pelukannya dari Echa, dia melihat bahan-bahan yang sudah Echa siapkan. "Steak?"
"Iya, kakak mau makan sama apa?" tanya Echa.
"Apa aja," jawab Bara.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu kembali memasak dibantu oleh Bara.
"Kakak curiga sama siapa tentang penghianat itu?" tanya Echa yang sedang menyiapkan wajan.
"Ivy..." gumam Bara.
"Kakak curiga sama Vivi?" tanya Echa sembari menatap mata Bara.
"20 persen." jawab Bara.
"Alasannya?" tanya Echa.
Namun saat Bara ingin menjelaskan alasannya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
"Biar kakak aja yang buka." ucap Bara sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.