
Mentari pagi membangunkan dua orang gadis yang tertidur pulas sejak semalam, Echa perlahan membuka matanya ketika matahari masuk lewat celah jendela.
"Jam berapa?" Tanya Echa pada dirinya sendiri sambil menatap kearah jam dinding.
"Jam 6." Jawab Echa melihat kearah jam dinding sambil mengucek matanya.
Dia segera beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi, menjalankan ritual paginya.
...----------------...
15 menit telah berlalu Echa sudah selesai mandinya dengan baju yang sudah melekat di tubuhnya.
Echa melangkahkan kaki untuk membuka gorden kamarnya, namun saat dia membuka gorden kamarnya itu tiba-tiba saja ada sekelebat bayangan hitam yang mampu membuat dirinya terlonjak kaget.
"Apa itu?" Tanya Echa diam mematung melihat bayangan hitam lewat dihadapan jendelanya.
Echa mencari keberadaan bayangan hitam yang mengagetkannya tadi tapi dia tidak menemukannya sama sekali, yang ada hanyalah pohon di sebrang sana, tidak mungkin jika tadi bayangan pohon.
"Mungkin yang iseng aja kali ya." Ucap Echa tidak memperdulikan bayangan hitam tersebut.
...----------------...
Sedangkan disisi lain ada seorang wanita berjubah hitam dengan tubuh melayang di udara sedang menatap kearah rumah Echa yang dipenuhi oleh energi positif.
"Sial, aku tidak bisa masuk kedalam rumah itu." Ucap seorang wanita berjubah hitam itu.
"Kenapa aku tidak bisa lama berada di sekitar rumah Echa?" Tanya wanita berjubah hitam itu yang kini sedang duduk di pohon sebrang rumah Echa.
"Aku harus meminta bantuan untuk memulihkan kekuatanku." Ucap wanita tersebut menatap penuh dendam kearah rumah Echa.
...----------------...
Sedangkan saat ini Echa melangkahkan kakinya menuju kearah Hanin yang masih tertidur pulas.
"Nin, bangun." Ucap Echa membangunkan Hanin tertidur pulas.
"Hm?" Gumam Hanin menggeliatkan tubuhnya.
"Bangun, bantuin Caca bikin sarapan." Ucap Echa.
"Iya." Ujar Hanin sambil membuka matanya.
"Jam berapa Ca?" Tanya Hanin.
"Jam 6." Jawab Echa.
Hanin langsung bangun dari tempat tidurnya, membawa handuk untuk membersihkan tubuhnya.
"Caca kebawah dulu." Ucap Echa ketika Hanin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Iya." Sahut Hanin.
Setelah mendapat jawaban seperti itu Echa langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Echa menuruni setiap anak tangga untuk membangunkan Bara, sesampainya di ruang tamu dia melihat Nathan, Bara, Gavin, Azka, Devan dan Alvero masih tertidur pulas di sofa.
Dia melangkahkan kakinya menuju kearah Bara untuk membangunkannya. Echa malu sendiri ketika mengingat kejadian dini hari.
Dapat keberanian darimana dia memanggil Bara sebagai calon suaminya? Kalimat singkat yang bermakna itu membuatnya malu, sangat malu.
"Kak." Panggil Echa membangunkan Bara, dia berusaha untuk menutupi rasa malunya itu. Namun Bara tidak membuka matanya.
"Kak, bangun." Ucap Echa sambil mengelus pipi Bara.
"Hm.." Gumam Bara ketika tangan Echa membuat tidurnya terganggu.
__ADS_1
"Bangun." Ujar Echa.
"Jam berapa?" Tanya Bara kembali memejamkan matanya.
"Jam 7." Jawab Echa. Bara tidak menjawab perkataan Echa dia kembali menjemput alam mimpinya.
"Kak, bangun. Kakak gak ada kelas?" Tanya Echa ketika melihat Bara kembali tertidur.
"Gak ada." Jawab Bara.
"Bangun, mandi dulu, hari ini persiapan buat Kak Tiara." Ucap Echa sambil merapikan rambut Bara.
"Pusing." Ujar Bara yang kini membuka mata menatap kearah Echa.
"Tidurnya jangan malem-malem." Ucap Echa sambil memijat pelipis Bara, sedangkan Bara kembali memejamkan matanya merasakan pijatan tangan Echa di kepalanya.
Saat Echa sedang memijat pelipis Bara tiba-tiba saja Hanin sudah berada di ujung anak tangga, melangkahkan kakinya.kearah Nathan.
"Kenapa Ca?" Tanya Hanin ketika melihat Echa sedang memijat kepala Bara.
"Pusing." Jawab Echa. Hanin tidak membalas perkataan Echa dia membangunkan Nathan yang masih tertidur.
"Kak. Tidurnya di kamar Ibu gih." Ucap Echa yang sudah tidak memijat kepala Bara.
"Hm." Gumam Bara.
"Biar gak keganggu tidurnya, pindah ke kamar Ibu." Ujar Echa sambil menggenggam tangan Bara.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung membuka mata dan bangun dari tidurnya.
"Nin bentar ya." Ucap Echa ketika Bara menggenggam tangannya untuk mengikuti dirinya.
"Iya Ca." Ujar Hanin ketika melihat Echa dibawa Bara.
Sesampainya di kamar Roslyn, Bara langsung menidurkan tubuhnya di tempat tidur.
"Disini dulu." Ujar Bara sambil mencekal tangan Echa agar tidak beranjak pergi.
"Ngapain Caca disini?" Tanya Echa sambil duduk di samping tempat tidur.
Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, dia malah menggenggam tangan Echa sambil mengelusnya lembut.
"Kak, Caca mau bantuin Hanin, kasian kalau sendirian." Ucap Echa yang juga mengelus lembut tangan Bara.
"Masih pusing." Ujar Bara menatap kearah Echa.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung memijat kembali kepala Bara.
"Makannya tidur jangan malem-malem, Caca bilang berapa kali kayak gitu gak di dengerin." Ucap Echa.
"Kalau semalem kakak tidur gak bakalan denger Caca manggil Calon suami." Ujar Bara tersenyum kearah Echa.
Kasih tau Caca caranya menghilang. Ucap Echa dalam hati ketika mendengar perkataan Bara yang sejak tadi dia hindari.
Echa ingin sekali menghilang dari hadapan Bara saat ini juga ketika 2 kata bermakna itu akhirnya keluar juga sebagai pembahasan.
"Kak.. malu.." Ucap Echa sambil menutup wajah Bara dengan tangannya agar tidak terus menatap dirinya.
Sedangkan Bara yang mendapat perkataan dan perlakuan seperti itu kembali menutup matanya namun bibirnya masih tersenyum.
Echa kembali memijat kepala Bara hingga calon suaminya itu sudah tertidur, terlihat dari nafasnya yang teratur.
Udah tidur kayaknya. Ucap Echa dalam hati sambil berhenti memijat kepala Bara.
Echa melangkahkan kakinya pergi dari kamar Roslyn ketika memastikan bahwa Bara sudah tertidur.
Dia melangkahkan kakinya menuju dapur membantu Hanin yang sudah mulai membuat nasi goreng untuk mengisi perutnya.
__ADS_1
Echa juga melihat Shila yang sedang mengajak Hanin berbicara tentang lamaran yang diajukan oleh Nathan kepada Hanin.
"Shila." Panggil Echa.
"Ca, tau gak? Hanin mau nyusul kak Tiara." Sahut Shila antusias ketika Echa menghampiri Hanin.
"Iya Caca tau." Ucap Echa.
"Jadi, cuman Shila aja yang gak tau?" Tanya Shila dengan wajah masam.
"Yang lain juga belum tau, cuman Caca sama Shila aja yang tau." Jawab Hanin.
"Serius?" Tanya Shila yang kini sudah tidak berwajah masam lagi. Hanin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Gimana? Udah dijawab?" Tanya Hanin ketika Echa berada disampingnya.
"Udah." Jawab Echa.
"Kapan? Tadi? Cepet banget turunnya." Ucap Hanin yang sedang menyiapkan beberapa bahan untuk membuat nasi goreng.
"Jam 02 pagi." Jawab Echa.
"Jam 02? Serius? Caca gak tidur?" Tanya Hanin bertubi-tubi.
"Apa nih? Shila ketinggalan banyak?" Tanya Shila ketika mendengar pertanyaan yang tidak jelas diajukan oleh Hanin.
"Makannya jangan sering keluyuran keluar." Jawab Hanin.
"Namanya juga lagi cari yang enak di pandang mata." Ucap Shila sambil tersenyum membayangkan lelaki yang dia temui beberapa hari kebelakang.
"Jangan kebanyakan diluar, banyak acara pernikahan, Shila harus ada di pernikahan Kak Tiara." Ujar Hanin.
"Pastinya. Tiap ada acara tentang kalian Shila bakalan ada jaga kalian." Ucap Shila.
"Tapi sekarang Shila butuh cuci mata." Sambung Shila.
"Cuci mata Mulu Shil, berapa banyak cowok yang udah diikutin beberapa hari kebelakang?" Tanya Hanin ketika Shila terus membicarakan cuci mata.
"Apalah dayaku yang dulu cuman punya muka pas-pasan gak pernah dapet yang ganteng." Jawab Shila dengan wajah dibuat sedih.
"Merendah untuk meroket." Ucap Hanin.
"Udah, udah, tadi kalian lagi bahas apa?" Tanya Shila yang sudah terlanjur kepo dengan pertanyaan yang dilontarkan Hanin kepada Echa.
Ketika mendapat perkataan seperti itu Echa langsung menceritakan semuanya kepada Hanin tentang dirinya dan Bara dan juga tentang jawaban yang diberikan oleh Echa kepada Bara.
"Pantesan tadi Kak Bara pusing." Ucap Hanin tertawa pelan.
"Ah sweetnya, kapan sih dapet yang kayak Bara? Langsung di ajak nikah, gak neko-neko lagi persiapannya." Ucap Shila setelah mendengar cerita Echa.
"Iya, Hanin aja gak seromantis itu." Ujar Hanin.
"Hanin kira kak Bara gak suka hal-hal romantis kayak gitu, mukanya gak mendukung banget tapi sekalinya romantis gak pernah nanggung." Sambung Hanin yang kagum dengan cerita Echa.
"Duh sebentar lagi Shila jadi aunty nih." Ucap Shila sambil tersenyum penuh arti kearah Echa dan Hanin.
"Apaan si." Ujar Hanin dan Echa kompak ketika Shila berbicara seperti itu.
"Anaknya bakalan jadi bibit unggul." Ucap Shila tersenyum bahagia.
"Shila.." ucap Hanin dan Echa kompak ketika Shila terus membahas hal yang belum terjadi.
Bara
Echa
__ADS_1