
3 jam telah berlalu, kini Echa sedang membantu bara untuk mencari kunci mobil Bara yang lupa menyimpannya dimana.
"Kakak kalau apa-apa asal lempar, jadi susah kan nyarinya." Ucap Echa yang sedang mencari kunci mobil Bara, sedangkan Bara sedang memeriksa tugasnya yang ada di laptop.
"Tadi kakak simpen di atas meja." Ujar Bara sambil melihat jam tangannya, waktunya tinggal 20 menit lagi untuk memulai kelas.
"Gak ada kakak.." Ucap Echa.
"Ada." Ujar Bara yang kini ikut mencari kunci mobil miliknya.
"Gak ada kan?" Tanya Echa yang melihat Bara mencari kunci mobilnya yang sama sekali tidak ada di tempatnya.
"Tadi disini Ca.. kenapa sekarang gak ada?" Tanya Bara yang mengingat kunci mobilnya dia simpan di atas meja.
Echa tidak menghiraukan ucapan Bara, dia masih mencari kunci mobil Bara sudah hampir 10 menit lamanya.
"Nih." Ucap Echa sambil memberikan kunci mobil Bara.
"Darimana?" Tanya Bara sambil mengambil kunci tersebut dari Echa.
"Di Deket wastafel kamar mandi." Jawab Echa.
"Hm.. mau disini?" Tanya Bara yang sedang memakai sepatu.
"Gak, Caca pengen ke apartemen Shiren aja." Jawab Echa.
"Bukannya mau beres-beres?" Tanya Bara.
"Nanti aja." Jawab Echa.
"Kakak pulang kapan?" Tanya Echa.
"Sore atau malem." Jawab Bara.
"Kalau mau pulang bilang dulu sama Caca, biar Caca masakin." Ucap Echa.
"Iya," ujar Bara sambil memakai tasnya.
"Ayo.." ajak Bara, Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dia melangkahkan kakinya mengikuti Bara keluar dari apartemen untuk menemui Shiren yang tidak jauh dari apartemen Bara.
"Kalau kakak mau makan di luar juga gak apa-apa, nanti bilang sama Caca kalau makan di luar, biar Caca gak masak banyak." Ucap Echa.
"Enggak." Ujar Bara. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan kembali merasakan sakit di perutnya di tambah lagi tangan sebelah kanannya begitu berat.
"Kak.." panggil Echa.
"Hm?" Sahut Bara sambil melihat kearah Echa yang menahan rasa sakit.
"Tangan Caca kenapa berat banget ya?" Tanya Echa.
"Yang mana?" Tanya Bara.
"Sebelah kanan." Jawab Echa.
Bara yang mendengar itu langsung memegang tangan Echa sebelah kanan, sayup-sayup Bara mendengar suara mantra dari mulut seseorang menggema di telinganya.
__ADS_1
Hans. Ucap Bara sambil membuang mantra itu dari tangan Echa.
Entahlah kenapa bara bisa mendapat pendengaran seperti itu, ini pertama kalinya Bara bisa mendengar hal-hal berbau spiritual.
"Masih berat?" Tanya Bara.
"Udah enggak." Jawab Echa yang merasakan tangannya kembali ringan.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain, Hans sedang berada di sebuah ruangan gelap dan tersembunyi di apartemen ini.
"Aaarghh! Tubuhku! Kenapa bisa panas dingin seperti ini?" Tanya Hans ketika tubuhnya menjadi panas dingin tidak karuan.
"Tadi mantra nya sudah bekerja, tapi kenapa bisa berbalik padaku?!" Teriak Hans yang sedang merasakan tubuhnya seperti di tusuk oleh ribuan pedang, menyakitkan.
"Siapa yang sudah melawan mantra yang kuat ini?!" Tanya Hans sambil melempar beberapa barang dengan brutal.
"Argh!!" Teriak Hans mengacak rambutnya frustasi.
"Sakit.." Rintih Hans.
Dia pun merapalkan beberapa mantra sambil menatap wajahnya di depan cermin, menatap dirinya yang bergitu mengenaskan lewat pantulan kaca.
Bibirnya terus berkecamuk dengan matra-mantra yang sudah dia pelajari dari guru spiritualnya 2 tahun ini.
Cklek..
Pintu ruangan rahasia milik hans itu langsung terbuka, menampilkan seorang wanita memakai pakaian serba hitam dengan senyuman sinisnya.
"Tapi kenapa bisa mantra sekuat ini hancur begitu saja?" Tanya Hans.
"Stupid!" Jawab wanita tersebut di tengah kegelapan.
"Apa maksudmu?" Tanya Hans.
"Pikiran sebelum bertindak, aku melihat ada sesuatu yang begitu besar di tubuh pria itu." Jawab wanita yang masih berada di dalam kegelapan.
"Pria yang mana?" Tanya Hans bingung.
"Pria yang selalu bersama wanita yang ingin kau miliki sepenuhnya saat ini." Jawab Wanita tersebut.
"Bara maksudmu?" Tanya Hans.
"Dia memiliki sesuatu yang di sembunyikan, akupun tidak bisa melihatnya, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya." Jawab wanita tersebut sambil tersenyum sinis.
"Tapi kenapa kau mengetahui itu? Sedangkan aku tidak?" Tanya Hans.
"Aku bisa merasakannya, kekuatanku lebih besar darimu, ilmu ku lebih tinggi darimu. Matangkan diri untuk bisa melihat sesuatu yang ada di dalam tubuh pria itu." Jawab wanita tersebut sambil tersenyum penuh arti.
"Dan aku siap untuk kembali menghancurkan mereka semua." sambung wanita tersebut.
...----------------...
Saat ini Echa sedang berada di apartemen milik Shiren, bersama dengan Hanin, Ivy dan Mutiara.
__ADS_1
"Kakak, persiapannya besok kan?" tanya Ivy antusias.
"Iya besok, kalian bantuin kakak ya," jawab Mutiara.
"Siap kak, kami selalu ada 24 jam buat kakak." ucap Ivy.
"Makasih.." ujar Mutiara sambil tersenyum manis.
"Sama-sama kak, selamat menempuh hidup yang baru ya.." ucap Ivy, Echa, Shiren dan Hanin kompak.
"Gimana hubungan kalian? baik-baik aja kan? udah lama gak cerita." ujar mutiara.
"Shiren lagi berantem kak," ucap Shiren.
"loh kenapa?" tanya Mutiara.
"tadi pagi gak bangunin kak Gavin ke kampus, jadi telat. padahal Kak Gavin gak ngasih tau shiren kalau ada kelas pagi ini." jawab Shiren.
"Gak apa-apa kok, Gavin gak bakalan lama marah sama kamu, yakin sama kakak. dia gak bakalan bisa marah lama sama kamu Ren." ucap Mutiara.
"iya, Caca juga sering banget liat Shiren sama Kak Gavin berantem tapi gak lama, selalu akur lagi, berantem lagi meskipun masalah besar banget tapi bisa langsung akur lagi." sambung Echa.
"Inget shiren yang lagi di marahin sama kak Gavin, jadi inget sekarang Vivi lagi marahin kak Azka." ucap Ivy cemberut.
"kenapa?" tanya Hanin.
"abisnya kak Azka balesin banyak cewek di WhatsApp nya. Padahal kemarin-kemarin udah gak pernah balesin chat masuk." jawab Ivy.
"Menurut kakak berarti kamu yang punya salah, coba inget-inget kamu punya salah sama Azka?atau buat Azka cemburu?" tanya Mutiara.
"Gak tau kak, perasaan engga." jawab Ivy.
"kalau kata kakak, Azka itu gak bakalan buka jalan masuk buat cewek kalau Vivi gak buat salah sama dia, tapi kalau Azka buka jalan masuk itu artinya Vivi udah buat hal Azka gak suka." ucap Mutiara.
"tapi Vivi gak buat salah apa-apa." ujar Ivy yang mengingat apa saja hal yang dia lakukan.
"coba aja nanti tanya sama kak Azka." ucap Shiren.
"Iya, nanti coba Vivi tanyain." ujar Ivy.
"Terus gimana hubungan Caca sama Kak Bara terus Hanin sama Kak Nathan? kayak nya adem ayem banget." ucap Shiren.
"Adem ayem apaan." ujar Hanin dan Echa kompak.
"wih kompak banget.." ucap Mutiara.
"Pasti harus extra sabar ya ngehadepin kutub es yang mania banget?" tanya Mutiara.
"Bener-bener harus punya hati yang sabar banget kak, tiap gak di turutin dikit didiemin meskipun gak terlalu lama tapi hening aja kek berasa asing." jawab Hanin.
"Harus extra banget pokoknya." ucap Echa.
"Tapi kalau ngelakuin hal selalu romantis banget kan?" tanya Ivy.
"Iya, tapi tetep aja menghela nafas udah kayak kebutuhan." jawab Echa.
__ADS_1