TEROR

TEROR
|50| MENERIMA


__ADS_3

Setelah menunggu Bara hampir 1 jam, akhirnya Echa bisa menceritakan semuanya kepada Bara bagaimana Aira yang terus merengek meminta pulang.


"Papa kenapa iyain? Aira baru juga bangun." ucap Bara sambil menatap kearah Daniel.


"Papa gak bisa bilang enggak Bar." ujar Daniel sambil menghela nafasnya panjang.


"Tapi pa, Bara gak bisa bener-bener jaga papa sepenuhnya, fasilitas dirumah sendiri gak kayak dirumah sakit." ucap Bara.


Bara memang sering berdebat dengan Daniel, pemikiran anak dan ayah ini bertolak belakang sehingga dapat menimbulkan perdebatan.


"Iya papa tau tapi kita bisa sewa perawat buat dirumah." ujar Daniel.


"Pa.." ucap Bara, namun Echa langsung menggenggam tangan Bara untuk menenangkannya agar tidak berdebat dengan Daniel.


"Udah kak, ikut Caca sebentar." ujar Echa sambil tersenyum manis kearah Bara dan Daniel.


Bara yang mendapat perlakuan seperti itu dari Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang dan keluar dari ruangan Daniel begitu saja.


Echa pun melihat kearah Daniel yang menghela nafasnya panjang, dia melerai perdebatan ini karena keadaan Daniel yang belum pulih, bukan Echa ikut campur tapi dia memperhatikan keadaan Daniel yang mungkin akan drop kapan saja.


"Ayah istirahat aja ya, biar Caca yang bilang ke kak Bara. Jangan terlalu dipikirin." ucap Echa sambil membantu Daniel untuk tidur.


Setelah membantu Daniel, Echa langsung keluar mendudukkan dirinya di kursi tunggu sebelah Bara.


"Kak.." panggil Echa yang langsung di sanggah oleh Bara.


"Apa? Mau bela papa?" Tanya Bara menatap dingin kearah depan.


"Bukan gitu kak.." Jawab Echa yang kembali ditimpah oleh ucapan Bara.


"Terus apa? Caca tau kan fasilitas di rumah gak lengkap kayak disini? Kalau kenapa-kenapa sama Aira, Papa sama Mama gimana?" Tanya Bara sambil menatap dingin kearah Echa.


"Iya Caca tau, dengerin Caca dulu." Jawab Echa sambil menggenggam tangan Bara. Sedangkan Bara hanya menghela nafasnya panjang untuk menenangkan dirinya sendiri dari amarah.


"Kakak tau kan gimana sifat Aira? Kakak yang udah kenal Aira lama daripada Papa, kakak yang selalu jaga Aira selama ini, kakak pasti tau Aira kayak gimana." Ucap Echa.


"Kakak yang lebih tau gimana Aira." Sambung Echa yang masih menggenggam tangan Bara.


Sedangkan Bara hanya menghela nafasnya panjang ketika mendengar perkataan Echa, dia sangat mengenal Aira, anak kecil keras kepala yang keinginannya sebuah keharusan untuk di turuti saat itu juga, jika tidak Aira akan benar-benar marah. Aira adalah anak kecil yang memiliki prinsip kuat, tidak mudah goyah oleh hal apapun.


"Gimana? Kakak masih tetep gak bakalan turutin keinginan Aira?" Tanya Echa.


Bara bingung harus mengambil keputusan iya atau tidak, dia tidak ingin membahayakan keadaan Aira, Bunda An dan Daniel.


"Iya, kita pulang." Jawab Bara menghela nafasnya panjang, dia sudah memikirkan sisi baik dan sisi buruknya.


"Udah makan?" Tanya Echa menatap kearah Bara yang juga sedang menatapnya, Bara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Di kampus gak makan?" Tanya Echa. Bara kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Yaudah, pesen makanan aja lewat online." Ucap Echa.


"Mau apa?" Tanya Bara sambil membuka layar ponselnya.


"Terserah." Jawab Echa.

__ADS_1


"Ca, jangan bilang terserah nanti kakak salah milih." Ucap Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Apa aja kak, Caca bakalan makan." Ujar Echa.


"Mau pesen pizza?" Tanya Bara.


"Apa si kak masa makan pizza." Jawab Echa.


"Seafood?" Tanya Bara.


"Enggak." Jawab Echa.


"Tiramisu?" Tanya Bara.


"Jangan yang kayak gitu." Jawab Echa.


"Terus mau apa Ca?" Tanya Bara yang bingung harus memesan apa.


"Spageti aja." Jawab Echa. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


...----------------...


Disisi lain, Algi sudah menerima tawaran dari orang misterius yang tiba-tiba saja ada di dalam kamarnya.


Algi sudah mendapat penjelasan dari orang tersebut apa yang harus dilakukan olehnya untuk mendapatkan Echa, ya salah satunya ilmu hitam. Ilmu sesat itu sudah masuk kedalam tubuh bersatu dengan aliran darah.


"Gunakan kekuatan ini ketika Echa berada dihadapanmu." ucap orang misterius itu.


"Hanya dengan ini aku bisa mendapatkan Echa lagi?" Tanya Algi antusias.


"Kenapa tidak dari dulu aku bertemu denganmu." Ucap Algi.


"Karena dulu aku memiliki ikatan kuat dengan mereka." gumam orang tersebut dengan mata yang dipenuhi dendam, semua ingatan tentang Echa dan teman-temannya yang membuat dirinya mendapat hukuman.


"Apa? Aku tidak bisa mendengarkan apa yang kau katakan." ucap Algi yang tidak mendengar perkataan orang tersebut.


"Lupakan saja, itu hanya bagian masa lalu yang membuatku malah ingin membunuh satu persatu orang dimuka bumi yang menyusahkan." ujar orang tersebut tersenyum sinis.


"Apa Echa jahat padamu hingga kau dendam padanya?" Tanya Algi penasaran.


"Tidak, dia anak baik, baik sekali. Begitupun dengan teman-temannya." Jawab orang tersebut dengan tangan yang mengepal di balik jubahnya yang besar. Algi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia percaya apa yang dikatakan oleh orang yang sedang membelakanginya tanpa dia ketahui ada rencana yang sedang orang itu susun untuk menghancurkan Echa dan teman-temannya.


Outfit lamaran Mutiara


Mutiara



Alvero



Nurmala


__ADS_1


Ferdinan



Bunda An



Aira



Daniel



Roslyn



Ivy



Azka



Hanin



Nathan



Shiren



Gavin



Algi



Echa



Bara


__ADS_1


__ADS_2