
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Bara, siapa lagi jika bukan Daniel?
"Kamu gak tau. Papa cari uang buat kalian biar kalian senang." ucap Daniel dengan nafas yang memburu.
Bara yang mendapat tamparan seperti itu langsung mengusap ujung bibirnya yang berdarah karena tamparan keras dari Daniel.
"Ucapan Bara bener kan Pa? Papa emang gak bakalan pernah kenal gimana Bara sama Aira." ujar Bara.
"Daniel. Kamu apa-apaan sih!" ucap bunda An kini beralih menangkup wajah Bara yang sedang meneteskan air matanya.
"Ma.. maafin Bara ya." ucap Bara sambil melepaskan tangan bunda An yang sedang mengusap darah yang ada disudut bibirnya.
Bara melangkahkan kakinya meninggalkan Daniel dan bunda An, Echa yang melihat Bara pergi itu langsung mengikuti Bara dari belakang, tapi sebelum Echa mengikuti Bara, dia menitipkan Qiara terlebih dahulu kepada bi Neni.
"Kak.." panggil Echa yang sedang mengikuti Bara melewati lorong yang gelap, banyak juga pasang mata yang menatap kearah Echa. Namun rasa takut itu Echa buang jauh-jauh.
"Kakak." panggil Echa lagi yang masih mengikuti Bara. Namun Bara masih belum menjawab panggilan dari Echa, dia malah mempercepat langkahnya menuju parkiran.
"Kakak, tungguin Caca." ucap Echa lagi sambil berlari menyusul Bara, dia tidak peduli pada orang yang menatap kearahnya dengan tatapan bingung.
Bara langsung memberhentikan langkahnya ketika Echa sudah berada dihadapan untuk menghalangi jalannya dengan nafas yang terengah-engah.
"Minggir." ucap Bara dengan nada menusuk sambil menatap tajam kearah Echa.
"Kakak mau kemana?" tanya Echa sambil menatap kearah Bara, dia harus bisa melwan rasa takut dari tatapan tajam yang dikeluarkan oleh Bara.
"Pergi." jawab Bara.
"Kakak bilang kan waktu itu kalau Caca rumah kakak? Dan sekarang kakak mau pergi dari rumah kakak?" tanya Echa yang masih menatap Bara.
"Ca.." jawab Bara tertahan ketika Echa menyela ucapannya.
__ADS_1
"Apa? Kakak takut rumahnya jadi berantakan? Kakak takut semua barang yang ada di dalam rumah jadi pecah?" tanya Echa dengan napas yang masih terengah-engah.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, yang dikatakan Echa itu benar. Dia ingin mencari ketenangan di luar, Bara takut membuat rumahnya itu menjadi berantakan dan sulit untuk di tata kembali.
"Biarin kakak pergi." ucap Bara.
"Enggak." ujar Echa yang menghalangi langkah Bara.
"Ca.." ucap Bara, namun Echa langsung menempelkan jarinya di bibir Bara seolah berkata untuk diam. Dia langsung memeluk Bara.
"Caca gak mau jadi perempuan yang gak ada diwaktu susah. Caca gak mau jadi perempuan yang ada cuman diwaktu senengnya aja.. " ujar Echa dalam pelukan Bara, sedangkan Bara masih belum membalas pelukan Echa.
"Bolehkan Caca takut kalau kakak kenapa-kenapa di jalan? Caca takut." ucap Echa sambil menatap Bara dengan mata yang berkaca-kaca.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung memeluk erat tubuh Echa sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kakak yang selalu disalahin Ca? Kenapa papa gak pernah ngerasain di posisi Bara. Papa cuman tau Bara yang gak pernah jaga Aira." ujar Bara dengan suara yang bergetar.
Echa hanya mengelus punggung Bara, membiarkan Bara untuk mengeluarkan kegelisahan dan rasa sakit yang ada dihatinya selama ini.
"Apa yang Bara sama Aira dapet ketika papa pulang? Amarah. Tiap papa pulang selalu aja marah, padahal kita gak pernah ngelakuin hal yang buat papa marah." ujar Bara yang masih terus menangis mengeluarkan apa yang selama ini Echa tidak tahu tentang rasa sakitnya.
Ketika Echa sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi tempat yang paling nyaman untuk mengeluarkan beban pikiran dan hati Bara, dia akan menjadi sebaik-baiknya tempat untuk Bara.
"Papa selalu bilang 'papa kayak gini buat kalian. Kalian harus ngertiin papa.' Diri papa mana lagi yang harus Bara sama Aira ngertiin? Sedangkan papa sama sekali gak ngeliat kearah Aira sama Bara." ucap Bara dengan nada yang mulai melemah.
"Apa Bara sama Aira bukan anak Papa?" tanya Bara sambil menatap mata Echa dengan mata yang terlihat sembab.
"Kak, jangan gitu.." jawab Bara sambil menghapus air mata Bara yang sejak tadi menetes.
"Salah kakak dimana Ca? Kakak gak becus dimana?" tanya Bara yang meneteskan air matanya kembali, mengingat ucapan Daniel yang selalu saja menyalahkannya dalam segala hal.
__ADS_1
"Kakak udah berhasil jaga Aira selama ini, kakak juga udah berhasil buat Aira jadi anak kecil yang kuat, kakak bisa jadi ibu sekaligus ayah buat Aira. Siapa yang jadi tempat keluh kesah Aira selain kakak? Gak ada kan? Itu artinya kakak berhasil." ucap Echa sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kakak berhasil tuntun Aira buat jadi gadis yang kuat. Dan itu gak mudah, dimana kakak harus berperan sebagai ayah sama ibu buat Aira di satu sisi juga kakak masih jadi anak laki-laki yang butuh kekuatan." sambung Echa melihat Bara meneteskan air matanya lagi.
"Kakak berhasilkan Ca?" tanya Bara dengan senyuman getir dengan air mata yang masih menetes dari matanya.
"Iya, kakak berhasil." jawab Echa sambil memeluk Bara, meyakinkannya bahwa Bara benar-benar sudah berhasil membuat Aira menjadi seorang gadis yang kuat, tangguh, ceria dan pantang menyerah.
"Makasih.." ucap Bara memeluk erat tubuh Echa, menumpahkan tangisannya dalam pelukan kekasihnya itu dibawah gelapnya malam tanpa taburan bintang.
"Kakak mau kan minta maaf sama ayah?" tanya Echa sambil mengelus punggung Bara yang sudah reda dari tangisannya.
"Ca.." ucap Bara yang langsung disanggah oleh Echa.
"Caca tau kakak bakalan bilang 'tapi ayah yang mulai.' siapapun yang mulai, kata maaf itu lebih baik dari apapun, kata maaf gak bakalan buat kita rendah, justru itu yang bikin kita naik setinggi-tingginya." ujar Echa sambil menatap mata Bara yang memerah karena habis menangis.
Bara masih belum menjawab perkataan Echa, dia masih tampak berpikir dengan perkataan yang dilontarkan oleh Echa.
"Percaya sama Caca, setelah kakak bilang maaf semuanya bakalan tenang. Meskipun ayah gak jawab kata maaf kakak seenggaknya kakak udah minta maaf sama ayah." ucap Echa sambil tersenyum manis dan mengelus sudut bibir Bara masih terdapat darah yang mengering akibat tamparan Daniel.
"Sakit.." ringgis Bara ketika kembali merasakan perih ketika sudut bibirnya itu disentuh oleh Echa.
"Masa sih? Pacar Caca gak kayak gini, dia kuat." ucap Echa sambil tertawa pelan ketika melihat wajah kesakitan yang dibuat-buat oleh Bara.
"Sakit beneran Ca." ujar Bara dengan wajah yang ditekuk.
"Pacar Caca juga gak jelek kayak gini, dia ganteng banget." ucap Echa sambil merapikan rambut Bara dan menghapus jejak air mata yang ada diwajah Bara.
Bara hanya tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Echa tentang dirinya. Dia masih memeluk tubuh Echa sambil menyimpan kepalanya di bahu mungil Echa.
"Kak udah, berat." ujar Echa.
__ADS_1
"10 menit." ucap Bara yang sudah nyaman menyimpan kepalanya di bahu Echa.
"Lama banget." ujar Echa.