TEROR

TEROR
|30| PENYESALAN


__ADS_3

Setelah sarapan di meja makan dengan keadaan yang canggung, kini Echa dan teman-temannya duduk di taman bersama dengan Mutiara.


"Tiara bingung mau ada acara apa dari siang sampai malem." Ucap Mutiara yang kebingungan dengan acara.


"Shiren mau nyumbang lagu." Ucap Shiren.


"Ide bagus, Caca juga ya." Ujar Mutiara.


"Caca takut suaranya jelek." Ucap Echa.


"Suara Caca bagus banget ya ampun kenapa harus minder sih?" Tanya Mutiara yang kagum dengan suara Echa.


"Gak bagus-bagus banget sih ka." Jawab Echa.


"Yaudah berarti Shiren sama Caca ngisi acara pas selesai pasang cincin, sore sama malam hari." Ucap Mutiara.


"Kita berdua aja yang ngisi acara?" Tanya Shiren.


"Enggak, banyak kok yang isi acara." Jawab Mutiara.


"Bara, Gavin suruh main alat musik nya, biar feel-nya dapet." Ucap Mutiara.


"Nanti caca coba bilang sama Kak Bara, tapi kalau gak mau maafin Caca." Ujar Echa.


"Shiren juga sama." Ucap Shiren.


"Gak perlu minta maaf, harusnya tiara yang bilang makasih udah mau ngisi acara." Ujar Mutiara sambil tersenyum.


"Btw, lagunya mau apa?" Tanya Ivy yang sejak tadi mendengar percakapan mereka.


"Belum tau sih, gimana nanti aja." Jawab Echa.


"Shiren mau rapsodi." Ucap Shiren.


"Mau latihannya kapan?" Tanya Hanin.


"Nanti sore, biar semuanya udah beres." Jawab Echa.


Namun saat mutiara ingin membalas perkataan Echa tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya.


"Tiara." Panggil Orang tersebut.


Hanin, Echa, Ivy, Shiren dan Mutiara langsung melihat kearah sumber suara.


"Kenapa gi?" Tanya Mutiara yang melihat orang itu adalah Algi.


Echa yang melihat kedatangan Algi langsung memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat wajah Algi, dia masih trauma dengan masalalunya.


"Di panggil ayah." Jawab Algi kini berdiri di hadapan Mutiara.


"Apalagi si.. Yaudah Tiara pamit dulu ya." Ucap Mutiara sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan teman-temannya bersama dengan Algi.


"Hai." Sapa Algi sambil duduk diantara Echa dan Hanin.


"Lo kenapa harus kesini si?!" Tanya Hanin kesal dengan suara yang seperti berbisik.


"Terserah gue, gue kan sepupunya tiara." Jawab Algi santai.


"Dari dulu Lo emang ngeselin." Ucap Hanin.


Ivy yang mendengar percakapan itu langsung berdiri dari duduknya dan mengajak Shiren untuk pergi dari tempat itu, membiarkan Hanin, Echa dan Algi untuk menyelesaikan masa lalu yang pernah menjadi bagian kelam di kehidupan Echa.


"Ayo Ren kita liat sovenir nya." Ajak Ivy sambil melangkahkan kakinya pergi dan menggenggam tangan Shiren untuk mengikutinya.


"Eh tapi.. Caca sama Hanin gimana?" Tanya Shiren yang sedang dibawa pergi oleh Ivy.


"Biarin aja, nanti mereka nyusul." Jawab Ivy membawa Shiren pergi dari tempat itu.


"Kayaknya kalian benci banget sama gue." Ucap Algi yang melihat kepergian Ivy.


"Lo sendiri yang udah buat kita benci." Ujar Hanin.


"Itu dulu. Sekarang gue gak gitu Nin. Gue tau gue salah besar, gue pengen semuanya kembali semula." Ucap Algi sambil menatap kosong kearah depan.


"Ibarat sebuah kaca, ketika si kaca itu di lempar batu terus pecah bakal bisa kembali utuh?" Tanya Hanin.


"Bisa tinggal di lem aja." Jawab Algi.


"Iya gue tau emang bisa di lem tapi masih ada bekas pecahannya bahkan ada beberapa yang mungkin gak bisa di tutupin sempurna." Ucap Hanin.


"Itu yang gue sama Caca rasain saat lo dengan mudahnya jadiin Echa sebagai bahan taruhan." Sambung Hanin.


"Gue minta maaf.." ucap Algi sambil menghela nafasnya penuh penyesalan.


"Gue sama Caca udah maafin Lo dari sejak Caca kembali utuh sama orang lain, gue bakalan ucapin banyak banget makasih sama orang yang udah nyelametin Echa dari manusia brengsek kaya Lo." ujar Hanin kesal.


"Ca.. aku minta maaf." ucap Algi sambil menggenggam tangan Echa yang berada disebelahnya.


Echa hanya diam saja sejak tadi, sangat menyakitkan ketika harus kembali mengingat sesuatu yang menjadi trauma terbesar dalam hidupnya.


"Seperti yang Hanin bilang, Caca udah maafin Algi. Tapi gak bisa menjadi Caca yang Algi kenal dulu." ucap Echa sambil melepaskan genggaman tangan Algi dari tangannya.


"Itu kesalahan terbesar aku Ca, selama ini aku hidup dalam bayangan masa lalu aku. Aku mau kamu kembali lagi sama aku." ujar Algi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Caca udah maafin semua tentang Algi. Semuanya gi. Jadi tolong jangan lagi bilang minta maaf ke Caca. Itu sakit." ucap Echa sambil menatap mata Algi.


"Nyesel kan Lo." celetuk Hanin ketus.


"Iya gue nyesel Nin. Gue nyesel banget. Gue udah ninggalin cewek yang baik banget sama gue, dia selalu ngasih warna di kehidupan gue. Tapi dengan bodohnya gue jadiin dia bahan permainan." Ucap Algi sambil mengacak rambutnya frustasi.


Echa yang mendengar itu langsung meneteskan air matanya, Algi seperti hidup dalam bayangan masa lalu.


"Sampai saat ini belum ada cewek yang bisa gantiin Caca di kehidupan gue Nin. Gue udah berusaha buat lupain Caca tapi semuanya seolah percuma. Gak ada satu wanita yang kayak Caca." sambung Algi mengusap wajahnya kasar.


"Bukannya dulu Caca pernah bilang I Miss you sama gue? gue inget dan gue sadar sepenuhnya." ucap Algi.


"Itu cuman truth or dare Gi, gue yang nyuruh Caca buat telpon Lo." ujar Hanin.


FLASHBACK ON


"Gimana kalau main TOD?" Tanya Azka.


"Siapa takut." Jawab Ivy.


"Yang lain?" Tanya Azka.


"Ayo, daripada gak ada kerjaan." Jawab Gavin.


Azka mencari botol bekas minuman untuk di putar di atas meja.


"Mulai." Ucap Azka sambil memutarkan botol yang dia temukan di dalam kulkas.


Botol itu berputar kencang diatas meja dan botol itu berhenti tepat di depan Riana.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka sambil melihat ke arah Riana.


"Kejujuran." Jawab Riana mantap.


"Ada yang mau nanya?" Tanya Azka.


"Aku." Jawab Echa sambil tersenyum penuh arti.


"Pacar Ana siapa?" Tanya Echa.


Riana yang mendapat pertanyaan dari Echa langsung melotot kan matanya. Seolah ingin membunuh Echa saat itu juga.


"Lagi jomblo ya?" Tanya Azka karena Riana diam saja.


"Em-itu- engga." Jawab Riana sambil melirik kearah Gavin yang berada di sampingnya, Gavin hanya memasang wajah biasa-biasa saja seolah tidak ada masalah.


"Terus siapa?" Tanya Azka.

__ADS_1


"Kalau gak di jawab siap-siap ya di kasih warna item nih." Ucap Echa sambil mengarahkan arang yang berada di wadah.


Riana memghela nafasnya dalam-dalam, menguatkan hatinya.


"Kak Gavin." Jawab Riana sambil memejamkan matanya.


Bara, Nathan dan Azka langsung menatap Gavin yang terlihat santai-santai saja sejak tadi.


"Wakil ketua gercep banget." Ucap Azka.


"Gak nyangka secepat itu." Sambung Bara kaget.


"Mantep bos." Ujar Nathan sambil mengacungkan jempolnya.


"Lanjut." Ucap Azka sambil kembali memutarkan botol tersebut.


Botol itu berhenti tepat di hadapan Ivy.


"Lah ini botol kok kesini." Ucap Ivy kaget.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka to the point.


"Tantangan." Jawab Ivy.


"Ada yang mau ngasih tantangan?" Tanya Azka.


"Ana." Jawab Riana dengan senyum yang penuh arti.


"Teriakin nama orang yang dulu pernah Vivi suka." Ucap Riana sambil tersenyum.


"Kak Azka." Teriak Ivy tanpa rasa malu.


Semua orang yang mendengar teriak itu langsung tertawa sejadi-jadinya terutama Azka.


"Lah ko ketawa?" Tanya Ivy bingung.


"Gak apa-apa." Jawab Hanin, Echa dan Riana kompak.


"Eh tapi itu dulu, sekarang gak jadi sukanya." Ucap Ivy.


"Gak apa-apa, padahal suka aja." Ujar Azka sambil menaik turunkan alisnya.


"Vi, mendingan liat ponselnya, udah kayak asrama cewek jangan deh, nanti korban buaya." Ucap Nathan yang sudah reda dari tawanya.


"Kan Vivi bilang udah gak jadi sukanya." Ujar Ivy.


"Yaudah, lanjut." Ucap Azka sambil memutarkan kembali botolnya.


Botol itu berhenti dihadapan Nathan.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka.


"Tantangan." Jawab Nathan.


"Chat terahir di WA dari siapa, baca isinya." Ucap Azka.


Nathan langsung membuka ponselnya dan membaca pesan terahir di WA.


"Dari Rai, gimana jadi gak? Udah siap semuanya?" Ucap Nathan sambil membaca chat yang tertera di layar ponselnya.


"Ngajak?" Tanya Azka.


"Hm." Jawab Nathan.


"Rai siapa?" Tanya Hanin yang berada di samping Nathan.


"Tenang aja Nin, Rai cowok kok." Jawab Azka.


"Mau ngapain?" Tanya Hanin sambil menatap Nathan curiga.


Nathan yang ditatap seperti itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Azka untuk segera melanjutkan gamenya.


"Oke, lanjut game." Ucap Azka sambil memutarkan botolnya.


"Ini nih yang di tunggu-tunggu." Ucap Azka.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka.


"Tantangan." Jawab Bara.


"Oke, Baca chat terahir di WA dari siapa, baca isinya." Ucap Azka.


Bara mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Whatsapp.


"Dari Gea. Kakak inget aku? Aku yang sekelompok sama Caca. Aku suka sama Kakak, Kakak mau jadi pacar Gea?" Ucap Bara sambil membaca isi chat tersebut.


Echa yang mendengar namanya di sebut langsung mendekat ke arah Bara yang berada di sampingnya dan melihat poto profil yang bernama Gea itu.


"Siapa Ca?" Tanya Ivy.


"Gea." Jawab Echa singkat.


"Oh yang waktu itu sengaja pengen keruang osis?" Tanya Hanin.


"Iya." Jawab Echa singkat.


Bara yang melihat perubahan sikap Echa langsung meletakan ponselnya di atas meja.


"Lanjut game." Ucap Azka sambil memutarkan botol tersebut.


Dan botol tersebut berhenti tepat di hadapan Hanin.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka.


"Kejujuran." Jawab Hanin.


"Sebutin sifat Nathan yang gak Hanin suka." Ucap Azka.


"Kalau marah kasih jeda dikit.Cemburu gak tau tempat. Udah itu aja." Ujar Hanin.


"Oke lanjut game." Ucap Azka sambil memutarkan kembali botol tersebut di atas meja.


Botol tersebut berhenti tepat di hadapan Echa.


"Nah, ini nih yang Vivi tunggu dari tadi. Akhirnya kena juga." Ucap Ivy sambil tersenyum penuh arti.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka.


"Kejujuran." Jawab Echa.


"Vivi mau nanya." Ucap Ivy.


Echa hanya memutar bola matanya malas. Pasti yang Ivy ajukan bisa membuat hubungannya dengan Bara acak-acakan.


"Kata-kata yang masih terngiang di hati Echa yang pernah mantan ucapin." Ucap Ivy.


Echa langsung mencubit tangan Ivy yang berada di sebelahnya.


"Ini lumayan loh Ca 2 sampai 3 hari gak bakalan ilang." Ujar Hanin sambil membawa wadah yang berisi arang.


Echa langsung melihat kearah Bara yang menampilkan wajah biasa saja. Seolah tidak peduli dengan semua itu.


"Meski sudah tak bersama lagi kamu tetap embun penyejuk di hatiku, seberapa kuat kamu berlari aku tetap akan mengikuti mu." Ucap Echa.


"Segitu?" Tanya Hanin.


"Iya. Bukannya tadi cuman nanya itu aja kan?" Tanya Echa.


"Iya juga sih, Vivi salah nanyanya." Jawab Ivy.


"Oke lanjut game." Ucap Azka sambil memutarkan botol itu lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian botol tersebut berhenti tepat di hadapan Echa lagi.


"Kenapa harus Caca lagi sih." Gumam Echa.


"Tantangan atau kejujuran?" Tanya Azka.


"Tantangan." Jawab Echa.


"Hanin mau kasih tantangan." Ucap Hanin.


"Telpon mantan yang kata-katanya Caca sebutin tadi. Terus bilang I miss you, jangan di matiin sebelum 1 menit." Ucap Hanin sambil tersenyum penuh arti.


Echa langsung menatap ke arah Bara yang masih memasang wajah santai-santai saja.


Echa langsung mengeluarkan ponsel nya dan menelpon mantan yang kata-katanya masih terngiang-ngiang di hati Echa.


Di layar ponsel tertera nama Algi disana yang sedang Echa telpon.


Tak lama kemudian telpon itu diangkat oleh mantan Echa.


"Halo." Ucap Echa.


"Iya kenapa Ca?" Tanya Algi dengan suara serak seperti orang khas bangun tidur.


"Udah tidur ya? Caca tutup aja deh." Tanya Echa.


"Eh engga. Ada apa?" Tanya Algi.


"Tumben Caca telpon tengah malem kayak gini." Sambung Algi.


"Em-itu." Ucap Echa gugup karena dia sudah melihat perubahan sikap Bara.


"Apa?" Tanya Algi dengan suara lembut.


Echa langsung menatap kearah Hanin seolah sudahi saja semua ini. Namun Hanin tetap lah Hanin dia tidak bisa merubah keputusannya.


"Ca." Panggil Algi yang suaranya terdengar dari ponsel milik Echa.


"I miss you." Sahut Echa.


"I miss you too." Ucap Algi dengan suara lembut nya.


Tak lama kemudian Echa mematikan ponselnya karena waktunya sudah 1 menit.


FLASHBACK OFF


Echa kembali teringat tentang truth or dare yang pernah mereka buat, pada saat Riana masih menjadi teman baik. sebelum semuanya terbongkar bahwa Riana musuh dalam selimut.


Tapi kini Riana sudah meninggalkan dunia, harapan untuk bangkit lagi sangat kecil dan percuma saja jika memaksimalkan kekuatannya ditengah energi yang dia buat sendiri.


"Gue mau Caca kembali, memberi warna lagi dikehidupan gue." Ujar Algi sambil menatap mata Hanin yang sedang menahan amarahnya.


"Lo minta warna ke orang lain tapi Lo sendiri yang buat orang itu monokrom." Ucap Hanin.


"Kalo Lo minta Caca kembali itu hal yang mustahil. Caca udah jadi wanita yang layak untuk di hargai." Sambung Hanin sambil menggenggam tangan Echa untuk membawanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Algi sendirian.


"Argh!! Gue nyesel! Gue mau Lo kembali." Teriak Algi frustasi.


...----------------...


Setelah kejadian di taman tadi, kini Echa sedang berada di kamar, menatap layar ponsel yang sama sekali tidak ada notifikasi dari Bara.


"Caca pengen Kak Bara." ucap Echa.


"Kakak! telpon Caca kek atau apa gitu." sambung Echa yang kesal ketika bara tidak memberinya kabar.


"Pengen banget Kakak ada disini?" tanya Seseorang yang berada di ambang pintu melihat Echa yang duduk manis di atas ranjang sambil menatap ponselnya.


Echa langsung melihat kesumber suara itu, suara yang mampu membuat dirinya tenang dan aman.


"Kakak!" ucap Echa sambil turun dari ranjang untuk memeluk Bara lagi.


saat ini Echa ingin berada dalam genggaman Bara yang mampu membuat dirinya aman dari segala bahaya, baik itu hal mistis ataupun hal tentang manusia.


"Kenapa? tiba-tiba meluk lagi? ada masalah?" tanya Bara membalas pelukan Echa.


"Gak ada masalah, tapi Caca mau bilang sesuatu." jawab Echa.


"Bilang aja." ucap Bara sambil mengelus kepala Echa.


"Caca ketemu sama Algi." ujar Echa dengan suara yang pelan namun masih terdengar oleh Bara.


"Algi?" tanya Bara bingung.


"Mantan Caca." jawab Echa memeluk Bara erat.


"Dimana?" tanya Bara.


"Caca baru tau kalau Algi sepupunya kak Tiara. Tadi Caca ketemu dibawah." jawab Echa.


"Terus bilang apa aja?" tanya Bara yang masih memeluk Echa.


Echa menceritakan semuanya kepada Bara, tentang pertemuannya dengan Algi dirumah mutiara, penyesalan Algi dan Algi yang ingin Echa kembali mewarnai hidupnya yang kelabu.


Bara yang mendengar cerita itu hanya mengelus lembut kepala Echa sambil memeluknya, dia dapat merasakan ketakutan yang ada di dalam diri Echa.


"Kakak gak bakalan pergi lagi kan?" tanya Echa.


"Palingan pagi-pagi banget kakak harus kerumah Vero." jawab Bara.


"Kakak sendiri kesini?" tanya Echa.


"Sama yang lain, kecuali Vero sama Devan." jawab Bara.


"yang lain pada di bawah?" tanya Echa.


"Iya, mau kebawah?" tanya Bara yang masih memeluk Echa.


"Ayo." Ajak Echa antusias.


mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk menemui teman-teman yang lainnya dibawah.


"Kak." panggil Echa.


"Hm?" tanya Bara yang kini sedang melangkahkan kakinya sambil menggenggam tangan Echa.


"Caca mau ngisi acara kak Tiara." jawab Echa.


"Nyanyi?" tanya Bara.


"Iya." jawab Echa.


"Mau lagu apa?" tanya Bara.


"Caca bingung sama lagunya." jawab Echa.


"Terus gimana kalau bingung?" tanya Bara.


"Caca inget liriknya tapi gak tau judulnya." jawab Echa.


"Apa?" tanya Bara.


"yang ini kak, genggam tanganku erat sayang dan jangan pernah kau lepaskan." jawab Echa yang menyanyikan sepotong lirik dari lagu tersebut.


"Iya sayang, ini udah di genggam tangannya." ucap Bara sambil memperkuat genggaman tangannya pada Echa.


"Itu liriknya kak, Caca gak tau judulnya apa." ujar Echa kesal dengan jawaban Bara.


"Bahagia bersamamu." ucap Bara sambil tersenyum manis.


"Ah iya itu judulnya." ujar Echa.

__ADS_1


"Bahagia aku bersamamu, senang bila dekat denganmu." ucap Echa menyanyikan lirik lagu tersebut dengan suara yang sangat lembut.


Bara hanya tersenyum melihat tingkah Echa yang begitu menggemaskan. Entahlah dia tidak bisa terlalu lama jauh dengan wanitanya ini. Bara khawatir terjadi apa-apa.


__ADS_2