
Saat ini Echa dan Bara sedang berada di kamar yang di tempati oleh Echa. Dia dan teman-temannya sepakat untuk istirahat terlebih dahulu, karena jika di diskusikan sekarang akan terjadi bentrokan energi yang mungkin akan mengundang sosok mengerikan itu kembali menyalurkan apa yang menjadi kekuatannya.
"Ca" panggil Bara yang sedang membuka jasnya.
"Hm?" sahut Echa yang sedang berada di tempat tidur sambil melihat kearah Bara.
"Kalau nanti nikah mau mewah atau sederhana aja?" Tanya Bara melempar jas nya ke sofa.
"Kakak. Itu jas nya jangan dilempar-lempar kayak gitu, simpen yang bener." Ucap Echa ketika melihat Bara melempar jasnya.
Bara yang mendengar perkataan Echa itu langsung mengambil jas, menyimpannya ditempat gantungan baju. Bara melangkahkan kakinya kearah Echa yang sedang duduk ditempat tidur.
"Gimana? Mau sederhana atau mewah?" Tanya Bara yang merebahkan tubuhnya di tempat tidur menjadikan paha Echa sebagai bantalnya.
"Sederhana aja kak." Jawab Echa.
"Kenapa?" Tanya Bara sambil menatap mata Echa yang juga sedang menatap dirinya.
"Mending uangnya simpen, ditabung buat kedepannya, Caca tau pernikahan itu sekali seumur hidup tapi semakin kesini semakin kayak.. Daripada mewah sedangkan setelah pernikahan kita gak punya tabungan sama sekali, mau gimana kedepannya?" Tanya Echa
"Caca juga kan tau kalau kakak ada perusahaan warisan dari Oma, tapi Mama sama Papa bakalan kasih perusahaan itu ketika kakak udah berkeluarga. Jadi masalah uang itu udah tanggung jawab kakak." Jawab Bara menatap Echa yang sedang tersenyum kearahnya.
"Setelah pernikahan itu kita gak tau kan bakalan keluar tagihan berapa?" Tanya Echa sambil merapikan rambut Bara yang menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Itu masalah nanti." Jawab Bara.
"Itu masalahnya jangan di nanti-nanti, uang itu udah kayak oksigen buat kita di zaman sekarang." Ucap Echa.
"Ca.." ujar Bara menatap kearah Echa, jika Bara sudah memanggilnya seperti itu berarti dia tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Echa. Bara memang keras kepala, jika Echa tidak mengalah siapa yang akan mengalah? Mengenyampingkan ego adalah hal yang harus Echa lakukan sekarang.
"Yaudah gimana kakak aja, tapi nanti yang pegang uang Caca, kakak boros." ucap Echa.
"Iya.. Nanti kalau udah nikah punya anak enam seru kali ya Ca?" Tanya Bara sambil tersenyum manis kearah Echa.
"Enam matamu." Jawab Echa sambil menarik hidung mancung milik Bara, sedangkan Bara mengasuh kesakitan ketika Echa menarik hidungnya itu hingga memerah.
Tanpa mereka sadari ada seorang wanita berjubah hitam sedang menatap kearah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Benci, dendam, sakit hati, kecewa dan amarah menyatu dalam hatinya.
Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku tidak bahagia seperti mereka?Kenapa aku tidak seberuntung mereka? Kenapa dunia hanya berpihak pada mereka? Sedangkan padaku dunia seolah menolak kehadiranku? Kenapa keluargaku harus mengikuti ajaran seperti ini? Kenapa aku jadi seperti ini?
Wanita berjubah hitam itu terus bergulat dengan hatinya, membandingkan diri dengan kehidupan yang Echa alami.
Tidak! Aku harus membalaskan dendam. Aku akan meneror mereka sampai mereka menyesal dan menyadari bahwa akulah yang diinginkan dunia, aku yang diharapkan dunia.
__ADS_1
Wanita berjubah itu tersenyum sinis menatap kearah Echa dan Bara dengan mata yang berubah hitam sepenuhnya.
"Selamat bersenang-senang untuk saat ini dan Mutiara selamat untuk kegagalan dalam pernikahannya." Ucap wanita berjubah itu dengan tatapan sinis. Dia tidak mengetahui yang sebenarnya bahwa pernikahan Mutiara dan Alvero sudah diakui oleh agama dan negara.
"Tidur gih, istirahat." Ucap Bara sambil bangun dari pangkuan Echa.
"Kakak mau kemana?" Tanya Echa yang melihat Bara sedang melipat tangan kemejanya sampai sikut.
"Mau bantuin dibawah." Jawab Bara.
"Tadi kena pecahan kaca gak?" Tanya Echa menatap kearah Bara.
"Enggak." Jawab Bara.
"Yaudah hati-hati, nanti bangunin Caca kalau kelamaan." Ucap Echa yang sedang menyamankan tubuhnya agar bisa istirahat, tubuhnya masih agak sedikit panas, dadanya terasa pengap dan kepalanya pusing.
Energinya terlalu banyak terkuras habis karena menahan sosok yang dikirim untuk dirinya dan teman-temannya.
"Iya.." ucap Bara sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Echa.
Namun saat Echa ingin memejamkan matanya tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya.
Drt.. drt..drt..
"Halo Bu, kenapa?" Tanya Echa yang sudah mengangkat sambungan telponnya.
"Kamu gak apa-apa sayang?" Tanya Roslyn ketika telponnya sudah tersambung dengan Echa.
"Caca gak apa-apa Bu." Jawab Echa.
"Coba ceritain sama ibu apa yang kamu rasain tadi sama hal-hal yang gak masuk akal beberapa hari kebelakang." Ucap Roslyn dengan nada khawatir.
Echa yang mendengar perkataan itu langsung menceritakan semua tentang hal-hal ganjil yang menimpanya beberapa hari terakhir. Dia menceritakan tentang visual nya yang terasa seperti mimpi semua kejadian yang ada di visual itu Echa ceritakan kepada Roslyn secara rinci, tentang beberapa sosok yang sering masuk kedalam tubuh Echa dan Keyla dengan menyebut kata mati berulang kali bahkan Echa menceritakan tentang kejadian di pernikahan Mutiara dan Alvero.
"Gimana keadaan yang lain, baik-baik aja kan?" Tanya Roslyn khawatir.
"Baik-baik aja Bu," Jawab Echa.
"Kapan kamu masuk kampus?" Tanya Roslyn.
"Tanggal 10, kenapa Bu?" Tanya Echa penasaran.
"Ibu takut terjadi sesuatu sama kamu sama Bara terutama sama Aira," jawab Roslyn sambil menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
"Ibu tau sesuatu?" Tanya Echa penasaran.
"Ibu selalu mimpi hal-hal yang gak masuk akal, di dalam mimpi itu ada kamu, Bara, Aira, sama temen-teman kamu yang lain ada di dalam lingkaran api diatas kepala kalian ada lambang segitiga." Jawab Roslyn yang menceritakan keresahannya selama ini.
"Caca pernah mimpi lingkaran api terus ada segitiga sama ada kak Bara." Ucap Echa yang pernah bermimpi tentang lingkaran api saat sedang berada dirumah sakit.
"Itu kuncinya, Bara. Dan kamu adalah penyempurna Bara, ibu takut terjadi apa-apa sama Aira, karena Bara punya permata ditubuhnya jadi dia gak bisa celaka, sosok itu malah mengarah sama Aira, dia masih kecil udah punya kemampuan yang lebih buat umur segitu, tapi dia juga terlalu lemah buat ngehadepin semuanya. Akhir-akhir ini Aira demam, panas, menggigil itu karena sosok kiriman dari perempuan berjubah hitam." Jelas Roslyn.
"Apalagi ada Misha di rumah itu, dia pasti sering nangis pagi-pagi karena sosok kiriman itu selalu meninggalkan energi negatifnya di dalam rumah dan Misha pasti ngerasa ada aura jahat yang nyerang Aira." Sambung Roslyn.
"Iya Bu, Caca juga kemarin kerumah kak Bara, denger Misha pagi-pagi udah nangis, terus Caca gendong udah gak nangis lagi." Ucap Echa yang sejak tadi mendengar penjelasan dari Roslyn.
"Itu karena kamu sama Bara. Misha sama Aira bakalan ngerasa tenang dan aman ketika ada kamu sama Bara, itu kenapa ibu nyaranin kalian buat Nikah. Kalian bakalan saling melengkapi. Memang bangun rumah tangga itu harus siap materi dan mental, Ibu liat kamu sama Bara udah siap sama dua hal itu." Ujar Roslyn.
"Ibu gak bakalan nyaranin nikah kalau kalian gak siap dua hal itu. Ibu percaya sama Bara, dia gak bakalan bikin anak kesayangan ibu nangis. Ibu tau Bara dan ibu juga tau kamu." Sambung Roslyn sambil tersenyum dibalik sambungan telpon tersebut.
"Kenapa harus nikah Bu?" Tanya Echa penasaran, kenapa jalannya harus menikah? Apa tidak ada cara lain selain menikah? Echa hanya ingin tahu penjelasannya saja.
"Ketika kamu dan yang lainnya menikah maka api yang ada di lingkaran itu bakalan padam secara perlahan." Jawab Roslyn.
"Ibu kapan pulang?" Tanya Echa.
"2 sampai 3 hari, ibu bakalan pulang. Ibu denger kalau kamu sama yang lain bakalan beli rumah di perumahan indah asri?" Tanya Roslyn.
"Iya Bu, kayaknya besok mau liat kesana." Jawab Echa.
"Ibu transfer uangnya." Ucap Roslyn sambil mentransfer uang ke nomor rekening Echa.
"Makasih ibu yang cantik, baik hati dan tidak sombong." Jawab Echa saat melihat nominal yang diberikan oleh ibunya itu hampir 1M lebih.
"Iya, jaga diri baik-baik ya, kalau ada apa-apa cerita sama ibu. Kamu sama temen-temsn kamu harus hati-hati." Ucap Roslyn.
"Iya Bu."
"Bara kemana?" Tanya Roslyn saat tidak mendengar suara Bara. Biasanya anak itu akan menganggu Echa ketika sedang menelpon dengannya.
"Dibawah Bu, lagi bantuin kak Tiara sama kak Vero."
"Yaudah ibu tutup ya." Ucap Roslyn.
"Iya Bu, jangan lupa jaga kesehatan." Ujar Echa. Setelah mendengar perkataan Echa Roslyn langsung menutup sambungan telponnya.
Echa menghela nafasnya panjang ketika sudah terputus dengan sambungan telpon Roslyn, dia kembali memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
__ADS_1