
"Kak, minggir dulu," ucap Echa ketika Bara terus memeluk dirinya sejak bangun dari tidurnya.
ini sudah menunjukkan pukul 9 pagi, namun Bara masih menyandarkan kepala nya di bahu Echa sembari memeluk pinggangnya.
"Gak mau, kakak masih ngantuk," ucap Bara.
"Kaki Caca pegel, kak." balas Echa. Yang memang saat ini kakinya kesemutan.
Tanpa menjawab perkataan Echa, Bara langsung tidur di bantal. Echa tersenyum gemas melihat Bara yang mungkin akan merajuk padanya jika dia sama sekali tidak berbicara padanya.
"Apa Caca diemin aja kak Bara ya? Em, tapi nanti bakalan manja banget," batinnya ketika melihat Bara yang sedang memejamkan matanya, yang mungkin saat ini menunggu Echa membujuknya.
"Bodo amat ah, pengen lepas dulu dari kak Bara. Lagian, nanti juga bunda sama ibu bakalan kesini."
Setelah acara kemarin malam, Bara langsung membawa Echa ke rumah barunya yang baru saja dia beli sendiri, untuk di tinggali oleh keluarga kecilnya.
Echa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sembari mengikat rambutnya dan membawa handuk.
...----------------...
30 menit telah berlalu, Echa sudah selesai mandi nya dengan baju yang sudah melekat di tubuhnya.
Dia melihat Bara yang sedang berkutat dengan laptopnya. Echa mencoba menahan senyumannya dan melewati Bara begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Masak apa ya?" tanya Echa pada dirinya sendiri saat sudah berada di dapur.
Drttt .. Drrrtt..
Ponsel yang berada di saku celana bergetar menandakan ada yang menelponnya.
"Halo, bunda?" sapa Echa yang sudah mengangkat teleponnya.
"Ca, bunda kesana sekarang ya," ucap Bunda An. "Jangan masak, nanti bareng sama bunda, kamu tolong bilangin ke Bara suruh jemput Aira sama Qiara di sekolahnya."
"Sekarang Bun?" tanya Echa.
"Iya, pulang jam 10, udah dulu ya, bunda mau jemput ibu dulu," jawab bunda An sembari menutup teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Echa.
Echa menghela nafasnya panjang sembari melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
"Kak," panggil Echa sembari membuka pintu kamarnya dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah tubuh atletis serta perut sixpack nya Bara.
__ADS_1
Dengan cepat, Echa membalikkan tubuhnya sembari mengerjapkan mata berkali-kali dengan pipi yang memerah.
"Bunda suruh kakak buat jemput Aira sama Qiara sekarang. Bunda sama Ibu mau kesini," ucap Echa yang masih membalikkan tubuhnya tanpa melihat Bara yang sudah menggunakan kaos hitam.
"hm," gumam Bara.
Echa membalikkan tubuhnya menatap kearah Bara yang malah duduk santai dengan laptop di pangkuannya.
"Kak, mau gak?" tanya Echa sembari melangkahkan kaki kearah Bara.
"iya, nanti." jawab Bara.
"Caca gak ikut ya, nunggu bunda sama ibu," ucap Echa sembari mendudukkan dirinya di samping Bara. "Mau nasi goreng atau bubur ayam?"
"Apa aja," jawab Bara tanpa melihat kearah Echa yang terus menatapnya.
Echa tersenyum manis menatap wajah Bara yang sangat sempurna. Yang kini sudah menjadi tunangannya.
Namun, saat Echa ingin bertanya pada Bara, Tiba-tiba saja ponselnya berdering. menandakan ada yang menelponnya. Dan nama Reyhan tertera di layar ponselnya. Bahkan, Bara juga melirik kearah ponsel Echa.
"Halo, Ca."
"Iya, kenapa Rey?" tanya Echa ketika sudah mengangkat sambungan teleponnya.
"Kalau buat hari ini ya lumayan lah, kenapa emang?" tanya Echa sembari merasakan Bara sedang mendengar percakapan dirinya dengan Reyhan.
"Lagi mau bahas berumah tangga sama Lo, bisa gak?"
Echa tertawa pelan mendengar ucapan Reyhan. "Heh. serius."
"Canda ca, lagi mau revisi tugas-tugas kemarin katanya besok terakhir di kumpulinnya." jelas Reyhan yang memang Echa dengan dirinya selalu satu kelompok.
"Nanti aja malem kesini, yang lain juga malem mau ngumpul-ngumpul, nanti Caca share lokasinya."
"Oke, gue tutup dulu ya." ucap Reyhan sembari menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Echa.
Echa berdiri dari duduknya untuk mengisi perutnya. Melangkahkan kaki keluar dari kamar sedangkan Bara masih saja acuh.
"Kok perut Caca sakit ya? apa gara-gara belum di isi? tapi kenapa sakit gini?" tanya Echa pada dirinya sendiri ketika sudah sampai di dapur sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Setiap dia melangkahkan kaki perutnya terasa di cabik-cabik.
Echa mengambil beberapa bahan untuk memasak nasi goreng. meskipun dengan sedikit tertatih.
Namun, saat Echa sedang memotong bawang merah jarinya tergores pisau hingga mengeluarkan darah lumayan banyak. "Ini kenapa ya? kok perasaan Caca gak enak."
__ADS_1
Dan lagi, perutnya kembali sakit, di tambah lagi darah yang keluar dari jarinya tidak berhenti meskipun sudah di bersihkan.
Sekelebat bayangan hitam membuat jantung Echa berdegub kencang, terlihat sangat jelas oleh ekor matanya meskipun hanya sekilas tapi rasanya seperti bertemu dengan kematiannya sendiri.
Aura negatif dari sosok tersebut membuat Echa ketakutan di tambah lagi darah yang terus mengalir.
Echa kembali merasakan sakit, organ yang ada tubuhnya seolah di paksa keluar.
Echa jatuh terduduk sembari memegang perutnya dengan air mata yang menetes. "Tuhan... sakit banget."
"Kak Bara, tolong Caca," teriak Echa.
"Ca," panggil Bara dengan suara yang terdengar khawatir.
"Kak, tolong... Caca di dapur." sahut Echa yang masih meremas perut nya.
"Ca, kenapa bisa gini?" tanya Bara saat melihat kondisi Echa yang tidak sebaik tadi.
"Sakit..." ucap Echa sembari menatap mata Bara.
"Tunggu," Bara mengambil tisu yang berada di dekat wastafel untuk menutupi luka di jari tangan Echa.
Tak lama dari membalut luka di tangan Echa, Bara langsung menggendong tubuh Echa menuju sofa di ruang tamu.
"Kenapa bisa gini Ca? tadi baik-baik aja," ucap Bara sembari membaringkan tubuh Echa di sofa.
"Gak tau, tiba-tiba perut Caca sakit banget," jawab Echa yang memang tidak ada angin tidak ada hujan tubuhnya sangat sakit. paru-paru nya seolah di paksa untuk memompa lebih cepat dari biasanya.
Bara memegang perut Echa, Dia bingung harus berbuat apa. "Masih sakit?"
Rasanya kembali membaik ketika Bara mengelus perut Echa, Dia menatap heran kearah Bara. "Kenapa kalau kakak pegang jadi gak sakit?"
"Caca ngeliat apa tadi?" tanya Bara, dia sudah tahu betul jika Echa sakit tanpa alasan apapun itu artinya Echa mendapat gangguan hebat dari sosok yang sangat kuat.
Echa menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan sosok hitam lewat ekor matanya, namun wajahnya terlihat sangat jelas dengan mata merah menyala. Sungguh, itu adalah sosok yang paling seram sejauh ini.
"Cacaboleh minta tolong lagi?" tanya Echa sembari menatap sendu kearah Bara.
"Boleh, mau apa sayang?" tanya Bara dengan suara lembutnya.
"Temenin Caca disini ya, gak boleh kemana-mana. Perut Caca sakit kalau kakak lepasin tangannya." jawab Echa.
Bara menganggukkan kepalanya sembari mengelus perut Echa. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang. Dan tak lama kemudian orang tersebut mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Ma, Bara gak bisa jemput Qiara sama Aira, Caca jatuh di dapur." bohong Bara yang langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Bunda An.
Ucapan itu membuat Echa menatap tajam kearah Bara. "Caca gak ngajarin kakak buat bohong sama bunda."