
"Bodoh." ucap Hans kembali mengeluarkan kekuatannya.
BRUGH..
Lagi-lagi Bara terpental ke dinding, membuat punggungnya semakin sakit, rasa sakit tadi saja belum sembuh.
Hans mencekik leher Bara dengan tangan panjangnya itu, dia membuat Bara hampir kehabisan nafasnya.
"Ah sepertinya tidak asyik jika harus mati mendadak, bagaimana jika bermain-main dulu sebentar?" Tanya Hans kini membawa Bara kehadapannya.
"Le-pa-s!" ucap Bara yang mencoba untuk melepaskan tangan Hans dari lehernya.
Hans yang melihat Bara sudah kehabisan nafas itu langsung melepaskan cekikannya.
DUGH..
Bara terjatuh ke lantai ketika Hans melepaskan cekikannya tanpa aba-aba. Bara bahkan terbatuk-batuk ketika menghirup udara di ruangan berdebu ini.
"Berdiri bodoh. Apa ini laki-laki yang Echa pertahankan?Lemah." Ucap Hans sambil memaksa Bara untuk bangun.
"Ah ternyata dia hanya salah memilih lelaki untuk menjaganya." Sambung Hans ketika Bara mulai berdiri dan menatapnya tajam.
"Semoga ucapan mu tidak menjadi boomerang." Ucap Bara sambil memegang bahu Hans dan memutarkannya sambil mengunci tangan Hans.
"Argh!" Teriak Hans ketika Bara membuat tangannya hampir patah.
"Kau salah." ucap Bara kembali membuat tangan Hans seolah ingin dipatahkan.
Hans tidak tinggal diam, dia mengeluarkan kekuatannya, namun dia terlalu terang-terangan melakukannya sehingga Bara dapat melihat kekuatan yang akan diarahkan Hans pada jantungnya.
BURGH.. DUGH..
"Argh!" Teriak Hans ketika Bara mengarahkan kekuatannya kepada Hans sebelum dia terlebih dahulu melukai dirinya.
Bara melihat kening dan hidung Hans yang berdarah karena ulahnya, bagaimana tidak berdarah, wajah Hans sedang menghadap tembok ketika dia menggunakan kekuatannya, otomatis wajah Hans yang akan menghantam tembok.
Hans yang geram dengan ulah Bara itu langsung mengeluarkan kekuatan paling besar dalam tubuhnya, Bara yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan.
BRUGH.. PRANG..
Bara terpental kearah jendela, untung saja dirinya tidak sampai keluar, jika saja keluar semua orang pasti akan mengetahui ada perkelahian sengit di ruangan yang memiliki rumor angker.
NGINGGG...
Bara merasakan telinganya berdengung, hingga membuat pandangannya buram, dia jatuh tergeletak diatas lantai merasakan telinganya semakin berdengung keras, bahkan dia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Hans.
Bara melihat Hans yang berada di hadapanya, menatap dirinya sinis, sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
Hans langsung menginjak tangan Bara dengan kakinya.
__ADS_1
"Arghhhh!" Teriak Bara ketika pecahan kaca itu melukai tangannya yang diinjak oleh Hans.
"Akan ku hitung sampai 5, jika kau tidak bangun Echa akan menjadi milikku, dan aku akan membawanya saat ini juga." ucap Hans yang dapat Bara tangkap di tengah-tengah telinganya yang berdengung.
Bara menggelengkan kepalanya lemah, dia tidak bisa bangun, tubuhnya seolah kaku untuk diajak berdiri.
"1.." ucap Hans menekan injakan nya pada tangan Bara.
"2.." sambung Hans menambah pecahan kaca itu semakin melukai tangan Bara.
"3.." ujar Hans.
Bara tidak bisa mendengar dengan jelas, pandangannya mulai gelap, bahkan dia sudah tidak bisa merasakan tangannya yang terkena pecahan kaca.
"Kak Bara.."
Ucapan itu menggema di telinga Bara, itu Echa. Dia sedang memanggil namanya. Bara langsung membuka matanya dan melihat Hans yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Bangun bodoh! Apa kau ingin Echa di ambil oleh pria yang lebih bodoh darimu?!" Bentak Shila yang kini sudah ada dihadapan Bara.
Bara yang mendengar ucapan itu langsung bangun, melupakan rasa sakit di tubuhnya. Dia melihat kearah Shila dan tersenyum tipis, Shila mahluk pertama yang menyebut dirinya bodoh.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu, keluarkan kekuatanmu! Dia sudah lemah, sebelum dia kembali pulih lagi." ucap Shila yang geram dengan perilaku Bara.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap punggung Hans, dia mengeluarkan kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya.
Bara memejamkan matanya, membangkitkan kekuatan tersembunyi itu lagi, cahaya biru keluar dari tubuhnya, membuat Hans tiba-tiba saja memberhentikan langkahnya dan menatap kearah Bara dengan tatapan bingung.
"Kau manusia bodoh yang aku temui Hans!" ucap Shila.
Bara langsung membuka matanya dan berlari kearah Hans. Hans dapat melihat perubahan mata Bara, mata berwarna biru.
BRUGH..
Bara menghantam tubuh Hans mengenai dinding. Kekuatan Bara mampu membuat Hans mengeluarkan darah berwarna hitam dari mulutnya.
Dan untungnya darah berwarna hitam itu tidak mengenai Bara tapi malah mengenai Shila yang berada di samping Bara.
"Aaaaa! Menjijikan!" Teriak Shila ketika tubuhnya terkena semburan darah Hans.
"Dasar manusia bodoh! Brengsek! Kau tidak tahu aku sudah beberapa kali perawatan! Dan kau menghancurkan itu!" Teriak Shila geram.
"Pergi dari sini. Bersihkan tubuhmu, itu membuat mual." ucap Bara yang melihat kearah Shila tanpa melepaskan Hans yang sedang kesakitan karena kekuatan yang mampu membuat perutnya seperti di obrak-abrik.
"Kembalikan Aira pada tubuhnya." ucap Bara kini memperkuat cengkeramannya pada tubuh Hans
"Aku sudah mengembalikannya sejak tadi, tolong lepaskan aku. Ini sangat sakit." ujar Hans memohon pada Bara.
"Apa kau sudah membuat keluarga ku seperti ini?" Tanya Bara.
__ADS_1
"Bb-uukan." Jawab Hans terbata-bata.
"Siapa?" Tanya Bara yang masih belum memberi ampun kepada Hans.
"Ll-ep-as. Aa-ku ti-d-ak bb-isa bicara." Jawab Hans menahan rasa sakit pada tubuhnya karena kekuatan Bara.
Bara yang melihat Hans sudah hampir sekarat itu langsung melepaskan cengkeramannya dan memejamkan matanya.
BRUGH..
Hans jatuh terduduk di hadapan Bara, dia merasakan sakit yang sangat hebat pada tubuhnya.
Bara langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Hans, menatap tajam kearah lelaki yang menginginkan kekasihnya itu.
"Siapa?" Tanya Bara menatap kearah Hans.
"Aku tidak tahu siapa nama orang itu. Aku tidak diberitahu nama aslinya, tapi dia menyuruhku untuk menyebutnya tuan." Jawab Hans dengan tatapan serius.
"Kau sedang membohongiku?" Tanya Bara.
"Tidak. Aku serius. Yang aku tahu dia adalah seorang wanita dan sepertinya dia sangat dekat dengan kalian." Jawab Hans tanpa kebohongan.
"Dimana dia?" Tanya Bara.
"Aku tidak tahu." Jawab Hans berbohong.
"Kau mulai berbohong." Ucap Bara kini mengeluarkan kekuatan di telapak tangannya dan berdiri dari duduknya untuk menyerang Hans.
"Tolong jangan lakukan itu." ucap Hans sambil bersimpuh di kaki Bara memohon untuk tidak menyerangnya lagi.
"Dia.. dia ada di apartemen, aku tidak tahu nomor berapa tapi apartemen itu sangat gelap. Gelap sekali, jika kau melewatinya kau pasti akan mencium bau yang sangat aneh dan menyengat." sambung Hans, memberitahu bara dimana tempat orang misterius itu.
Bara yang memdengar itu hanya menghela nafasnya dan kembali menyimpan kekuatannya.
"Lindungi aku. Aku mohon.." ucap Hans sambil menatap mata Bara.
Bara dapat melihat Hans yang ketakutan, hal yang lumrah ketika memuja ilmu hitam dan orang itu membongkar identitas tuannya maka siksaan yang sangat kejam akan menghampiri mereka.
Bara mensejajarkan tubuhnya dengan Hans, melepaskan ilmu hitam yang sudah melekat dalam diri Hans.
"Jadilah laki-laki yang tidak menggunakan apapun untuk mengikat wanita." Ucap Bara yang sedang melepas ikatan ilmu hitam dalam tubuh Hans.
Hans hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan menahan rasa sakit ketika bara melepaskan ilmu hitam dalam tubuhnya.
Bara juga menyalurkan energi dalam tubuhnya kepada Hans agar tuannya itu tidak bisa mendekat pada Hans.
"Pikirkan baik-baik jika ingin kembali padanya, aku sudah membuat tubuhmu di takuti ilmu hitam." ucap Bara menatap kearah Hans.
"Aku janji tidak akan pernah melakukannya, itu terlalu sakit." ucap Hans.
__ADS_1
Bara yang melihat Hans sudah agak mendingan itu langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
"Segera pergi dari tempat ini." ucap Bara sebelum meninggalkan Hans sendirian di ruangan yang dipenuhi oleh mahluk tak kasat mata.