TEROR

TEROR
|71| PANAS


__ADS_3

Malam hari telah tiba ini waktunya Echa dan yang lainnya untuk membuat souvernir bagi para tamu yang sudah menyempatkan waktu datang ke pernikahannya. Mereka berada di ruang khusus untuk membuat souvernir.


Sedangkan keadaan Keyla sudah baik-baik saja tapi dia butuh istirahat. Kayla menemani kembarannya itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Undangannya gimana kak? Udah beres?" Tanya Echa.


"Udah, mungkin besok di kirimnya." Jawab Mutiara yang sedang mengisi kotak souvernir.


"Warna undangannya apa kak?" Tanya Hanin.


"Purple." Jawab Mutiara.


Drt.. drt.. drt..


Namun saat Echa ingin bertanya sesuatu tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya.


Echa langsung melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kang Marah, siapa lagi jika bukan Bara?


"Siapa Ca?" Tanya Shiren.


"Kak Bara." Jawab Echa sambil mengangkat telpon tersebut.


"Caca keluar dulu sebentar ya." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa kak?" Tanya Echa ketika sudah berada diluar ruangan.


"Dimana?" Tanya Bara yang sedang berada dibalik sambungan telpon.


"Caca lagi diruang souvernir." Jawab Echa.


"Hm." Gumam Bara ketika mendapat perkataan seperti itu.


"Kakak kesini?" Tanya Echa.


"Iya, bentar lagi." Jawab Bara sambil menghela nafasnya panjang.


"Sama siapa disana?" Tanya Bara.


"Sama Kak Tiara, Hanin, Vivi sama Shiren, udah segitu aja." Jawab Echa sambil tersenyum manis menanggapi beberapa orang yang tersenyum padanya.


"Kakak tutup telponnya." Ucap Bara sambil menutup telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Echa.


"Kebiasaan." Ujar Echa kembali masuk kedalam ruang Souvernir.


"Udah ca?" Tanya Ivy ketika melihat Echa duduk disamping Hanin.


"Udah." Jawab Echa kembali mengisi beberapa kotak souvernir.


Namun saat Echa sedang tenang mengisi kotak souvernir tiba-tiba saja tubuhnya merasa panas, seperti ada sesuatu yang ingin masuk kedalam tubuhnya namun tubuhnya menolak energi itu.


"Nin, kayaknya ada yang mau masuk ke Caca." Ucap Echa ketika tubuhnya sudah sangat panas.

__ADS_1


"Masukin aja Ca." Ujar Hanin yang memang sudah merasakan ada aura pekat sekaligus energi negatif di sekitarnya.


"Panas banget." Ucap Echa sambil menggenggam tangan Shiren yang berada disebelahnya.


"Pindahin aja ke shiren Ca, mungkin energi Caca abis karena yang tadi." Ujar Shiren kini menggenggam tangan Echa sambil memejamkan matanya. Dia ingin memindahkan sosok yang menempel ditubuh Echa.


"Kenapa gak bisa ya?" Tanya Shiren yang menerima penolakan dari sosok yang menempel ditubuh Echa.


"Gak apa-apa Ren ke Caca aja, kalau ditahan sama Caca gak enak." Jawab Echa yang kini sosok itu sudah masuk kedalam tubuh Echa.


"Permisi, selamat malam." Ucap Hanin ketika merasakan bahwa sosok itu sudah masuk kedalam tubuh Echa.


"Malam." Ujar Echa dengan suara khas laki-laki.


"Kenapa kamu ingin masuk kedalam tubuh wanita ini?" Tanya Ivy.


"Dia tenang, hatinya baik." Jawab sosok itu sambil memegang tepat berada di jantung Echa.


"Tapi kamu membuatnya panas." Ucap Shiren.


"Aku tidak pernah merasakan tenang." Ujar Echa sambil menatap kearah Hanin.


"Tidak, bukan itu tujuanmu." Ucap Hanin yang merasakan ada kebohongan.


Echa tertawa geram ketika mendapat perkataan seperti itu dari Hanin, perkataan itu memang benar. Sosok yang berada di dalam tubuh Echa hanya menginginkan Echa untuk membawanya pergi.


"Aku ingin anak ini." Ucap Echa dengan mata yang melotot mengerikan.


"Kamu yang menjaga anak-anak kecil?" Tanya Mutiara tiba-tiba.


"Cara menjagamu salah, itu membuat mereka takut." Ucap Shiren.


"Tidak! Caraku sudah benar." Ujar Echa geram.


"Biarkan mereka pergi, mereka tidak tahu apa-apa." Ucap Ivy sambil menggenggam tangan Echa untuk melihat seperti apa sosok itu dan bagaimana pembawaannya.


"Tidak! Kau akan mendapat akibatnya jika membawa mereka pergi!" Ucap Echa sambil menatap satu persatu yang ada disana dengan tatapan mengerikan.


"Berhenti untuk mengancam seperti itu, kami tidak takut." Ujar Hanin menatap tajam kearah sosok yang berada didalam tubuh Echa.


"Baiklah, aku akan melepaskan anak kecil itu tapi gantinya anak ini." Ucap Echa tersenyum mengerikan.


"Hanin.." ucap Echa lirih, dia merasakan sakit ditubuhnya ketika sosok besar itu banyak menguras energinya.


"Pindah ke tubuhku." ujar Shiren sambil menggenggam tangan Echa untuk memindahkan sosok yang membuat Echa kesakitan.


"Tidak! Aku tidak mau!" Bentak Echa sambil menepis tangan Shiren.


"Keluar dari tubuh ini." Ucap Hanin.


"Tidak! Aku akan membawanya." Ujar Echa.

__ADS_1


"Keluar." Ucap Hanin yang sedang mencoba untuk mengeluarkan sosok yang berada di dalam tubuh Echa.


"Hanin.. sakit." Ucap Echa sambil menangis ketika tubuhnya merasakan ditusuk ribuan pisau tajam.


"Tidak! Aku tidak ingin keluar." Ujar sosok yang berada didalam tubuh Echa.


"Sakit.." Ucap Echa lirih.


"Gak bisa keluar Ren." Ucap Hanin yang sudah berusaha untuk mengeluarkan sosok di dalam tubuh Echa, namun sosok itu terlalu kuat.


"Dia gak mau keluar jadi susah." Ujar Shiren yang juga membantu Hanin untuk mengeluarkan sosok dari tubuh Echa.


"Kalian butuh sesuatu?" Tanya Mutiara ketika melihat Echa kesakitan.


"Gak kak, sosok ini emang ngeyel gak mau keluar." Jawab Hanin.


"Ren.. sakit." Ucap Echa.


"Kita lagi coba keluarin." Ujar Shiren menenangkan Echa.


Echa sudah tidak kuat lagi ketika sosok itu semakin menjadi di dalam tubuhnya, energinya benar-benar terkuras habis.


Cklek.


Tiba-tiba saja Bara dan yang lainnya masuk kedalam ruangan tersebut melihat keadaan didalamnya tidak baik-baik saja.


"Caca kenapa?" Tanya Bara ketika melihat Echa meneteskan air matanya sambil menahan rasa sakit.


"Ada sosok yang masuk ke tubuh Caca tapi gak mau keluar." Jawab Hanin.


"Kak.. sakit." Ucap Echa sambil menggenggam tangan Bara erat ketika Bara sudah duduk disampingnya.


"Tenang dulu." Ujar Bara sambil memeluk Echa.


"Sakit kak.." ucap Echa lirih. Bara tidak menjawab perkataan Echa dia membuat penyerangan kepada sosok yang berada di dalam tubuh Echa menggunakan permata yang ada didalam tubuhnya.


Permata yang ada didalam tubuh Bara menghantam sosok yang ada didalam tubuh Echa, permata itu membuat sosok itu bagaikan ditusuk oleh belati panas yang baru saja keluar dari api.


"Panas!!" Bentak Echa sambil meronta dalam pelukan Bara. Namun Bara sama sekali tidak melepaskan pelukan itu dia masih menyerang sosok itu dengan permata miliknya.


"Kau sangat panas, pergi!" Bentak Echa.


"Kamu pergi sendiri atau aku yang akan membuatmu hancur?" Tanya Bara yang masih memeluk Echa.


"Kalian dalam bahaya, nyawa kalian dalam bahaya, ada sosok yang lebih jahat sedang mengintai kalian." Ucap Echa menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut.


Wosh..


Sosok itu sudah pergi dari tubuh Echa, sedangkan Echa masih memeluk Bara erat, tubuhnya sakit sekaligus panas secara bersamaan ketika sosok itu membagikan rasa sakit padanya.


"Masih sakit?" Tanya Bara sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Echa.

__ADS_1


"Udah enggak." Jawab Echa mencoba untuk mengatur nafasnya.


Bara yang melihat Echa masih kesakitan itu kembali memeluknya sambil mencium pucuk kepala Echa beberapa kali, membuat semua orang yang berada di ruangan hanya menyaksikannya.


__ADS_2